Laki-laki itu barusan menoleh ke kiri, menyelesaikan sholat Tahyatul Masjid. Wajah tampan dengan jenggot lebat yang menghiasi mukanya amat familiar bagiku. Meski sudah lama tak bertemu tapi chemestry spesial masih terasa. Sejenak anganku melayang, mengingat masa ketika tinggal di Wisma Al Madinah. Ya, sosok yang kutemui pagi tadi (Ahad, 8 Agustus 2010), saat kajian Tafsir Al Qur’an di Masjid Kampus UGM, yang dibawakan oleh Ustadz Ridwan Hamidi, adalah Mas Yarfik, kakak senior yang pernah satu kos-an di Wisma Al Madinah. Sebuah wisma para ikhwan Salafi yang dibina oleh Ustadz Ridwan Hamidi, berlokasi di Pogung Dalangan.

Mukanya teduh dan bersih. Tak banyak bicara, tapi orangnya teramat baik. Jago banget bikin website. Bahkan untuk urusan PHP atau My SQL, dua program andalan untuk menjadi web master, mas Yarfik pake referensi berbahasa Inggris.

Setiap pagi saat mengantri kamar mandi menjelang kuliah, kami selalu ngobrol tentang banyak hal. Saat makan siang bareng dan sehabis sholat Isya, ruang tamu Al Madinah selalu riang dengan obrolan kami se wisma. Ada Mas Arya (Akuntansi UGM), Mas Icuk (Teknik Geodesi UGM), Obi (Teknik Mesin UGM), Mas Tata (Teknik Mesin UGM), Mas Dodo (Teknik Mesik UGM), tentunya juga Mas Yarfik. Bahkan Mas Rizal (Teknik Elektro UGM), yang biasanya sering di kamar, ikutan nimbrung dalam obrolan kami.

Sama denganku, Mas Yarfik memang agak lama juga lulus dari UGM. Masuk UGM tahun 1997 di jurusan Teknik Elektro, beliau baru berhasil menyelesaikan sarjana-nya pada tahun 2005. Itupun tanpa ikut wisuda. Karena memang bagi beliau, wisuda hanya ceremony yang banyak unsur maksiatnya.

Aku begitu kagum dengan kecerdasan mas Yarfik. Kagum dengan keistiqomahannya terus ngaji di Salafi. Tak seperti diriku yang sudah jauh dari Salafi. Tapi, perubahan dalam diriku tak membuat perlakuan mas Yarfik berbeda. Masih seperti dulu. Obrolan kami selepas kajian, terasa hangat, sama seperti dulu.

Mas Yarfik adalah warga Jakarta yang memilih berkarier di Jogja. Baginya Jakarta tak lagi kondusif untuk menjaga keistiqomahan. Berbeda dengan Jogja yang memang gudang para ustadz Salafi dan teman-teman ngaji. Meski hanya bekerja sebagai web master, Mas Yarfik berhasil membangun keluarga bahagia dengan mengontrak rumah di daerah dekat Pesantren Taruna Al Qur’an.

Buat Mas Yarfik, sukses ya. Meski tak sampai satu tahun ngekos bersama di Al Madinah, tapi sungguh momen-momen kebersamaan karena agama begitu kurasakan. Semoga satu hari nanti, kita bisa kumpul-kumpul lagi, bareng dengan alumni Al Madinah yang lainnya. Amien…:)