Kuliah di luar negeri merupakan impian banyak orang di Indonesia. Biasanya Eropa, Amerika Utara, dan Australia menjadi tujuan favorit. Banyak beasiswa yang disediakan. Namun, tetap saja harus bersaing keras karena banyak pelamar yang memasukan aplikasi, melebihi limit maksimal kursi yang disediakan.

Bukan hanya tertarik karena kualitas dan fasilitas yang lebih di universitas-universitas luar negeri, terkadang motivasi prestise menjadi daya tarik sendiri. Maka tak jarang kita menemukan para scholar mengambil S2 di universitas luar negeri yang rangking universitasnya (versi THS atau Webometric) tak lebih baik dari rangking universitas-universitas dalam negeri. Di sisi lain, keberadaan para lulusan Master dan Doktor luar negeri terkadang tidak terlalu berimplikasi kepada aspek pragmatis sosial. Tak jarang dari mereka ketika pulang ke tanah air menjadi agen asing untuk melanggengkan Neokolonialisme dan mengacak-acak agama atas nama modernisasi – pembaharuan.

Terlepas dari sisi negatifnya, kita tidak bisa memungkiri, kuliah di luar negeri memberikan pengalaman akademis, sosial, dan budaya yang baru. Paling tidak perspektif kita lebih luas lewat pergaulan internasional dengan orang-orang yang berlainan kewarganegaraan. Selain itu, kemampuan bahasapun semakin terasah, baik itu bahasa Inggris ataupun bahasa lokal negara setempat jika kita mengambil program di negara-negara non English.

Bagi peminat beasiswa ataupun pembaca yang ingin sekali kuliah di luar negeri, dan mau sedikit merubah paradigma “kedigdayaan universitas di Eropa, Amerika Utara, dan Australia (EAA)”, India bisa menjadi pilihan. Tak sekedar lebih mudah karena hanya mensyaratkan toefl minimal 500, persainganpun “lebih ringan” karena peminat kuliah di India masih sedikit dibandingkan EAA.

Tentu bukan karena kemudahan itu yang menjadi motivasi utama. Masalah kualitas seharusnya pertimbangan pertama ketika memutuskan kuliah di luar negeri. Sehingga tidak timbul kesan, “Kok lulusan luar negeri tidak lebih pintar dari lulusan dalam negeri.”

Selanjutnya, penulis akan menyampaikan beberapa kelebihan India, sebagai pertimbangan rasional bagi para pembaca untuk melirik India sebagai tujuan studi. Informasi yang akan penulis sampaikan didasarkan pada informasi valid dari seorang teman (yang dulu sama-sama aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah UGM), Gonda Yumitro. Beliau merupakan salah satu lulusan terbaik UGM di tahun 2006, dengan masa studi 3 tahun. Menamatkan gelar sarjana dari jurusan Hubungan Internasional dan sejak tahun 2007 mengabdi di prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang sebagai Dosen Tetap.

Sebagai negara Commonwealth, India mematok standar kemampuan bahasa Inggris yang lumayan “rendah” yakni score toefl 500. Namun, untuk memenangkan persaingan beasiswa dari Technical Cooperation Scheme Colombo Plan Scholarship Scheme, ICCR Scholarship Scheme for Dance and Music, dan Reciprocal Scholarship Scheme, sebaiknya score toefl yang kita miliki 550. Khusus untuk ICCR Scholarship, setiap tahunnya memberikan beasiswa untuk 20 orang Indonesia. Pembelajaran di kelas dilakukan dalam bahasa Inggris, kecuali jika kita mengambil jurusan bahasa, yang tentunya disesuaikan dengan major yang diambil.

Bahkan bagi yang memang pingin belajar di India dan punya sedikit tabungan, berbahagialah karena impian anda kuliah di India bisa tergapai. Sebagai preferensi, kuliah pertahun untuk mahasiswa asing hanya 500 dollar AS. Jika kita rupiahkan kurang dari 5 juta. Malah untuk mahasiswa lokal hanya 800 ribu Rupiah pertahun. 5 Juta rupiah di UGM hanya bisa membayar uang kuliah satu semester. Tentu akan lebih mahal lagi jika kita bandingkan dengan UI dan ITB ataupun kampus swasta terkenal.Terus bagaimana dengan biaya hidup?? Kalau di delhi, 1,5 juta sudah sangat cukup untuk perbulan. Apalagi kalau tinggal di hostel, perbulan hanya 100 ribu. Kalau kos yang lumayan elite sih memang sampai 800 ribu… He2..He2… makan sekali cukup 4000 saja. Lebih murah lagi kalau masak. Daging saja perkilo hanya 20.000 rupiah..

