Kukira, sudah menjadi senior di asrama ini bisa membuatku terbebas dari beban-beban sosial yang dari dulu menyita pikiran. Mulai dari ulah anak asrama putri yang kadang susah dimengerti, masalah klasik regenerasi yang tak kunjung selesai, tumpukkan masalah Masjid yang bersinggungan dengan warga kampung, sampai hegemoni senioritas yang tak bisa dihilangkan.

Kupikir bisa acuh dengan semua itu. Konsentrasi dengan masa depanku yang juga masih terbengkalai. Bagaimana mungkin memikirkan orang lain, sementara aku berkutat dengan status pengangguran? Diriku lebih butuh kuperhatikan daripada terlibat dalam masalah-masalah klasik yang kadang berawal dari masalah-masalah ringan.

Tapi ternyata, aku tak bisa egois. Telah kucuba lari dan menghindar. Namun, semua kejadian itu terpampang jelas di depan mukaku. Kalaupun aku luput mengamati, pasti ada saja yang bersedia memberitahukan kepadaku.

Barusan aku pulang dari rumah Da Arnen, alumni asrama tahun 1977 yang sekarang sudah berkarier sebagai Dosen di Fakultas Geografi UGM. Niatku hanya mengembalikan buku pesanan pak Nusyirwan yang selesai dipinjam. Habis itu bisa segera pulang untuk mengurus SKCK yang kutitipkan pada Irfan, teman satu angkatan di asrama. Bisa juga segera melanjutkan tahsin yang terhenti di juz 9.

Namun, langkahku tertahan di rumah da Arnen. Kupikir masih melanjutkan cerita 2 hari yang lalu, saat aku meminjam buku. Ternyata, yang kuhadapi adalah ungkapan kegelisahan da Arnen terhadap situasi Masjid Asrama. Banyak problem, tapi yang benar-benar membuatku termanggu, adalah semakin massifnya kegelisahan orang kampung atas sikap anak asrama yang acuh tak acuh dengan kegiatan Masjid.

Sebenarnya, kecendrungan mahasiswa malas ke Masjid sudah menjadi fenomena biasa. Nongkrong di cafe atau di kos-an cewek lebih enak daripada ngurusin Masjid yang ngak ada daya tarik sama sekali. Tapi sikap tak mau peduli anak asrama ini terkesan kontraproduktif dengan status Masjid yang masuk menjadi bagian tak terpisahkan dari asrama dan status sebagai orang Minang yang dianggap tahu dengan agama.

Situasi yang berat. Ketika warga kampung meminta peran lebih dari anak-anak asrama, di sisi lain kondisi asrama mengalami masa kritis. Bagaimana menuntut anak asrama mengajar TPA, jika yang fasih membaca Al Qur’an hanya 5-7 orang saja? Bagaimana mau adzan, jika suara biasa-biasa saja? Semakin pelik, ketika ego orang Minang yang tak mau mengerjakan yang remeh-temeh (menggelar tikar, menyiapkan hidangan puasa, dan menyapu Masjid), turut dikedepankan. Tapi anehnya, untuk soal makan tak pernah ketinggalan. “Kerja tak mau, tapi makan nomor satu”, begitu ledek orang kampung. Sindiran yang menyakitkan jika masih memiliki rasa.

Tanggung jawab memperbaiki ini berada di pundakku sebagai senior. Mungkin hanya bisa mengajak anak-anak asrama yang sepaham dan mengerti apa arti “Dima bumi dipijak di sinan langik dijunjuang”. Golongan minoritas di asrama, di tengah cengkraman dominasi kekuatan “hedonis dan apatis”. Meski asrama tampak adem-ayem, tapi sesungguhnya terjadi pertarungan keras ideologis.

Ah.. Sudah malam. Agak berat aku melanjutkan tulisan ini… Kututup saja dengan sebuah do’a semoga ada jalan keluar terbaik… Amien..