Tuhan telah menjawab do’aku beberapa hari ini. Namaku tak tercantum sebagai peserta tes kerja Pelindo yang lulus untuk mengikuti seleksi terakhir. “Ya Allah, jika memang bekerja di Pelindo baik untuk diriku, maka jadikanlah aku sebagai karyawan Pelindo.” Begitu do’a yang kupanjatkan. Dan hasilnya, ternyata Allah tidak menakdirkanku bekerja di sana.

Malam ini aku hanya bisa tersenyum. Sekaligus memberikan ucapan selamat kepada teman-teman satu FGD di LPT UI Salemba yang lulus seleksi. Ada Mbak Renni, dan Mbak Ferra, yang sama-sama lulusan Planologi Universitas Diponegoro Semarang.

Kusampaikan “kabar buruk” ini kepada Bapak. Lagi-lagi Bapak dengan sabar menerima kegagalanku. Tak ada ungkapan marah, kecuali memintaku untuk instropeksi diri akan kelemahan selama ini.

Besok, insya Allah aku akan ke Rumah Sakit Sardjito. Periksa mata kiri yang sudah kentara putih di korneanya. Beberapa bulan yang lalu, saat periksa mata, dokter residen yang lagi ambil spesialis mata di Sardjito bilang, sakit mataku bisa diobati dengan operasi. Ya, mudah-mudahan setelah dioperasi, mataku bisa “normal” kembali.

Rencananya sih, lusa mau langsung ke Pare, ambil program kursus Bahasa Inggris paket Ramadhan. Tapi Bapak  bilang lebih baik periksa mata dulu. Hingga kuputuskan menunda keberangkatan ke Pare Kediri sampai selepas lebaran nanti.

Meski harus berakhir dengan kecewa, tapi aku cukup bahagia hari ini. Bisa mengawali pagi dengan sholat Shubuh berjama’ah. Bisa merampungkan 3 tulisan untuk blog ini, dari pagi sampai sebelum Dzuhur. Bisa menolong menyelamatkan ijazah adik asrama yang kemarin hilang entah kemana. Bisa main sepakbola dengan teman-teman KPP yang diperkuat oleh para pemain Sinar Oetara, klub peringkat 3 Divisi Utama PSIM Yogyakarta tahun ini. Bisa mendapatkan informasi berharga tentang kuliah di India dari Mas Gonda yang saat ini sedang merampungkan program Ilmu Politik di Jamia Millia Islamia University.

Setiap manusia punya takdir sendiri-sendiri. Mungkin belum nasibku untuk bekerja di PT. Pelindo. Namun, semangatku takkan pudar untuk meraih mimpi. Bisa kerja dengan gaji tinggi dan kuliah S2 di luar negeri. Aku akan tetap berusaha mewujudkan mimpi-mimpiku. Karena kuyakin, Tuhan tak pernah tidur dan akan memberikan balasan yang lebih baik buat hamba-hamba-Nya yang mau bekerja keras dan berdo’a.

Di akhir postingan ini, ingin kusampaikan sesuatu padamu “Cinta”. Aku hanya bisa pasrah dengan nasib yang menimpaku. Statusku saat ini, masih tetap saja sebagai pengangguran. Tapi aku akan terus berusaha untuk mencapai kemapanan. Jika engkau berkenan, berikanlah aku waktu sampai akhir tahun ini agar diriku pantas untuk mendampingimu. Karena hanya dua usaha yang bisa kubanggakan di hadapanmu, bekerja di perusahaan-instansi terkenal atau bisa meraih beasiswa kuliah di luar negeri. Kumohon padamu, berikanlah aku waktu. Aku benar-benar mencintaimu sepenuh hatiku. Aku janji, akan membuatmu bangga sebagai pendamping hidupku. “Cinta” mudah-mudahan engkau mengerti keadaanku dan mengabulkan permintaanku…