Terus, kalau biaya pesawat ke sana berapa ya? Sekarang Air Asia sudah buka jadwal penerbangan ke India. Tiketnya sekitar 1,5-2 juta. Selain itu ada juga Malaysia Airline atau Singapore Airline, sekitar 3,5-4 juta sekali terbang

Maka banyak para expatriat dari berbagai negara memilih self finance agar bisa kuliah di India.

Terkait dengan suasana pendidikan India, kalau mau lebih jelas, pembaca bisa menonton film “Three Idiots“. Kira-kira gambarannya persis seperti itu. Namun, jangan underestimate dulu. Mari kita lihat hasil yang telah mereka raih.

Berbagai media merilis lebih 30 % pekerja microsoft lulusan India, 20 % dokter di AS adalah lulusan india. Bahkan setiap tahun India memproduksi lebih 220 ribu piranti lunak barang-barang elektronik.

Terus bagaimana dengan kajian-kajian ilmu-ilmu sosial, politik, dan humaniora? India sejak dulu terkenal dengan tradisi pemikiran yang kuat. Banyak aliran-aliran filsafat dan keagamaan yang saat ini menyebar ke seluruh dunia, lahir di anak benua Asia ini.Tokoh-tokoh revolusioner politik dan para filsuf dari India telah menghiasi literatur-literatur perpustakaan dunia.

Dilihat dari situasi pembangunan, India  masih dikategorikan sebagai negara berkembang. Meskipun pendapatan per-kapita penduduknya masih rendah, namun pertumbuhan ekonomi India sangat mengagumkan. Sehingga membuat pemain ekonomi utama seperti AS, Uni Eropa dan Jepang memperhitungkan sepak terjang mereka. Catatan demografis menunjukkan jumlah penduduk India melebihi 1 miliyar jiwa dengan keragaman budaya dan pluralitas sosial.

Artinya, India bisa menjadi komparasi seimbang dan menjadi sumber penelitian teramat kaya bagi para scholar Indonesia yang berminat menempuh studi di India. Apalagi kalau ditilik dari sejarah, perkembangan sosial, budaya, dan keagamaan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari pengaruh India.

Selain belajar ilmu, para mahasiswa yang belajar di India dididik lebih realistis dengan situasi kehidupan yang keras dan agak jorok. Sangat jauh dengan kondisi EAA yang sudah teratur dan “lebih beradab”. Namun, dengan itulah kita benar-benar bisa memahami kondisi negara ketiga.

Melampaui semua itu, India memberikan pelajaran kesederhanaan. Tapi tidak “kesederhaan kualitas”. Telah tercatat nama-nama peraih Nobel, penghargaan kelas wahid untuk para ilmuwan, merupakan alumni atau dosen dari universitas-universitas India. Salah satunya adalah C.V.Raman, pemenang nobel bidang fisika yang merupakan lulusan Bangalore University. Setiap Universitas India,  dosen yang mengajar Master minimal sudah menempuh S3. Kapan pun mereka bisa ditemui. Hampir mirip dengan idealisme beberapa dosen di UGM, banyak diantara mereka yang mengendarai sepeda ontel ke kampus.

Salah satu penunjang utama pendidikan adalah buku. Lagi-lagi kesederhanaan dari sudut positif kita temukan di India. Harga buku sangat murah. Sehingga  banyak yang menyebut India sebagai “Sorga Buku”. Perpustakaan tiap hari penuh dengan mahasiswa. Kalau boleh mau jujur, budaya membaca mereka lebih bagus dari kita di indonesia

Ups, jangan puas dulu dengan informasi ini. Ada berita bagus buat anda yang sudah mulai tertarik kuliah di India. Dikarenakan biaya kuliah yang “sangat murah”, banyak orang di sana ambil S2 sampai 3 kali dan S3 sampai 2 kali. Jangan heran jika anda menemukan orang bergelar, Dr. Radhakrisnand, B.Sc.B.Ec, MA (PS), MA (IR),M.Phil .Ph.D.  Kebijakan pemerintah yang membuat biaya pendidikan begitu murah, membuat orang semakin bersemangat untuk mempelajari berbagai bidang keilmuan.

Mas Gonda, yang menjadi sosok inspiratif bagi saya untuk membuat tulisan ini, sedang menempuh program MA Political Sciences di Jamia Millia Islamia University, berencana mau mendaftar juga di MA International Relations  Annamalai University. Ikutan ambil kuliah double memanfaatkan regulasi murah meriah ala India… He2..

Btw, setelah membaca tulisan ini, pembaca jadi tertarik ambil S2 di India? Kalau iya, siap-siaplah mengajukan lamaran beasiswa pada tiap akhir tahun. Untuk yang self finance biasanya Universitas di India membuka pendaftaran pada bulan Februari – April untuk mahasiswa asing. Untuk lebih jelasnya, segeralah meluncur ke website Perhimpunan Pelajar Indonesia di India, yang beralamat di http://ppiindia.org. Semoga informasi ini, semakin membuka luas jalan kita untuk kuliah di luar negeri… Amien…