Banyak hal yang berbuncah dan ingin kutuliskan. Mengungkapkan betapa Maha Besar Nya Allah dengan segala misteri hidup yang menaungi kehidupan kita sebagai manusia. Hanya satu kata yang pantas terucap dari lisan yang sering khilaf ini, SYUKUR. Begitu banyak nikmat yang telah diberikanNya. Anugerah yang datang beriringan dengan musibah dan ujian. Ah, betapa indahnya hidup ini.

Perlahan kekecewaan karena gagal di Pelindo, sudah mulai mereda. Meski masih menyisakan duka, tapi aku tak mau larut dalam putus asa.  Deretan kegagalan tes kerja sejak Februari yang lalu berawal dari Bank Mandiri, Republika, Bank Mandiri Syariah, Kompas, Tribun Jogja, sampai yang terakhir PT. Pelabuhan Indonesia II, memang membuatku jadi frutasi. Namun, setelah kurenungi, tak ada guna menyesali yang telah terjadi. Masih ada jalan dan harapan jika tetap mau memperbaiki diri. Harus tetap optimis memasukkan lamaran, sambil terus belajar dari kesalahan-kesalahan sebelumnya.

Tuhan telah memberikan penawar kesedihanku. Banyak hal istemewa yang kulalui 3 hari terakhir ini. Dari silaturahim dengan teman lama sesama aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, mbak Ribkhi, lulusan dokter muda UGM yang lagi koas di Banyumas. Bertemu dengan Bu Dokter Ndaru (dokter spesialis mata di RS Sardjito) yang begitu baik dan sabar saat memeriksa mata sebelah kiriku. Hingga ada harapan cerah untuk kesembuhan mataku meski harus menunggu jadwal operasi.

Surat spesial di blog ini dari Uda Sjamsir Sjarif, lulusan University of Andalas, Indonesia; UC Davis; University of Illinois, langsung dari USA. Chat inspiratif dengan Mas Gonda Yumitro (teman akrab di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah UGM), Dosen Universitas Muhammadiyah Malang yang saat ini sedang kuliah di Jamia Millia Islamia University. Hingga aku bisa menulis sebuah artikel “Melirik India untuk Kuliah S2.” Silaturrahim dengan Mbak Ferra dan Mbak Renni (Alumni Planologi UNDIP Semarang), dua teman seperjuangan ketika tes bareng di Pelindo beberapa minggu yang lalu.

Kunjungan Dr. Ahmad Iqbal Baqi, doktor UGM bidang Ilmu Kependudukan, beberapa hari yang lalu ke asrama. Sambil meminjam Buku “Messianik Yahudi“-ku untuk dicopy, biar bisa dititipkan di beberapa perpustakaan jurusan di UGM. Dan yang terakhir, tawaran dari Pak Nusyirwan (Dosen Filsafat UGM, yang barusan ujian doktoral Ilmu Filsafat UGM), untuk mengedit disertasi beliau agar bisa segera sidang promosi doktor akhir bulan ini.

Ketika aku terpuruk sendirian menangisi nasib, saat itu juga Allah mendatangkan sosok-sosok istemewa. Membuatku kembali semangat dan bangun dari tangis. Bagaikan awan hitam nan sirna di bawa angin, hingga mentari kembali bersinar terang.

E***, aku masih setia di sini menunggu jawabanmu. Meski dalam sunyi, tapi kukuatkan diri dalam penantian ini. Semakin berkecamuk rasa di jiwa. Hanya bisa pasrah memendam kerinduan yang tak dapat kuungkapkan lewat lisan. Ku berharap, dirimulah labuhan terakhiku. Di dermagamulah, kusandarkan cinta terakhirku. Bersamamu ingin kuarungi dunia. Dalam ikatan kasih sayangmu, ingin kuraih keridhaan-Nya…