Malam ke-10 Ramadhan. Masih terpaku di sini. Mendengarkan dua lagu sendu dari Kak Siti Nurhaliza, “Mencintaimu Selamanya” dan “Tak Rela Berpisah Darimu”. Sudah lama aku tak menangis. Ingin rasanya menumpahkan airmata di kala badan terombang-ambing di rantau orang.

Mungkin Lebaran tahun ini, aku masih belum bisa pulang kampung. Entry Card, “Ijazah UGM”,  sebagai syarat agar bisa pulang kampung, yang 4 tahun lalu dikatakan Bapak sebenarnya sudah kupenuhi. Tapi ada satu ganjalan yang membuatku berat untuk kembali ke Ranah Minang, “pengangguran”. Malu rasanya ketika ditanya oleh orang-orang di kampung, “Kerja dimana sekarang Gun?” Apalagi adat di Minang, berpantang anak rantau pulang sebelum “menjadi orang”. Lebih baik badan sengsara di rantau, daripada jadi pengunjingan orang di kampung.

Ketikan-ku terhenti. Sekring asrama kembali turun. Penyakit akut yang membelit asrama beberapa tahun belakangan ini. Kalau seluruh komputer hidup di malam hari, hanya menunggu beberapa menit saja, kemudian padam. Koneksi internetpun juga ikutan putus. Hingga kuputuskan tidur saja, setelah beberapa hari ini, malam-malamku dihabiskan dengan begadang.

Sepulang makan sahur dari Warung Pojok, kucuba melanjutkan tulisan yang terhenti tadi malam. Kembali teringat hasil quiz “Orang macam apa kamu?” di facebook yang tertera di wall.

“Dear Anggun Gunawan, Anda adalah orang yang ramah dan ceria. Meskipun Anda kadang-kadang frustrasi, Anda bisa melewati masa-masa sulit dengan mudah dan menyenangkan. Kepribadian ramah Anda membuat Anda menarik di mata lawan jenis, tapi ini membuat pasangan Anda merasa tidak aman. Kurangnya emosi Anda adalah kerugian, tetapi keterusterangan Anda telah membuat Anda populer.
Kesimpulannya:

  • Teman Anda merasa sulit untuk memahami Anda.
  • Anda memiliki pemikiran yang polos.
  • Tapi menarik bagi lawan jenis.”

Hasil tes yang paling tidak bisa jadi pedomanku untuk kembali melangkah, setelah dilema psikologis yang kudera. Kegagalan di beberapa tes kerja yang kuikuti, tidak saja memperpanjang status sebagai pengangguran, tapi juga membuatku berpikir keras akan kualifikasi kepribadian. Bukan tanpa alasan, hampir dari semua tes yang kujalani, Psikotest menjadi jembatan yang selalu gagal kulewati. Mulai dari psikotes Bank sampai media cetak.

Aku akhirnya kehabisan ide untuk melanjutkan tulisan ini. Mungkin lebih baik kuhentikan. Memang tak fokus, tapi lumayanlah untuk menjaga update postingan di blog ini. Buat para pembaca, saya ucapkan selamat menunggu Shubuh dan menjalankan ibadah puasa…