Siang nan mendung. Angin dingin berhembus, masuk lewat jendela. Dalam alunan lagu “Jauh” dari Cokelat. Mencoba meredam kerinduan nan membelit hati. Betapa ingin mendengar suaramu lagi. Suara lembutmu yang beberapa waktu lalu menjadi pengobat kegelisahan diri. Nada yang tak pernah berubah sejak kita masih bersama di kampung halaman dulu. Ramah – rendah, hadirkan rasa damai tak terkira.

Namun, aku harus bersabar. Karena tak akan kuingkari janji kita. Ku yakin, semua akan indah pada waktunya. Sabar menjadi teman sepiku saat ini.  Do’a terus mengalir dari lisan. Karena kuyakin cinta ini tak sekedar igauan kesukaan sesaat saja. Begitu besar harap, bisa bersamamu. Tak hanya sekedar di dunia. Tapi, kekal hingga ke surga.

Kini tiada lagi yang kuinginkan selain dirimu. Meski datang rayuan, tapi ku kan tetap kukuh mempertahankan kesetiaanku.

Aku mencintaimu karena pesona kepribadianmu. Kemilau permata jiwa nan berbalut kesederhaan. Kelembutan diri dalam kemandirian. Eloknya budi, secantik wajah teduhmu.

Kuungkapkan semua dengan jujur. Bukan sekedar pemanis lisan dan permainan kata.  Karena cinta ini hadir tulus. Hanya ingin keridhaan dari-Nya. Bukan mengharapkan yang lain.

Saat kubuka facebook siang ini, tanpa kusadari namamu hadir dalam urutan pertama list friendsku. Tanpa settingan tertentu, karena semua dimanage oleh admin. Semoga ini menjadi bukti bahwa rasa yang bertahta di hatiku, juga dipahami oleh sebuah teknologi yang bernama facebook.

Sayang… Ada kalimat yang ingin kusampaikan padamu. Rangkaian kata yang mungkin bisa menjadi perantara dari gejolak hati yang kurasakan saat ini…

Kutunggu dirimu… Selalu kutunggu… Walaupun kutahu jauh…