Beruntunglah istri uda nanti mendapatkan suami yang luar biasa sabar, perasaan cinta yang mendalam dan kesetiaan yang tidak diragukan…

Malam semakin larut. Mata sebenarnya sudah 5 watt. Tapi keinginan besar untuk menulis di blog ini, urungkan niatku untuk segera berbaring di kasur. Aku masih deg-degan dengan hasil tes yang akan diumumkan besok. Hanya do’a yang bisa kupanjatkan, seraya berusaha ikhlas dengan apapun hasil yang akan tertera nantinya.

Tadi sore, bisa main bola lapangan besar dengan teman-teman kampung Karangwaru, setelah lebih satu bulan tidak latihan bareng. Masih tersisa letih sampai malam ini, namun ada rasa gembira menikmati keakraban dengan teman-teman dan bapak-bapak yang dulu mengajariku bermain sepakbola.

Sepenggal kalimat di atas adalah kiriman dari Mas Gonda Yumitro, teman karibku saat masih sama-sama di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Terkenal dengan kecerdasan dan kesholehannya, aku merasa beruntung bisa kenal dekat Gonda. Kemampuan bahasa Inggrisnya luar biasa. Bahkan sempat marah-marah pake bahasa Inggris pas rapat di Sekretariat IMM UGM. Maklumlah Gonda kuliah di Hubungan Internasional UGM, yang memang gudangnya calon diplomat.

Selepas wisuda tahun 2006, aku masih sempat bertemu dengannya. Sempat nganggur juga karena beberapa tawaran ditolak karena tak sesuai dengan idealismenya. Awal tahun 2007, kudapatkan kabar teman dari Bengkulu ini diterima jadi dosen di Universitas Muhammadiyah Malang.

Kupikir jadi dosen memang pilihan terbaik untuk Gonda. Kemampuan retorikanya tak diragukan lagi. Tak kalah dengan Febri Diansyah, temanku dari Forkommi UGM, yang sekarang sering muncul di televisi dalam kapasitasnya sebagai peneliti ICW. Ditambah lagi kesholehan dan ilmu agama yang mumpuni karena lama ngaji di Salafy. Pokoknya top banget deh.

Terakhir, lewat facebook ku ketahui, Mas Gonda lagi studi di India. Persisnya di Jamia Millia Islamia University. Kalau melihat kapabilitas intelektualnya, sebenarnya Gonda bisa saja ambil S2 di Amrik, Europe, ataupun di Australia. Tapi aku yakin, pilihan ke India sangat kental dengan nuansa idealisme yang memang begitu jelas terlihat sejak ia menjadi mahasiswa. Sebuah pilihan yang mengingatkanku pada Prof. Yusril Ihza Mahendra. Tokoh favoritku yang juga menyelesaikan studi S2 di India.

Untaian kata-kata di atas dari sosok sekaliber Gonda, menjadi inspirasi sangat berarti bagiku. Semakin membuatku kuat untuk memperjuangkan cinta yang telah kuikrarkan kepadamu. Meski baru akan memasuki minggu kedua penantian menunggu jawabanmu, aku masih kuat dan tak terlena dengan godaan-godaan yang mengalihkan pandanganku. Semua kuserahkan kepadaNya. Dalam lantunan do’a, kupasrahkan pada Allah akan akhir dari semua kisah ini. Jika memang drimu baik untuk diriku, agamaku, masa depanku, dan keluarga, kupinta pada Allah agar engkau jadi pendamping hidupku…

Agaknya mataku sudah tak mau berkompromi lagi. Saatnya untuk berbaring melepas lelah seharian. Semoga ada esok yang indah buat kita… Amien… Selamat malam “Cinta”, dalam tidur ini, kuingin engkau datang dalam mimpi. Biar terobati rasa rindu yang berkelindan di hati ini… I Love U, Honey…