Kalau kita mencoba mengetikkan keyword “wanita sholehah” di google pencarian gambar, maka terpampanglah gambar wanita berjilbab baik dalam bentuk kartun maupun foto. Hipotesis yang muncul dari penelusuran ini adalah wanita sholehah haruslah wanita yang memakai jilbab. Ketika mengikuti pengajian-pun seringkali para ustadz dan ustadzah mengasimilasikan kesholehahan dengan atribut jilbab. Bahkan di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada ada tulisan, “Bagi kaum muslimah diharapkan tidak berpakaian ketat dan menutup aurat ketika memasuki kawasan Masjid Kampus UGM”

Tiga kali bolak-balik Jogja – Jakarta untuk memenuhi panggilan kerja, membuatku sempat berkunjung ke beberapa mall megah di Jakarta. Dari Plaza Semanggi, Blok M, Margo City, Ambasador, sampai ke mall Grand Indonesia di bilangan Bundaran HI. Meskipun Jogja sudah terkenal dan mendunia, namun tetap saja cap “ndeso” melekat kepadanya.

Sesuatu yang tak bisa disalahkan, karena culture masyarakat Jogja memang masih “Njawani” dan tata kota-nyapun dibuat seminimalis mungkin. Kawasan Malioboro yang sudah tersohor kemana-mana hanyalah sebuah nama jalan, yang penuh dengan pedagang kaki lima. Jangan bayangkan seperti Pasar Tanah Abang Jakarta yang lumayan mewah dan memiliki bangunan bertingkat-tingkat. Ambarukmo Plaza yang menjadi mall paling keren di Jogja tidak sampai melebihi 6 tingkat karena berada di lokasi mendekati Bandara Adi Sucipto. Artinya, mall di Jogja ngak ada apa-apanya dibandingkan dengan mall-mall yang ada di Jakarta.

Para ekonom mengatakan, sekitar sembilan puluh persen perputaran uang di Indonesia terpusat di Jakarta. Menjadikan Jakarta “tanah impian” bagi banyak orang dari daerah untuk mengadu nasib. Ada yang berbekal dengan kemampuan memadai, ada pula mengandalkan semangat dan kenekatan saja. Semuanya berpacu meraih pundi-pundi kekayaan yang disediakan bekas kota pelabuhan ini, Batavia. Salah satu tempat perputaran uang yang paling dinamis, tak lain tak bukan adalah mall. Ada pengunjung yang terdiri dari kaum urban menengah ke atas. Kesehariannya sibuk dengan kerja yang sering kali mendatangkan stress. Ada “tuan rumah” mall yang siap melayani para pengunjung dengan tawaran barang dan jasa. Transaksi berjalan dengan lebih ekslusif di tengah fasilitas mall yang serba mewah. Sungguh pemandangan dunia bisnis yang mengairahkan.

Sebagai orang kampung dari sebuah kota kecil di Sumatera Barat, belajar di UGM Jogjakarta yang “ndeso” membuat seleraku tidak terlalu tinggi. Mall menurutku adalah tempat yang lumayan mewah, hanya cocok buat orang-orang high class. Paling banter belanja di mini market kecil tiga lantai di dekat UGM, Mirota Kampus. Tak sekalipun aku singgah di Ambarukmo Plaza, mall termegah di Jogja, meskipun setiap kali menuju tempat kursus Bahasa Inggris melewati mall itu. Ketika diajak oleh teman-teman alumni satu SMA yang sudah bekerja di Jakarta, malam minggu yang lalu (24 Juli 2010) ke Grand Indonesia, aku hanya bisa melongo melihat megahnya bangunan dan barang-barang yang ditawarkan. Apalagi ada sesi foto model Canon yang menampilkan gadis-gadis “super cantik”. Aku bergumam dalam hati, “Apakah aku sedang bermimpi berada di sini?”

“Rasa dunia” begitu kental, membuatku kehilangan paradigma yang telah kubangun selama kuliah. Semakin menguatkan asumsiku bahwa Jakarta memang kota metropolis berbalut materialistis, kapitalis, dan modis yang siap memenuhi nafsu manusia sejauh berapa banyak uang yang dimiliki. Saat larut bersama kebinggungan akan “fenomena baru” yang barusan kutemui, tiba-tiba terdengar sayup suara adzan Magrib. Mungkin berasal dari menara-menara masjid sekitar mall. Bersama teman-teman yang sudah lama di Jakarta itu, akupun mengikuti mereka menuju masjid mall. Setelah naik lift beberapa tingkat, akhirnya sampai di masjid yang lumayan luas dan fasilitas kamar mandi teramat wah dibandingkan toilet di terminal dan Stasiun Senen yang sudah menjadi langgananku ketika di Jakarta.

