Tanah masih basah, dedaunan masih menyisakan buliran air, selepas hujan lumayan deras siang tadi. Mentari kembali bersinar terang, meski hanya menunggu beberapa jam lagi tenggelam ke peraduannya. Kucuba menulis lagi di blog ini, sambil melepas kesunyian melewati kesendirian jauh darinya dan kegelisahan menunggu hasil tes kerja Pelindo dan Indonesia Mengajar yang akan diumumkan hari Sabtu besok.

Suasana sore ini terasa melankolis. Menjelang sholat Ashar tadi, saat kucuba berbaring melepas lelah setelah memulai aktivitas sejak pagi, emosi tertumpuk di dada. Hampir saja airmata mengalir. Saat merasakan suasana yang tak biasa.

Ketika mengantar teman-teman asrama ikut tes toefl gratis di JED Melati Wetan sambil menanyakan kelas toefl preparation untuk bulan Ramadhan, tanpa sengaja aku melihat sosok yang familiar. Setengah berteriak, lelaki muda itu menyapaku, ‘Hi Mr…”. Segera aku masuk ke lorong JED menghampiri. Tangannya terbuka lebar, terus memelukku. Berlanjut dengan obrolan ringan pake bahasa Inggris.

Dia adalah Mr. Ahwy. Instruktur favoritku di JED. Sudah lebih satu setengah bulan kami tak bertemu, setelah pertemuan terakhir di minggu ketiga kelas advance JED Center Gowok. Aku tak sempat menyelesaikan kelas advance dengan beliau karena harus wira-wiri Jogja-Jakarta mengikuti tes kerja. Setelah itu, kami tiada lagi berjumpa. Dari 4 level yang kuikuti di JED, 2 diantaranya aku diajar sama Mr. Ahwy untuk kelas conversation. Aksennya yang fasih mirip bule, maklumlah konon beliau menghabiskan waktu 2 tahun di Pare Kediri -kampung Inggris yang terkenal itu-, dan gaya ngajarnya yang santai diselingi humor-humor cerdas membuatku “jatuh hati” dengannya, sekaligus jatuh cinta dengan Bahasa Inggris. Mr. Ahwy membuat bahasa nomor satu di dunia ini seakan begitu mudah dipelajari. Menghilangkan momok menakutkan yang sudah kudera bertahun-tahun lamanya.

Aku sempat menikmati belajar Bahasa Inggris saat masih SMP. Tapi di SMA bertemu dengan guru-guru yang kurang simpatik, membuatku benci setengah mati. Seringkali aku memilih tidur di masjid sekolah, daripada harus mengikuti pelajaran bahasa Inggris di kelas. Alhasil, nilai 4,00 mampir di ijazah SMA-ku untuk pelajaran “menyebalkan” ini.

Saat kuliahpun, tak tergerak hatiku belajar bahasa Inggris. Hingga toefl 300-an pun harus rela kuterima saat lulus S1. Baru setelah tertohok saat melamar kerja di Bank Mandiri, ketika aku mati kutu menghadapi interview bahasa Inggris, kesadaran itu muncul. Nyari informasi sama teman-teman di kampus, akhirnya kuputuskan ambil kursus di Jogja English Dormitory alias JED.

Di JED-lah aku baru menemukan semangat belajar Bahasa Inggris. Di sini aku bertemu dengan guru-guru yang unik. Bahkan kebanyakan dari mereka lebih muda dariku. Tapi suasana kelas begitu riang, hingga membuatku tak mau kehilangan satu kelaspun meski harus menjalani jadwal kursus padat dari Senin sampai Kamis.

Pertemuan tadi pagi dengan Mr. Ahwy, plus dekapan hangat persahabatan, membuatku kembali bangkit untuk mengejar score toefl 550. Aku ingin bisa cas-cis-cus ngomong Inggris layaknya Mr. Ahwy. Aku masih mengantungkan impian bisa kuliah di luar negeri dalam catatan cita-citaku.

Terima kasih Ya Allah, telah mengenalkan aku dengan sosok-sosok spesial. Orang-orang istimewa yang memberikan inspirasi agar tak terpuruk dalam keputusasaan. Insan yang menghadirkan harapan bahwa tak ada yang tak mungkin jika kita mau berusaha.

Mr. Ahwy, terima kasih atas kelas yang riuh hingga aku tak canggung lagi menghadapi tes interview dalam bahasa Inggris.

E***, makasi atas waktu yang dirimu berikan kepadaku. Sungguh kehadiranmu membuatku sadar untuk terus memperbaiki diri. Senyummu telah menjadi semangatku. Kilasan bayangmu, telah mengisi sepi dalam hatiku… Terima kasih Honey…