Sabtu 24 Juli 2010, di tengah kemacetan dan polusi Jakarta. Aku turun di Halte Busway Bunderan Hotel Indonesia, sehabis mengikuti tes toefl dan interview bahasa Inggris  untuk seleksi penerimaan karyawan baru PT. Pelabuhan Indonesia II di LIA Jalan Pramuka Jakarta Timur. Mentari nan tertutupi awan sedikit turunkan panas kota Jakarta yang begitu sumpek. Bersama Doni, teman satu SMA, yang telah satu tahun lebih bekerja di Bank CIMB Niaga Jakarta, akupun melangkah menuju Plaza Grand Indonesia. Ya, kayaknya akan ada suprise yang dipersembahkan oleh teman-teman sesama alumni SMA pikirku kala itu.

Sejak di pintu masuk, aku sudah merasakan suasana berbeda. Maklumlah, selama di Jogja aku jarang main-main ke mall. Apalagi tidak ada satupun mall di Jogja yang mampu mengalahkan kemegahan Grand Indonesia. Aku hanya berjalan mengikuti langkah Doni, yang sudah biasa mengisi waktu istirahat di mall keren itu. Jelang beberapa saat kemudian, datanglah 2 teman lagi, Cahaya dan Imran.

Setelah merasa “lengkap”, karena teman-teman yang lain ngak bisa hadir, kamipun beranjak ke lantai atas mencari food corner. Ambil posisi dekat jendela, duduk memandangi gedung-gedung menjulang ke langit Jakarta, sambil menunggu pesanan.

Ngomong ngalor-ngidul, melepas rasa kangen karena sudah bertahun-tahun tak berjumpa, entah kenapa obrolan kami terfokus pada ekonomi syariah. Berawal dari cerita Cahaya yang merupakan karyawati HSBC Bank di bilangan Gatot Subroto Jakarta Selatan. Mulailah cewek satu-satunya di antara kami berempat sore itu bercerita.

Beberapa waktu yang lalu, sebagaimana biasa di kantor Cahaya mengadakan pengajian rutin. Mengundang seorang Ustadz yang kayaknya “paham” dengan ekonomi syariah. Setelah membuka pengajian dengan muqodimah standar, Sang Ustadz kemudian masuk pada pokok bahasan kajiannya.

‘Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu yang saya hormati, dalam Al Qur’an telah dijelaskan tentang keharaman  riba dan kehalalan jual-beli. Para ulama telah mengkategorikan bunga bank sebagai bagian dari praktek riba. Oleh karena itu, sudah saatnya kita berhijrah pada bank-bank syariah yang telah menggunakan nilai-nilai ekonomi Islam.’

Sontak saja karyawan HSBC yang mendengarkan pengajian kala itu kaget. Ngak nyangka pak Ustadz membahas masalah yang membuat merah telinga mereka. Tapi, namanya hormat sama ulama, akhirnya merekapun hanya diam sambil menyembunyikan emosi nan berbuncah di dada.

Selepas pengajian, semua kembali ke meja kerja masing-masing. Dalam obrolan ringan dengan teman sebelah, Cahaya-pun berujar,

‘Buk, Ustadz tadi aneh ya. Masak ceramah gituan di kantor kita.’

‘Iya Mbak. Benar-benar aneh. Apa beliau ngak mikir ya? Kan beliau dapat honor pengajian juga dari Manajer kita. Kalau beliau bilang transaksi di Bank itu haram,  berarti uang honorium beliau juga haram dunk???’

Gerrrrrrrrrrrrr.  Aku, Imran, dan Doni, hanya bisa ketawa geli mendengar cerita “lucu” dari Cahaya. Setelah itu, entah kenapa perbincangan kami tentang bank syariah semakin panas. Terutama antara Doni yang pro Bank Syariah walaupun kerja di Bank CIMB Niaga yang notabene termasuk Bank Konvensional dengan Imran, lulusan Magister Manajemen UI, yang kukuh dengan pendirian Bank Syariah tidak akan benar-benar Islami selama uang kertas diganti dengan dinar dan dirham. Aku dan Cahaya hanya tersenyum-senyum melihat perdebatan mereka berdua. Dialektika antara praktisi dan akademisi.

Cerita Cahaya tadi mengingatkanku pada ceramah Prof. Yunahar Ilyas (Guru Besar Tafsir Al Qur’an Universitas Muhammadiyah Yogyakarta – lulusan Universitas Muhammad Ibnu Su’ud Saudi Arabia – sekaligus  Ketua PP. Muhammadiyah) suatu hari di kantor PP. Muhammadiyah Cik Di Tiro Jogjakarta. Beliau bilang, banyak mendapatkan ucapan terima kasih dari pimpinan bank-bank syariah dikarenakan sering membahas “kewajiban” beralih ke bank syariah dalam khutbah-khutbah dan ceramah-ceramah yang beliau berikan di berbagai tempat. “Promosi gratis” begitu para pimpinan bank syariah itu mengatakan. Karena memang, Prof. Yunahar berceramah tentang bank syariah murni berdasarkan keilmuan Islam yang beliau pelajari.

Tak dapat dipungkiri, geliat bank syariah didukung oleh pengajian-pengajian yang disampaikan oleh para ustadz dan ulama. Pendekatan teologis memang sangat kental dalam usaha pengembangan bank syariah di Indonesia yang notabene hampir 90% penduduknya beragama Islam. Namun, menurut hemat penulis mengandalkan dalil-dalil agama saja tidak cukup untuk membuat orang berpindah dari bank konvensional menuju bank syariah.

Cahaya, temanku yang sudah berjilbab sejak SMA itu, tentu tak akan membantah keharaman bunga bank. Tapi status sebagai pegawai HSBC tentu menuntutnya untuk mengembangkan bank tempat ia bekerja. Karena kalau target tidak dicapai dan pada satu titik bank tempat ia bekerja tutup, alamat status penganguran siap-siap menantinya. Begitu juga dengan Doni, yang sudah menjadi aktivis dakwah sejak SMA, mengalami ambiguisitas atas pilihan menabung di bank syariah dengan statusnya sebagai pegawai divisi konvensional CIMB Niaga.

Perjuangan capaian nasabah bank syariah menuju angka 50% agaknya membutuhkan waktu yang cukup panjang. Sejak dikenalkan pada akhir tahun 90-an sampai dasawarsa kedua tahun 2000 ini, raihan nasabah seluruh bank syariah di Indonesia baru mencapai 5 %. Artinya kalau kita memakai hitungan stagnan sederhana, berarti butuh 50 tahun lagi untuk menuju angka 50%.

Ceramah agama, mungkin bisa diterima oleh ummat. Namun, nasib dan masa depan orang-orang baik seperti Cahaya dan Doni yang “terjebak” bekerja di bank konvensional juga patut diperhatikan oleh pengambil kebijakan. Karena tidak hanya mereka berdua saja yang mengalami kegamangan. Tapi saya yakin ada ratusan ribu atau mungkin jutaan pegawai bank konvensional di negeri ini yang mengalami kebimbangan yang mereka rasakan…

Ya, semoga perkembangan syariah juga diiringi kemaslahatan buat jutaan orang di Indonesia yang mendapatkan nafkah dari bank konvensional. Amien…