Sampai detik ini masih terasa kegelisahan dalam pikiranku setelah mendengarkan “kata berujung” dari Prof. Ahmad Mansur Suryanegara ketika berbicara dalam “Dialog Ramadhan” yang mengangkat tema “Mengugat Sejarah Nasional Indonesia” di Masjid Kampus UGM, Senin Malam 16 Agustus 2010. Prof. Mansur mengatakan:

“Pemberontakan Sosialis-Komunis yang terjadi dalam sejarah Indonesia didalangi oleh orang Padang. Tan Malaka, orang Padang. Amir Syafruddin, orang Padang. DN. Aidit, otak peristiwa G 30S/PKI, juga orang Padang. Tapi, kesalahan mereka ditimpakan kepada orang Jawa. Dalam buku-buku sejarah, orang Jawalah yang banyak disebut-sebut.”

Ujaran ini disampaikan dengan nada yang agak berbeda. Percampuran antara sinis dan kebencian. Mungkin takut perkataannya terkesan Rasis, Beliau kemudian mencoba sedikit memberi angin segar.

“Ya, meskipun begitu, dalam sejarah ada tokoh yang bernama Mohammad Natsir Datuak Sinaro Panjang, juga orang Padang, yang berjasa dalam Mosi Integral untuk menyatukan Indonesia pasca RIS.”

Tentu agak aneh ketika seorang sejarawan senior masih terkotak-kotak pada isu-isu etnis ketika menyampaikan opini sejarah. Lebih aneh lagi ketika seorang profesor tidak bisa membedakan antara Sosialisme dengan Komunisme. Sikap chauvinistik dan main pukul rata inilah yang amat penulis sayangkan. Seolah-olah timbul kesan, “Orang Padanglah yang membuat negara ini kacau. Orang Padanglah yang merusak kejayaan Islam di negeri ini lewat penyebaran ideologi Sosialis-Komunis yang mereka kembangkan.”

Latar belakang budaya egalitarian dan semangat merantau, telah membuat banyak anak-anak Minangkabau mendapat kesempatan belajar keluar negeri. Entah itu “Anak Datuak” (priyayi) dan “Anak Buya” (alim ulama), ataupun anak orang biasa terpelosok. Akses pendidikan diberikan kepada seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang status derajat. Entah itu berlabuh di Eropa, maupun ke Tanah Arab. Maka tak salah, bersama orang Menado, orang-orang Minangkabau berada di dalam barisan terdepan “kalangan elit berpendidikan” di negeri ini.

Terpengaruh oleh kondisi sosial tempat belajar, para pelajar Minang itu terbagi dalam berbagai basis ideologi. Ada yang terpengaruh Wahabisme Saudi, Modernisme Abduh, Liberalisme Eropa, Sosialisme Eropa, serta ada juga yang terkagum-kagum dengan Marxisme Soviet dan Komunisme China. Ketika mereka kembali pulang ke tanah air, paham-paham itu cuba dikembangkan. Tentu terjadi berbagai friksi. Akan tetapi, semua tetap dalam koridor Indonesia Merdeka.

Terkait dengan ungkapan sinis Prof. Mansur terhadap Tan Malaka, dengan cap “Pemberontak” karena ideologi Sosialis yang dibawanya, seolah-olah mirip dengan tuduhan “pemberontak” yang disampaikan oleh Soekarno dan diteruskan oleh Soeharto kepada Mohammad Natsir yang dituding terlibat dalam gerakan PRRI. Apakah Prof. Mansur tidak membaca perjuangan Tan Malaka ketika bersama Jenderal Soedirman melawan penjajah demi “Indonesia Merdeka 100%”? Tidakkah sejarawan senior sekelas beliau mengetahui peran Tan Malaka dalam persiapan proklamasi sebagaimana yang diuraikan oleh sejarawan Belandan Henry Poetze? Tidakkah Pak Mansur membaca tulisan bagaimana pengaruh “Naar de ‘Republiek Indonesia” terhadap diri Soekarno, sampai-sampai proklamator kharismatik ini mengatakan, “Apabila Saya dan Hatta mengalami hantaman dan peristiwa terburuk, maka Saya menyerahkan Revolusi kepada Tan Malaka.”???

Jika memang kebencian kepada Tan Malaka dikarenakan pemberontakan tahun 1948, yang dituduh sebagai “tikaman keji” ketika negeri ini sedang berjuang mempertahankan kemerdekaan dari  agresi penjajah, tidakkah Prof. Mansur membaca tulisan sejarah yang mengungkapkan “ketidaksetujuan” Tan Malaka terhadap Pemberontakan Madiun yang dipimpin oleh Muso itu?

Jika kebencian Prof. Mansur karena disemangati ghirah keIslaman, tidakkah beliau membaca rekaman sejarah, bagaimana Tan Malaka berdebat keras dengan Pimpinan Komunis Internasional yang menyamaratakan Islam dengan Kolonialis Belanda? Yang dengan penuh percaya diri Tan Malaka berujar, “Di negeri kami, Islam bersama-sama dengan rakyat, bahu-membahu melawan penjajah.”

Artinya, penulis pantas bertanya, sesungguhnya apa motivasi Prof. Mansur menjelek-jelekan Tan Malaka dan memburuk-burukan nama “Orang Padang??? Apakah benar-benar didasarkan pada penelitian sejarah, ataukah memang lahir dari sentimental pribadi yang cuba diperlihatkan ilmiah???

Maka tak salah, selepas menyampaikan pandangan sinisnya, Prof. Dr. Husein Haikal, yang juga hadir sebagai pembicara dalam “Dialog Ramadhan” itu, dengan bahasa halus menyampaikan, “Sudah saatnya kita meninggalkan pelabelan sinis terhadap etnis tertentu.”

Prof. Ahmad Mansur Suryanegara, tiba-tiba menjadi terkenal di usia senjanya lewat publikasi buku “Api Sejarah”. Buku yang konon ditulis dengan laku yang mirip ketika Imam Bukhari menulis Kitab Sahihnya. Didahului dengan sholat sunnat dan dalam keadaan tidak “lepas wudhu”. Menguncang penulisan sejarah di Indonesia dengan mengedepankan “semangat keIslaman”.

Namun, tentu teramat disayangkan apabila spirit itu harus berkelindan dengan semangat permusuhan terhadap etnis tertentu dan menutup mata dari konstelasi pertarungan ideologis (Liberalisme – Sosialisme – Islam) yang sangat kental terjadi pada masa-masa awal kemerdekaan Indonesia. Penulispun bertanya-tanya, apakah memang sindiran yang disampaikan oleh Dr. Asvi Warman Adam memang betul, ketika mempertanyakan keilmiahan pandangan-pandangan Prof. Ahmad Mansur Suryanegara???