Nuansa Cinta Ketika Hujan Tak Kunjung Reda


“Seandainya kau ada di sini… Hilang semua rindu di dada…” (Seandainya – By: Stinky)

Alunan lagu jadul yang telah kuhafalkan sejak SMP itu mengalun lembut memenuhi kamar sepiku. Lewat speaker yang barusan kupinjam dari “Bang Afit“, adik asrama yang kemarin mudik pulang kampung. Beriringan dengan tetesan hujan dari awan mendung yang menutupi langit Jogja.

Aku ingin rehat sejenak, setelah sejak tadi pagi berkutat dengan editan disertasi pak Iwan. Sudah 40 halaman yang kuselesaikan. Masih menunggu 60 halaman lagi untuk dirampungkan sebelum jam 9 pagi esok. Berkejaran dengan waktu, karena jadwal sidang Promosi Doktor Pak Iwan tinggal 6 hari lagi, tepatnya tanggal 30 Agustus 2010.

Tadi, ketika berkunjung sebentar di blog Qusthan, teman sesama alumni Filsafat UGM, ada sadar yang menyentakkan pikiranku. Berkaca akan diri yang terlalu larut dalam romantisme dan tulisan-tulisan picisan. Terlalu ekspresif dengan perasaan. Hingga tak banyak artikel-artikel berat yang bisa kubuat sebagaimana yang dikerjakan oleh Qusthan. Sejak wisuda, praktis tidak ada tulisan filosofis yang kubuat. Hanya curhatan-curhatan hati yang memenuhi halaman demi halaman, agar blog ini tak menjadi sunyi.

Kesadaran, tapi bukan penyesalan. Meski kecewa dengan rendahnya pencapaian intelektualku, tapi aku tidak kecewa dengan roman-roman picisan yang kutuliskan. Karena sungguh semua yang pernah kuceritakan, hadir dari hati. Luahan perasaan yang mengalir secara alami. Lebih mengambarkan aspek manusiawi-ku, yang tak lepas dari rasa gembira, sedih, tawa, tangis, keluh, syukur, dan gelisah.

Hujan semakin deras. Sore-pun menjadi kelam… Barusan aku kembali dari Masjid ntuk tunaikan sholat Ashar. Kucuba lagi merangkai kata nan tadi sempat terhenti demi memenuhi panggilan-Nya.

Aku jadi teringat pada Buya Hamka. Ketika olok-olokan “Ulama Picisan” disebut-sebut orang untuk melunturkan kharismanya, beliau tak sedikitpun bergeming ataupun tersinggung. Dengan jujur Buya mengungkapkan, roman-roman percintaan yang beliau karang adalah karya yang lahir dari luahan jiwa. Gubahan berbalut pesan-pesan kemanusiaan bagi siapa yang mau memahami dengan hati.

Dingin mulai merasuk. Bawa anganku jauh ke kotamu. Seperti dingin yang mulai membalut tubuhku,  rasa rindupun mulai hadir dalam hatiku. Rindu yang lahir dari rasa cinta tak terungkapkan lewat kata. Rindu yang pelan-pelan mulai menembus alam bawahku.

Kala beranjak ke peraduan, entah kenapa lisan ini selalu tergerak mengucapkan namamu. Bagaikan hujan nan basahi bumi, begitu juga aliran namamu memenuhi relung-relung sanubariku.

Sayang, entah bagaimana aku harus mengatakan cinta ini. Mudah-mudahan rasa ini akan berkekalan setelah engkau memberikan “jawaban pasti”. Dalam kelindan rindu, ingin kusampaikan sebait syair untukmu. Syair rindu yang terangkai dalam sebuah lagu

Tidur malamku tak lena… Asyik teringat padamu… Bilakah mentari memancarkan cahaya… Hanyalah dirimu bermain di ingatan… Oh tuhan kurindu padamu…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s