Terus terang sulit aku memulai mengetikkan kata-kata. Entah sakit apa yang mendera, akupun tak tahu. Tapi kucuba juga paksakan untuk menuliskan cerita biar tak hilang dibawa waktu. Bisa kubuka lagi ketika suatu saat nanti…

Pulang dari Masjid asrama selepas sholat Magrib, Andri teman asrama yang bersebelahan kamar bilang tadi ada telpon dari Uda Arnen (alumni asrama yang sekarang ngajar di Fakultas Geografi UGM). Aku diminta nelpon balik. Memakai telpon asrama karena pulsa di handphone sekarat, kuhubungi Da Arnen. “Gun, Magrib ini uda mau ke rumah Buya Syafi’i. Mau ikutan ngak?” Ditawari kesempatan berharga itu, tentu saja aku tak menolak. Dua kali jadwal ceramah Buya di Masjid Kampus yang teramat kutunggu-tunggu, harus berakhir kecewa. Nah, sekarang kesempatan bertemu Buya secara dekat di depan mata. Segera saja, kukenakan baju koko kesayanganku dan ajak Anton, salah seorang adik asrama yang kuliah di Teknik Mesin UGM.

Parkir di sebelah kanan masjid dekat rumah Buya, kamipun segera mengambil wudhu. Imam-pun telah mengucapkan salam. Da Arnen jadi imam dengan 3 makmum (Aku, Anton, dan Pak Sahid dokter bedah RS. Sardjito yang merupakan anak bapak Husein – salah seorang petinggi ketika Indonesia berstatus RIS-).

Selesai sholat, aku langsung bersalaman dengan seorang Bapak yang sudah sepuh. Da Arnen bilang, “Itu Pak Romli lho Gun.” Sontak saja aku terkejut. Karena niatku bersalaman hanya sebagai tanda hormat saja. Eh, ternyata yang kusalami adalah orang hebat, orang nomor satu di Kedaulatan Rakyat, koran bersejarah dan terpopuler di DIY-Jateng.

Mataku melirik ke kiri dan kanan. Mana gerangan Buya. Eh ternyata persis di depanku. Sosok kharismatik sekaligus sederhana itu kemudian bersalaman dengan Da Arnen. Karena di masjid ada pengajian, maka sholat tarawihpun dimajukan. Akupun sebaris di shaf pertama bersama Buya dengan hanya diselingi Da Arnen yang persis berdiri di samping Buya.

Barulah setelah Tarawih selesai, obrolan dimulai di selasar masjid. “Syahrir sampai akhirnya hayatnya tak pernah sholat. Soedjatmoko tak pernah meninggalkan sholat di hari tuanya.” Begitu kata Buya mengawali pembicaraan. Aku yakin ungkapan pembuka bukan tanpa maksud.

Pikiranku melayang mengingat tuduhan-tuduhan miring dari beberapa kelompok Islam yang mengatakan Buya sebagai tokoh sekuler. Tapi melihat semangat Buya mengikuti sholat jama’ah di masjid dekat rumahnya, aku yakin tuduhan itu hanya didasarkan pandangan jauh tanpa melihat keseharian Buya.

Tema-tema demokrasi, politik dan kebudayaan beliau sampaikan kepada kami. Masih dengan gaya retorika khas Buya. Masih terasa semangat meskipun tubuh sepuh beliau memperlihatkan raut kelelahan. Sampai pada uraian sejarah sekitar 1945-1960-an. Ingatan beliau masih kuat. Dari tanggal, bulan, sampai tahun peristiwa-peristiwa penting saat masa mempertahankan kemerdekaan itu.

Buya tampak begitu akrab dengan warga sekitar. Setiap orang menyapa beliau tanpa sekat. Bahkan istri beliau juga tampak berbaur dengan ibuk-ibuk yang lain.

Aku kehabisan kata mengungkapkan kesederhaan Buya. Kesahajaan yang memang lahir dari sebuah idealisme dan aplikasi dari apa yang beliau ucapkan-tuliskan. Potret cendikiawan organik yang hadir bergaul langsung dengan masyarakat.

Aku teramat beruntung bisa bertemu langung dengan Buya hari ini. Pengalaman yang takkan mungkin kulupakan. Pertemuan yang jauh mengalahkan pertemuan-pertemuan romantis malam minggu ala para ABG.

Ya Allah, terima kasih atas momen-momen spesial yang Engkau karuniakan kepadaku di bulan Ramadhan ini. Mulai dari pertemuan dengan Dokter Daruwati di Poliklinik Mata RS. Sardjito. Hingga aku bisa berkenalan dengan banyak dokter mata dan dokter muda karena harus bolak-balik untuk persiapan operasi mata yang insya Allah dilaksanakan tanggal 2 September besok. Dari clash dengan pemuda-pemudi kampung karena anak-anak asrama acuh tak acuh terhadap kegiatan Ramadhan di masjid, menuju rekonsiliasi menyejukkan karena lewat bujukanku anak-anak asrama mau terlibat dengan kegiatan masjid. Dari pengalaman pertama ngajar ngaji  di masjid, hingga aku bisa dekat dengan anak-anak TPA yang imut-imut. Bahkan di antara mereka sudah mulai dekat dan pasti pingin bercanda kalau ngelihatku. Membantu menyelesaikan editan disertasi pak Iwan, hingga tawaran membikin buku untuk program hibah dikti. Dan kemarin, akupun bisa ikut tes kerja lagi di sebuah penerbit terkenal di Jogja.

Hari-hari ini, di tengah kesibukkan, tak bisa aku lepas dari rasa rindu padamu. Betapa aku harap-harap cemas menanti jawabanmu awal september nanti. Jawaban yang aku merubah langkah masa depanku.

Aku sudah menyerahkan semua pada Allah. Entah apapun jawaban yang akan engkau berikan aku akan menerima dengan keikhlasan. Aku akan siap dengan segala kemungkinan. Namun, suara hati ini berharap engkaulah yang terakhir. Dalam do’a sunyi, akupun meminta pada Allah, semoga engkau menjadi bidadari hati ini.

Biarlah waktu yang akan menjawab semua. Aku akan sabar menunggu 3 hari berselimut pengharapan ini…

Mat malam “cinta”. Kala malam beranjak larut, kuiringkan salam untukmu ditemani alunan “Seso Malam Langgang”-nya Boy Sandi… “Mat tidur Sayang…..”