Hari ini adalah rekor bangun pagiku selama Ramadhan, jam delapan kurang lima menit. Itupun karena diawali sahur jam satu malam. Penyakit begadang yang menimpaku sejak rapat bulanan yang panas Sabtu minggu lalu, sulit kuredam hingga malam tadi. Jadilah jam tidur siang bertambah tanpa terkendali.

Kucuba nikmati “Aku Cinta Padamu” Kak Siti Nurhaliza lewat jet audio. Paling tidak aku bisa menstabilkan pikiran yang dilanda resah tak menentu. Menenangkan pikiran sebelum memulai mengedit 200-an halaman disertasi pak Iwan yang baru bisa kuselesaikan 19 halaman dari target 50 halaman.

Sebenarnya pak Iwan minta diedit semuanya, tapi terus terang kesulitan memahami alur tulisan, pengulangan kata dalam satu kalimat, ditambah lagi banyak rangkaian kalimat yang ngak nyambung, membuatku tersendat-sendat. Entah mau menyalahkan disertasi-nya atau mempersoalkan kemampuan ilmiahku? Maklumlah, baru sarjana S1 sudah diminta mengedit disertasi. Tentu ngak level. Apalagi pengalamanku baru sebatas membuat skripsi dan belajar menulis lewat forum blog Kompasiana. Ya, mudah-mudahan menjelang jam 4 sore nanti, aku sudah bisa merampungkan 50 halaman sebelum diserahkan sama pak Iwan. Mungkin kuselingi dengan ucapan maaf, karena kerja tak maksimal.

Kemarin sore, dengan mengajak adik-adik asrama, kucuba mengajar anak-anak TPA di masjid asrama. Paling tidak bisa memperbaiki hubungan antara pemuda kampung yang selama ini jengkel dengan anak asrama yang acuh tak acuh terhadap kegiatan masjid. Meski harus tertatih-tatih menghandle keriuhan anak-anak TPS yang memang suka ribut, tapi pengalaman kemarin cukup menyenangkan. Cuma sayang, karena harus bertemu pak Iwan, mungkin aku harus libur mengajar TPA sore ini.

Dilematis… Namun mau gimana lagi? Akupun harus punya skala prioritas tanggung-jawab. Mungkin kutitipkan saja amanah mengajar TPA sama adik-adik asrama. Dan mudah-mudahan saja mereka bisa memanage kelas dengan baik… Amien.

Jum’at yang lalu, dengan menebalkan muka di hadapan jama’ah yang sedang mendengarkan ceramah rutin mingguan di masjid asrama, kuputuskan untuk menghadiri undangan buka bersama adik-adik IMM. Kangen setelah berbulan-bulan tak menikmati acara bersama ala IMM menjadi alasan utamaku. Apalagi disertai acara perpisahan Mbak Qolbi, yang akan balik ke Sorong. Banyak cerita yang kudengar, meski hanya dalam durasi singkat Magrib menuju Isya. Terutama dari Mbak Qolbi yang baru beberapa minggu ini balik dari Bali, mengikuti PIMNAS. Tak tanggung-tanggung, medali emas beliau raih lewat penelitian candi baru yang beberapa waktu lalu ditemukan di komplek kampus UII Kaliurang. Ada kisah sholat Shubuh yang kecepetan karena ngak ada mendengar adzan, sampai aksi saling cemooh antara anak-anak UGM dengan mahasiswa-mahasiswi Unibraw yang beberapa tahun ini memang saling siku-sikutan menjadi juara umum.

Aku merasa beruntung pernah berkenalan dengan teman-teman hebat seperti Mbak Qolbi. Merasa beruntung bisa dekat dengan orang-orang hebat selama di Jogja. Entah itu tokoh-tokoh nasional, para ulama, dosen-dosen hebat, teman-teman kampus, ataupun teman-teman satu organisasi. Padahal aku bukanlah siapa-siapa. Anak muda labil yang sibuk dengan pikirannya sendiri. Yang lebih banyak  menghabiskan waktu di depan komputer lewat curhat-curhat picisan. Yang kemarin malam disindir oleh Wanda, teman satu angkatan di asrama, dengan ucapan, “Blogger yang suka curhat = ABG labil.”

Pagi ini aku semakin resah. Resah mengingat dia, yang di Jakarta. Yang tadi malam ikut acara buka bersama dengan teman-teman SMA. Meski sudah kutitipkan salam kepadanya lewat teman, tapi tetap saja gelisah tak mau hilang. Ingin sms, tapi takut mengingkari janji. Entahlah… Aku benar-benar rindu padanya. Rasa kangen nan menyesakkan dada…

Sudahlah dulu ya. Sudah mau jam sembilan. Kalau tetap binggung seperti ini, bisa-bisa tugas editanku ngak selesai. Kuakhiri saja postingan ini dengan mengucapkan terima kasih kepada pengunjung yang masih bersedia membaca curhatanku… Mat berpuasa aja ya…:)