Mata belum jua  mau dipejamkan. Pikiranku masih terpaku dengan isi disertasi Pak Nusyirwan. Beberapa menit yang lalu, kukirimkan beberapa sms kepada beliau terkait pembacaanku atas disertasi setebal 200-an halaman itu. Mungkin agak sombong juga kalau dikatakan sebagai masukan. Karena aku bukanlah professor yang berhak menguji sebuah disertasi. Baru anak muda, seumur jagung, yang masih binggung mencari kerja. Tepatnya mungkin sekedar komentar dari seorang “mantan” mahasiswa yang dulu pernah menulis skripsi.

Sebelumnya, agak lama aku tertahan di Masjid Kampus UGM. Setelah sholat Tarawih tak langsung pulang, karena ada “Dialog Ramadhan” yang diadakan oleh teman-teman LDK Jama’ah Shalahuddin UGM. Mengambil tema “Meluruskan Penulisan Sejarah Islam”, diskusi ini menghadirkan 2 pembicara kondang, Prof. Dr. Husain Haikal, M.A dan Ahmad Mansur Suryanegara (penulis buku “Api Sejarah”, buku monumental tentang koreksi penulisan sejarah Islam di Indonesia).

Bukan kisah dr. Soetomo (sang pendiri Boedi Oetomo), yang ternyata suka mencontet saat kuliah di Stovia, yang menarik bagiku. Bukan pula pemaparan peran KH. Mas Mansyur, KH Bagus Hadikusumo, KH. Ahmad Dahlan, dan sederetan tokoh Islam yang begitu besar dalam peristiwa-peristiwa penting pra-pasca kemerdekaan Indonesia. Bukan juga pemaparan akan tokoh-tokoh Sosialis Komunis  yang dicap sebagai pemberontak (Tan Malaka, DN. Aidit), yang disebut-sebut berasal dari Minang. Tapi, sebuah kejadian selepas acara berlangsung, yang membuatku terpana.

Di parkiran Masjid Kampus UGM, tampak Prof. Husain Haikal yang sudah berumur lebih dari 70 tahun memakai helm dan siap-siap diantar oleh anggota Jama’ah Shalahuddin. Seorang professor terkenal, lulusan Amerika Serikat, rela diantar ke rumah hanya memakai sepeda motor??? Tak ada gengsi. Tak ada ketakutan akan angin malam. Benar-benar fenomena yang membuatku takjub. Sebuah pemandangan nyata akan kesederhaan seorang Professor Sejarah yang penuh semangat dan selalu mengajak generasi muda untuk menatap masa depan dengan optimis bukan pesimis. Sikap yang mesti jadi teladan, di tengah penyakit akut hedonisme, yang menjangkiti para pemimpin negeri ini.

Negeri ini memang aneh. Orang-orang pintar seringkali diabaikan. Tak hanya kesejahteraannya, tapi juga suara kritis yang didengungkan, karena dianggap mencemarkan “kerja baik” penguasa . Pemerintah lebih suka berdialog mesra dengan para pengusaha kaya yang mengeruk kekayaan negeri ini dengan cara-cara culas, daripada berkumpul dengan Ulama ataupun duduk berbincang serius dengan para cerdik-cendikia.

Jadilah, suara lantang mereka sekedar suara sunyi di tengah kedunguan pemerintah yang asyik sibuk dengan citra dan pesona di depan publik. Rakyat dibujuk dengan retorika tanpa aksi nyata. Masalah tetap dibiarkan hidup tanpa komitmen untuk menyelesaikannya.

Orang-orang hebat negeri ini dsingkirkan. Dicarikan lawan sebanding yang vokal, agar redup seketika. Berbagai apologi digembar-gemborkan. Hingga tampak logis dan mengiring kebencian massif. Sebagaimana yang dialami oleh Pak BJ. Habibie ketika mencoba menyelamatkan bangsa ini dari krisis pasca turunnya Pak Harto.

Konspirasi jahat atas nama Reformasi telah mencampakkan pemimpin baik lagi cerdas. Sesuai benar dengan keinginan Neo Kolonialisme yang tak ingin negeri besar sepanjang London-Makkah, Aljazair-Jerman ini dipimpin oleh pemimpin yang amanah dan fathonah. Ya, beginilah nasib negeri yang baru saja memperingati 65 tahun kemerdekaannya… Mau apa lagi???:(