Gelora Penulis Sunyi


Kedatangan Uda Dr. Ahmad Iqbal Baqi (Doktor Kepedudukan UGM) beberapa hari yang lalu di asrama untuk meminjam buku “Messianik Yahudi”-ku, dan permintaan Pak Nusyirwan (Dosen Filsafat UGM yang sebentar lagi ujian promosi Doktor Filsafat UGM) untuk mengedit naskah disertasi beliau agar bisa juga diterbitkan menjadi buku, membuatku kembali membaca “Messianik Yahudi”, sebuah buku yang kugubah dari skripsi ketika menyelesaikan studi S1 di Fakultas Filsafat UGM.

Bukan karena apa-apa? Kegagalan demi kegagalan dalam tes-tes kerja 6 bulan terakhir ini di berbagai perusahaan, hadirkan kebinggungan. Bisa apa sih aku dengan ijazah Filsafat UGM??? Apalagi saat aku gagal menembus 3 besar kandidat Reporter Republika. Kecamuk semakin berkelindan. Agnotisme diri semakin membelit dalam ujaran kritis, “Sejauhmana sih kemampuan menulisku?”. Karena narsisme selalu kukumandangkan di wall facebook terkait dengan “prestasi literer”-ku itu. Entah itu bisa nampang sebagai Headline dan Tulisan Terpopuler di Kompasiana, ataupun kunjungan dari orang-orang penting negeri ini yang memuji artikel-artikel yang pernah kupublish secara online.

Nihilitas relasi karya-karyaku dengan dunia kerja, dan pengabaian berbagai perusahaan terhadap tulisan-tulisanku, berdiri diametris dengan kedatangan Uda Iqbal dan permintaan Pak Nursyirwan. Kontradiksi yang tak bisa kupahami. Apakah “acting” sok pinter-ku telah mampu menyilaukan seorang Doktor dan seorang calon Doktor UGM? Sehingga “kebodohan”-ku yang selama ini bisa dibaca oleh Lembaga-Lembaga Psikologi Patner Perusahaan, seperti LPT Universitas Indonesia, Experd, dan Rekanan Republika, tak terlihat oleh 2 dosen hebat itu…. Entahlah…

Tak mau larut dalam kebinggungan tak menentu, kucuba kirimkan sebuah SMS pada Bu Septi, Dosen Pembimbing Skripsiku.

Dulu pas Ibu bimbing saya saat  skripsi, ada logika penulisan saya yang ngak logis dan tidak konsisten ngak buk???.

Tak sampai 2 menit, kuterima balasan beliau.

Semua penguji tidak menemukan itu, jadi pantas dapat nilai maksimal.”

Ya, 4 dosen penguji ketika ujian pendadaran memberikan nilai A untuk skripsiku.  Itupun tanpa revisi yang berarti, karena semua pertanyaan penguji mampu kujawab dengan lugas.

Namun, lagi-lagi kegalauan menyelimuti pikiran. Apakah ada hubungan nilai skripsi A dengan keberhasilan mencari kerja??? Sampai saat ini, jawaban tegas yang kudapatkan adalah TIDAK…

Tapi satu hal yang lebih pasti, penolakan demi penolakan kerja yang menyakitkan, tidak akan menyurutkan langkahku.  Sebuah pematian halus terhadap potensi diri, tak akan kubiarkan meruntuhkan masa depanku. Apalagi aku sudah biasa dimarjinalkan. Dibuang dan dicampakkan. Tapi lewat “rasa sakit” itulah aku bisa bangkit dan menunjukkan pada semua, bahwa aku tak sebodoh yang mereka bayangkan.

Terima kasih buat perusahaan-perusahaan yang telah memberikan “rasa sakit” itu lagi. Rasa yang semakin menguatkan semangat dan kekuatan untuk membuktikan kemampuan diri. Karena darah Minang akan tetap membara meski berusaha ntuk dipadamkan.

Sebagaimana Moyang kami, Ibrahim Datuak Tan Malaka memberikan tauladan. Perjuangan tiada henti, meski terus dibasmi oleh sederetan musuh. Karena sebuah harapan dan ideologi telah terpatri di hati kami. Pantang mundur selangkah, demi masa depan lebih baik dari hari ini.

Aku akan terus berteriak dengan caraku. Takkan berhenti lentikkan jemari menuliskan apa yang terasa di hatiku, meski banyak orang yang ingin “membunuhku”. Karena hari ini aku telah sadar, “DIRIKU TERLAHIR MENJADI PENULIS“…

Iklan

4 thoughts on “Gelora Penulis Sunyi

  1. kuliah dan dunia kerja adalah dua hal yg sgt berbeza…masa kuliah lebih menekankan nilai akademis,sberpa nilai yg bisa kita capai untuk mata kuliah tertentu terlepas nilai trsbt kita dptkan scara bijaksana atawa sbaliknya. sdgkan dunia kerja lebih berfokus pada menilai kemampuan seseorang yg layak ditempatkan pada posisi yg ditawarkan,pengalaman juga penting. setidaknya itu pengalaman yg sya rasakan. tapi yakinlah bahwa masa kuliah yg dilalui adalah sbuah proses pembeza pemikiran dalam berucap..karena

  2. yg membeza satu orang dg org yg lain laen terlhat dr apa yg dia ucapkan..bekerja pd dasarnya adalah hobi yg tersalurkan,apakah lwat media perusahan bonafif,penerbit,otomotif,perbankan.dll..atau bekerja tuk diri sendiri,semua itu hanya media..benda mati, anda lah inspirasinya, tinggal kita memutuskan dengan bijak media apa yg akan kita gunakan…setelah anda memilih lalu perhatikan apa yg terjadi…wassalam..salam buat keluarga, jga kesehatan..

  3. hmmm…..
    nggak bisa comment bnyk da anggun, hanya bisa menikmati tulisan – tulisan da anggun…
    makasih buat mas deck, atas cerita pengalaman nya..(looh,…??)

    terus berjuang, terus berkarya da anggun….

  4. Aslkm Anggun..

    mudah2an Anggun tabah dan saba ngun….
    Nan paralu anggun inget, Roda Kehidupan itu berputar ngun dan yang pasti allah tdk akan memberi cobaan kpd mahluknya yang tdk sanggup dia pikul….jadi tetap fokus dan cari celah ngun…

    sukses se untuak anggun dari ambo urang lamo..he3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s