Menunggu adzan shubuh di depan komputer. Kembali ingin kutuliskan sebuah kisah. Kisah hidup yang mungkin teramat biasa. Namun, ingin kurangkai biar jadi catatan sejarah yang bisa kubaca esok lusa.

Tadi malam, kusempatkan datang dalam acara buka bersama di Asrama Putri “Bundo Kanduang (BK)”. Semarak dengan tingkah polah anak-anak asrama dan kehadiran 2 orang cewek bule dari Jerman yang stay di BK untuk riset kebudayaan Indonesia. Ditambah lagi wajah-wajah fresh anak-anak baru BK 2010 yang bikin anak-anak Mersi geregetan tak biasa. Ada yang mati gaya, ada juga yang overacting menunjukkan kharisma.

Langkahku berangkat tarawih ke Masjid Kampus UGM terhenti karena permintaan Da Adam. Alumni Asrama tahun 1985, yang setahun ini mengambil program Doktor Sejarah di UGM. Oleh Da Adam, aku diminta tetap tinggal agar bisa jadi imam untuk sholat Isya dan Tarawih. Lama tak muraja’ah hafalan membuat pendirianku goyang. Tapi setelah kupikir ulang, akhirnya kupenuhi permintaan beliau. Sholat Isya kuserahkan kepada adik asrama. Baru sholat Tarawih aku maju jadi imam.

Adzan Shubuh-pun berkumandang. Sejenak aku bertahan, ntuk selesaikan satu postingan ini.

Selesai Tarawih, ramah tamah, dan ngobrol sebentar, kuputuskan untuk balik ke asrama. Sebenarnya, masih ada jadwal sahur bersama. Namun, suasana yang tak lagi kondusif untuk “angkatan tua” sepertiku, membuatku memilih untuk pulang saja.

Sesampai di asrama, hanya sebentar aku bertahan di depan TV. Rasa kantuk kuat menyerang. Hingga kuputuskan masuk kamar dan berbaring menuju peraduan.

Kucuba tepis godaan setelah melihat “sosok berjilbab merah hati” saat buka puasa tadi. Anak baru 2010, mahasiswa Biologi UGM. Jilbab besarnya membuat memoriku berputar jauh ke belakang. Mengingat masa-masa sewaktu menjadi aktivis di sejumlah organisasi dakwah kampus. Saat-saat dimana teman-teman akrabku adalah para akhwat yang terkenal dengan kerudung panjang dan baju longgar menutup seluruh tubuhnya.

Kuhentikan ketikan ketika iqomah berkumandang. Datangi Masjid sebelah asrama ntuk tunaikan Sholat Shubuh. Di sela-sela ceramah Pak Ista’adi, Kolonel pensiunan Angkatan Darat yang sudah menjadi jam’ah tetap Masjid Asrama, kekalutan kembali menyerangku. Kucuba bertanya pada hati. Dan iapun menjawab. Lewat view wajahmu yang begitu dekat dan teramat dekat. Aku tak dapat menjelaskan fenomena jiwa yang barusan kualami. Tapi sungguh dirimu tiba-tiba terasa begitu dekat dalam pikiran dan renunganku.

E***, aku mencintaimu bukan sekedar karena jilbab yang melekat di tubuhmu. Bukan juga semata-mata dari rias wajah dan senyumanmu. Lebih dari itu semua. Aku mencintai dirimu seutuhnya. Kepribadian yang tak ternilai emas permata. Jikalau hanya jilbab besar, sudah cukup bagiku membayangkan saat kita masih SMA. Ketika engkau begitu anggun dengan uniform baju putih lengan panjang dan rok lebar, lengkap dengan jilbab putihmu.

Tuturmu nan ramah, sikapmu nan sederhana, kemandirianmu yang teguh tiada manja, dan langkahmu nan bersahaja, telah lebih dari segalanya agar aku tak beralih ke lain hati. Karena aku tak tahu, kemana lagi akan mencari gadis berakhlak bidadari seperti dirimu?

E***, kembali kutata hati. Hilangkan godaan yang datang melemahkan kesetiaan. Kembali teringat olehku, kala malam itu di Plaza Semanggi Jakarta. Selepas makan malam bersama dengan teman-teman SMA  beberapa minggu yang lalu. Kisah yang tak mungkin kulupakan. Saat kita duduk berhadapan dalam diam dan hanya bisa bicara lewat mata. Ketika kutatap engkau dalam-dalam, dan kucuba ungkapkan perasaan cinta. Sudah cukup itu semua, menjadi penawar ketika hati gelisah. Sudah cukup untuk meredam godaan dan gejolak yang selalu saja merayu jiwa.

15 hari lagi, momen itu akan tiba. Kala engkau akan memberikan sebuah jawaban yang akan merubah jalan hidup kita. Mudah-mudahan semua akan indah pada waktunya. Dari sanubari hatiku sekali lagi ingin kuucapkan, I LOVE U, “Cinta”…