Masih terdengar rintik-rintik hujan. Beriringan dengan tiupan angin malam nan dinginkan tubuh ini. Pikiranku masih kalut. Entah kenapa, aku juga tak tahu. Hari ini ada-ada saja kejadian yang membuatku termenung lama. Tersadar akan usia, tersentak akan waktu yang disia-siakan selama ini.

Tadi sebelum pak Anggito Abimanyu memberikan ceramah Ramadhan di Masjid Kampus UGM, takmir mengadakan sayembara berhadiah Al Qur’an dan baju muslim. Wakaf dari seorang mahasiswa yang beberapa saat lagi akan menempuh ujian skripsi. Berharap dengan sumbangan itu, ia bisa lancar melalui ujian yang menentukan masa depannya itu. Tak sekedar sayembara biasa, syarat-syarat unik-pun disampaikan takmir masjid.

“Yang berhak menerima Al Qur’an ini adalah yang belum memiliki Al Qur’an, tidak punya Al Qur’an terjemahan, ustadz TPA, sedang menghafal Al Qur’an, dan bersedia membaca Al Qur’an hadiah ini setiap hari.”

Deretan syarat yang sebenarnya tak seimbang dengan hadiah yang diberikan. Belum lagi pertanyaan yang mesti dijawab oleh kandidat penerima hadiah. Benar-benar ribet pikirku dalam hati. Herannya, ketika takmir menyampaikan pertanyaan beberapa orang sangat antusias mengangkat tangan. 2 penjawab awal gagal menjawab pertanyaan dengan benar. Dari shaf belakang, tampak seorang pemuda berjaket dengan dalaman batik mengacungkan tangan sambil memegang Al Qur’an. Jawabannya tepat, karena memang sudah mencari ayat yang ditanyakan oleh takmir. Bergerak ke depan untuk menerima hadiah, Mas Agus, nama pemuda itu, meminta kesempatan untuk mengucapkan sepatah kata.

“Saya gembira menerima hadiah ini. Saya adalah seorang ustadz TPA. Saat ini saya telah menghafalkan 17 juz Al Qur’an. Mudah-mudahan lewat Al Qur’an ini saya bisa merampungkan hafalan sampai 30 juz. Mohon jam’ah mendo’akan saya.”

Aku tercenung ketika mendengar “hafal 17 juz”. Hatiku bergumam, sungguh luar biasa pemuda ini. Sungguh teramat sayang Allah, hingga memenuhi hatinya dengan Al Qur’an. Mutiara kehidupan yang akan membawa orang-orang yang mencintai meraih kebahagiaan dunia-akhirat.

Tak dapat dibandingkan dengan keadaan diriku. Satu juz-pun belum mampu kuhafal. Belum lagi jeratan dunia dan nafsu masih membelenggu hari-hariku. Banyak waktu terbuang sia-sia. Lebih sering bermuram durja daripada membaca Al Qur’an.

Sesaat kemudian, akupun telah larut dengan ceramah pak Anggito Abimanyu. Hampir setengah jam beliau berdiri di atas mimbar. Namun, satu hal yang menarik perhatianku. Ketika pak Anggito memaparkan perbandingan dana yang dikelola oleh Bank Syariah dan Bank Konvensional.

“Saat ini perbankan syariah di Indonesia telah mengelola asset umat sekitar 85 triliyun. Nominal yang cukup besar. Tapi apabila kita bandingkan dengan dana yang dikelola oleh bank konvensional, tidak ada apa-apanya. Jumlah dana yang dikelola oleh Bank BUMN dan Bank Swasta konvensional saat ini mencapai 2000 triliyun. Sebuah kenyataan yang ironis.”

Beberapa saat yang lalu, Pak Iwan menelpon kembali setelah tadi buka bareng di Rumah Makan Palanta Pogung. Tak ku kira, ternyata beliau sudah ready di depan laptop melanjutkan editan disertasi. Semangat membara yang mengagumkan dari “dosen tua”. Tanpa kenal lelah membaca-menulis-membaca-menulis, demi gelar DOKTOR menjelang pensiun. Bergaul dengan beliau membuatku belajar banyak hal. Tak ada kata terlambat. Semua masih dikejar selama nafas masih mengalir di badan. Berbicara dengan beliau membuatku mulai memahami maksud kata-kata “ambigu” yang banyak kutemui dalam disertasi beliau. Hadirkan semangat melanjutkan editan yang masih ada 150 halaman lagi.

Rintik-rintik hujan masih temani malamku. Kucuba bawa angan jauh terbang bersama suara sendu Kak Siti Nurhaliza. Sambil memandangi foto-mu seraya berharap, pergi juga kegelisahan nan mendera hati. Entah kenapa, aku semakin rindu padamu. Tapi di sisi lain, aku masih gelisah dengan jawaban yang akan engkau berikan, tanggal 1 September esok. Takut menerima kenyataan pahit, dan harap dengan berita baik. Berkelindan menjadi satu dalam pikiranku. Hanya do’a yang bisa kupanjatkan. Karena aku hanya bisa berserah diri kepada-Nya. Aku telah pasrah dengan segala kemungkinan yang terjadi. Meski aku berharap, akan ada indah di hari itu… Amien Ya Allah…

Iklan