Judul di atas tentu tidak sedang menertawakan kematian dua korban (Setia Permana dari Fraksi PDIP dan Wahyu Nuraini – istri anggota DPR dari fraksi Demokrasi, Sutjipto)  insiden tenggelamnya kapal yang ditumpangi oleh rombongan anggota komisi III DPR di Dermaga Manado Perairan Bunaken pada hari Sabtu 7 Agustus 2010 yang lalu. Malahan sesama umat beragama, mendo’akan orang-orang yang dipanggil oleh Yang Maha Kuasa merupakan suatu kewajiban.

Hidup dan mati memang sebuah misteri yang telah menjadi pertanyaan para filsuf sejak ribuan tahun sebelum masehi. Kejadian yang mengawali kematian hanyalah suatu sebab pengantar yang tak dapat dijustifikasi sebagai penyebab kematian. Meskipun hukum sebab-akibat banyak dikritisi oleh para filsuf yang menyakini “simultanitas kehidupan” (kejadian B hanyalah urutan peristiwa setelah kejadian B, tanpa saling mempengaruhi), tapi kita masih bisa memakai teori ini untuk menguak hikmah di balik satu peristiwa.

Tragedi Bunaken secara logis dapat dijelaskan dengan ketidaklayakan perahu yang dipakai oleh rombongan anggota DPR Komisi III. Konon, karena kesulitan dana, masyarakat hanya memakai triplek untuk lambung kapal. Disebabkan jauhnya lokasi pengurusan izin kapal, masyarakat urung melengkapi surat ukur yang menjadi sertifikasi kelayakan kapal untuk berlayar. Akhirnya dengan modal pas-pasan dan keterampilan sederhana yang diwarisi turun temurun, para nelayan membuat kapal untuk melaut.

Dengan keberanian dan kepercayaan kepada Tuhan mereka menghadang lautan demi menghidupi keluarga. Kita tak pernah tahu berapa korban yang jatuh karena hempasan ombak menghantam kapal-kapal nelayan itu. Karena memang tak pernah diekspos media. Meninggal di lautan sudah menjadi hal yang biasa bagi para nelayan. Titik destinasi dari sebuah perjuangan kerasnya hidup.

Tapi lain persoalannya jika yang menjadi korban adalah orang-orang penting. Tradegi Bunaken hadir sebagai headline surat kabar nasional beberapa hari ini. Banyak komentar, tapi yang jelas sang nakroda dan anak buahnya ketiban sial. Alih-alih menikmati uang berlebih dari sewaan rombongan DPR, mereka sedang bersiap-siap merasakan hidup di balik terali besi. Apes, karena penumpangnya adalah para anggota dewan terhormat.

Pertanyaan besar yang menjejali pikiran kita adalah apa langkah berikutnya setelah Alex Mahendra sang nakroda kapal dan anak buahnya berhasil dijebloskan ke penjara? Apakah para anggota DPR itu tetap mati rasa dan berjibun dengan strategi-strategi kotor mengembalikan modal sekian miliar yang telah dikeluarkan selama kampanye? Apakah mereka tetap mencari trik dan tips agar dana APBN bisa masuk ke kantong mereka dengan berbagai dalih politis, dana pembangunan-lah, dana aspirasi-lah? Atau karena trauma menggunakan transportasi konvensional, malah meminta anggaran tambahan agar bisa memakai transportasi kelas VVIP agar lebih menjaga keselamatan mereka ketika “bertugas”?

Ataukah peristiwa ini bisa menyentakkan mata mereka akan nasib rakyat bangsa besar ini. Nasib rakyat yang sudah terbiasa bermain dengan nyawa demi sesuap nasi. Nasib rakyat yang sudah biasa hidup menderita tanpa pernah dipedulikan oleh orang-orang yang berkuasa. Masihkah mereka membiarkan alat transportasi bagaikan mesin pembunuh sebagai bagian kebijakan pengurangan pendudukan yang tidak manusiawi?

Entahlah… Kita hanya bisa berharap, setiap kejadian-kejadian mengerikan yang dirasakan langsung oleh para anggota dewan terhormat ataupun yang dialami oleh pejabat negeri ini, bisa menjadi pelajaran bagi mereka untuk lebih peduli kepada rakyat yang selama ini menjadi korban-korban kepongahan dan kesombongan mereka dalam mengelola negara… Amien…