Kasih sayangku… Tak dapatku meluahkan… Hanya kau saja… Di dalam sanubariku… Kebahagiaan… Hasil kepercayaanmu… Membuatku yakin pada dirimu… Untuk selamanya…

Tak ada greget berteriak seperti biasa, mengajak teman-teman asrama main sepakbola. Ajakan mainpun kutanggapi dingin. Entah kenapa, sejak siang tadi tubuhku tiba-tiba lemah tak bertenaga. Telah kucuba tidur siang melepas lelah sehabis ikut tes toefl di JED Melati Wetan. Namun, letih ini terlalu kuat mendekap tubuhku.

Mungkin kekecewaan karena tak lulus seleksi Indonesia Mengajar, membuatku jadi tak bersemangat. Begitu besar harapanku untuk mengabdi kepada negeri lewat program yang dirintis oleh Pak Anies Baswedan itu. Optimis sempat muncul ketika tanpa kuduga, Pak Anies memberikan komentar atas tulisanku di Kompasiana dengan title, “Indonesia Mengajar: Gerakan Pendidikan Anies Baswedan“.

Melihat deretan nama-nama pelamar yang lulus, hanya menyisakan tubuh gontai. Tak tertera namaku. Ada rasa kecewa, ada rasa frustasi yang berkelibat di pikiranku. “Ah mungkin aku memang tidak ditakdirkan untuk mengabdi untuk negeri ini.” Telah kucuba masukan lamaran, tapi inilah hasil yang mesti kuterima. Kesempatan untuk menyampaikan visi dan misipun tidak diberikan oleh Team Indonesia Mengajar lewat direct assignment. Sungguh bertumpuk idealisme dan semangat nasionalisme ketika mengisi data online pendaftaran Indonesia Mengajar. Bahkan sampai 3 kali aku harus mengulang mengisi formulir online karena koneksi internet yang tak stabil. Padahal untuk mengisi seluruh formulir memakan waktu lebih dari satu jam.

Ah, sudahlah. Setiap seleksi memang harus menyingkirkan orang-orang yang dianggap oleh penyelenggara tidak memenuhi kualifikasi. Mau apa lagi. Yang penting sudah berusaha, soal hasil tiada aku punya kuasa.

Saat ini hanya tinggal satu kesempatan, pengumuman PT. Pelabuhan Indonesia II yang akan dipublish hari Senin besok. Aku hanya pasrah dengan apapun yang terjadi. Meski besar harapanku untuk diterima, tapi kalaupun harus menelan pil pahit, aku harus menerima dengan lapang dada.

Di titik ini aku mendekati kumulasi frustasi. Aku tak tahu, apakah masih sanggup menerima kegagalan demi kegagalan lagi. Selama ini aku hanya bisa membangkitkan semangatku lewat mimpi dan ilusi. Tapi hanya bisa bertahan sebentar saja. Setelah itu stress dan putus asa mendekatiku.

Bait yang kukutip di atas adalah syair lagu “Demi Kasih Kita” yang dibawakan oleh Kak Siti Nurhaliza. Paling tidak aku masih mampu bertahan untuk menunggu jawaban darimu. Melebihi berat menunggu pengumuman hasil tes kerja, penantian yang engkau pinta, hanya bisa kuobati lewat nyanyian romantis dengan lirik optimistik.

Mendekati Ramadhan kali ini, sungguh berat ujian kuterima. Hampir-hampir aku terjerat dalam destinasi frustasi dan putus asa. Hanya do’a yang bisa kupanjatkan. Karena serasa tak bisa lagi membantu diri sendiri. Aku hanya berharap ada keajaiban dari Tuhan. Jika tidak, aku tak lebih dari sebutir pasir yang tak punya kuasa apa-apa…

Ya Allah, jangan biarkan situasi sulit ini terus menghampiriku. Betapa ingin aku segera bisa bekerja. Melepas beban yang terlalu lama kutimpakan pada orang tuaku. Menyongsong fajar baru, menunaikan Sunanh RasulMu yang hanya bisa kuraih ketika aku telah memiliki kemandirian. Ya Rabb, tolonglah hambaMu yang dhaif ini….