Aku larut dengan 2 lagu sendu dari Boy Sandi, Nyanyian Symponi dan Seso Malam Langgang. Di siang cerah hari ke 20 Ramadhan. Siang yang kucuba isi tanpa tidur setelah kemarin seharian hanya bisa tertidur di kasur tuaku karena migrain kambuhan datang menyerang. 3 hari menuju operasi mata di RS. Sardjito yang telah dijadwalkan oleh dr. Daruwati pada tanggal 2 September esok.

Beberapa hari ini banyak telpon dan sms yang kuabaikan. Entah kenapa, aku merasa butuh menyendiri. Tanpa mau diganggu oleh siapapun. Aku dirudung oleh kebinggungan sendiri. Binggung yang hadir sepulang bertemu dengan Buya Syafi’i Ma’arif malam minggu kemarin.

Bukan karena uraian Buya yang berbau historis-filosofis. Bukan pula syndrom bertemu dengan orang-orang hebat. Tapi ada bayangan kelabu akan masa depan yang menganggu pikiranku. Buya sudah “menjadi orang”. Telah menjadi tokoh yang tak hanya populer di Indonesia tapi juga di tingkat dunia. Tinggal menikmati hari tua di kota yang tenang -Jogjakarta- sembari terus berteriak mengkritik demi perbaikan bangsa.

Sementara, aku masih binggung dengan status sebagai pengangguran. Apalagi satu per satu announcement lowongan kerja pegawai negeri sipil luput menyertakan formasi filsafat. Akan kemana kubawa ijazah Filsafat yang telah kuperjuangkan selama 7,5 tahun? Kemana akan kujual nama UGM untuk mendapatkan pekerjaan demi melanjutkan hidup yang masih terkatung-katung?

Tadi malam kuhabiskan waktu di ruang TV. Mata tak mau terpejam. Setelah sholat shubuh di masjid asrama, baru aku terlelap. Jam 11-an menjelang Dzuhur, akupun terjaga. Langsung mengecek handphone yang sengaja ku-silent menjelang tidur. 3 panggilan tak terjawab dan 2 sms. 2 sms segera kubalas. 3 panggilan tak terjawab-pun kubuka. 2 nomor baru dan satu nomor dari PT. Pustaka Insan Madani. Segera kutelpon balik.

“Assalamu’alaikum. Mat Siang Mbak. Maaf, tadi nelpon ke handphone saya?”… “Oh, iya mas. Saya HRD PT. Pustaka Insan Madani. Mas lulus psikotest hari Jum’at kemarin. Jadi kami mengundang Mas Anggun untuk menghadiri wawancara dengan pimpinan perusahaan kami hari Rabu besok jam 09.30.”.

Alhamdulillah… Ternyata aku berhasil melewati psikotest yang selama menjadi sandungan terbesarku ketika menghadapi tes-tes kerja. Sungguh besar harapku bisa melewati tes wawancara dan diterima kerja di Insan Madani. Aku dah niat ingin membangun karier di Jogja saja.

Seperti Buya Syafi’i yang memulai petualangan hidupnya di Jogja, aku juga ingin membangun dunia intelektual, membangun keluarga, dan kalau bisa menghabiskan hari tua di Jogja. Kota kecil ini rasanya lebih cocok bagiku dibandingkan Jakarta. Aku terlanjur jatuh cinta dengan kota bersejarah ini.

Rabu 1 September 2010 akan menjadi hari yang menentukan banyak hal dalam hidupku. Selain tes wawancara kerja, masih ada 2 momen penting yang akan kuhadapi. Masuk rumah sakit untuk persiapan operasi mata di RS. Sardjito dan mendengarkan keputusan kelanjutan ta’aruf-ku dengan E***.

Operasi katarak traumatis yang telah kuderita sejak kelas 2 SMP, efek jatuh dari pohon setinggi 2,5 meter. Tradegi yang membuatku harus melewati hari-hari sampai detik ini  hanya mengandalkan satu mata saja. Tapi aku bersyukur, bisa melewati hari-hari sulit itu dengan baik sampai akhirnya menyelesaikan kuliah di UGM. Berhasil meraih beberapa trofi kejuaraan sepakbola meski dengan keterbatasan penglihatan. Meski secara berkala harus bertarung melawan sakit migrain. Walau harus terkendala di bidang matematis dan logis karena trauma di kepala sebelah kiri.

Jawaban dari  E*** yang menentukan perjalanan cintaku. Teramat besar aku berharap E***-lah labuhan terakhir asmaraku. Karena pesona-nya telah memenuhi hatiku. Sulit kuredam gejolak  jiwa. Aku ingin bersamanya. Memperjuangkan cinta masa kecil menjadi rangkaian indah dalam maglihai kasih suci pernikahan.

Ya Allah… Semua keputusan kuserahkan padaMu. Takdirku ada dalam gengamanMu. Aku hanya bisa berikhtiar, setelah itu semua ada di tangan Engkau. Ku mohon, berikanlah jalan yang terbaik atas semua ini ya Allah… Amien…