Bukan kamar mandi yang bersih dan sekelas toilet di Cinema XXI yang kukagumi. Bukan pula Masjid yang lumayan luas di Grand Indonesia itu yang membuatku takjub. Namun, deretan gadis-gadis berpakaian seksi yang berjalan memegang sebuah bungkusan di tangannya. Wajah mereka masih penuh dengan make-up. Pakaian khas dengan simbol-simbol tempat bekerja, mengepress tubuh mereka yang proporsional, membentuk lekuk-lekuk di beberapa bagian tubuh sensitif. Melepas sepatu, menitipkan di tempat parkir sandal-sepatu, kemudian berjalan menuju toilet wanita. Aku baru bisa bertemu lagi dengan mereka di lorong keluar selepas sholat, karena memang bagian tempat sholat untuk pria dan wanita dipisah.

Ketika duduk memasang sepatu, akupun tercenung kembali menemukan mereka dengan pakaian seksi dan make-upnya. Kembali cantik dengan wajah lebih bercahaya dari sebelumnya. Mungkin karena bekas wudhu’, yang konon bisa membuat wajah bercahaya. Sebagai mantan mahasiswa-santri yang selama kuliah aktif di berbagai pengajian dan sebagai mantan mahasiswa-aktivis karena pernah bergabung dengan 3 lembaga dakwah kampus di UGM, aku terhenyak ketika menyaksikan fenomena barusan kutemui. Selama ini, aku underestimate dengan cewek-cewek berpakaian ketat. Pasti pikiran negatif saja yang terbesit di kepalaku. “Tuh, para penghuni neraka sedang tebar pesona. Buru-buru mereka ingat Tuhan, apalagi sholat.” Begitu ledekku bersama teman-teman pengajian ketika melihat beberapa gadis berpakaian ketat dengan lekuk tubuh menonjol sedang lewat di depan kami. Apalagi membandingkan mereka dengan kategorisasi “Shalehah”. Jauh amat kali!!! Bagiku kala itu, wanita sholehah haruslah berjilbab besar dengan pakaian longgar.

Kejadian di masjid Grand Indonesia Jakarta, telah membuat stigma negatif yang kusandarkan kepada para cewek berpakaian seksi dan ketat hilang seketika. Meski sibuk bekerja, mereka masih ingat Tuhan. Setiap kali adzan berkumandang, segera mereka meminta izin barang sebentar memenuhi panggilan Tuhan. Haruskah label “wanita neraka” kulekatkan kepada mereka??? Betapa sombongnya aku dengan ilmu agama yang telah kupelajari. Betapa angkuhnya aku memandang sinis mereka yang terbelit dengan kondisi.

Mencari kerja di Jakarta teramat susah. Terkadang, harus melanggar syariat agama untuk medapatkannya. Wanita cantik menjadi daya tarik tersendiri, agar mall tetap penuh dikunjungi pembeli. Karena begitulah tabiat manusia yang suka akan keindahan. Selama itu pekerjaan halal, yang dijual halal, meskipun harus menjadi pramusaji dengan pakaian seksi harus dilakoni, apakah kita harus memandang rendah mereka? Ada sisi lain yang tak kita ketahui tentang mereka, tentang keluarga dan kehidupan mereka. Satu hal yang pasti, mereka sedang bekerja untuk bertahan hidup dan tak lupa kewajiban sholat yang menjadi tiang agama.

So, apakah sholehah harus berkorelasi dengan jilbab besar dan pakaian longgar??? Apakah mereka yang bekerja sebagai pelayan di mall dengan pakaian belum menutup aurat bisa mendapatkan predikat sholehah itu??? Aku tak tahu harus menjawab apa. Namun, kehadiranku di Jakarta beberapa hari ini, semakin memperkaya sudut pandangku, bahwa dunia tidak hitam putih yang memungkinkan kita menjudge seseorang baik dan buruk lewat penampilan luar saja. Terima kasih Jakarta yang membuatku berpikir lebih dewasa… Ah, aku mulai mencintai Jakarta… He2…