Dua tokoh nasional dari Minang, entah sengaja atau tidak, menulis kegelisahan yang hampir sama di dua surat kabar nasional hari ini. Buya Prof. Dr. Syafi’i Ma’arif dengan artikel “Demokrasi dan Peluang untuk Perbaikan” di Resonansi Republika, dan Prof. Azyumardi Azra lewat tulisan “Apatisme Politik” di Opini Kompas. Dua Guru Besar Sejarah yang menyelesaikan Master dan Doktor di Amerika Serikat ini memiliki kegelisahan hampir senada tentang kondisi yang menimpa bangsa ini di bawah kepemimpinan 5 tahun kedua Susilo Bambang Yudoyono.

Buya Syafi’i bercerita tentang tiga obrolan dari tiga kalangan profesi yang sempat curhat dengan beliau beberapa waktu lalu. Ada seorang anggota DPR, masih muda, kritis, dan idealis, yang berujar, “Kurang dari sepertiga dari 560 keseluruhan wakil rakyat yang benar-benar berkualitas.” . Seorang mantan pejabat penting di Kementerian Keuangan yang berkeluh-kesah, bahwa selama ini pemerintah engan masuk pada hal-hal substansial. Terakhir, ada artis yang meminta “restu” untuk membakar gedung-gedung vital pemerintah.

Prof. Azyumardi mengemukakan keheranan koleganya di luar negeri yang bertanya-tanya, kenapa sekarang Indonesia adem-ayem saja? Padahal biasanya demonstrasi besar-besaran baik yang melibatkan LSM, Aktivis Mahasiswa ataupun masyarakat selalu memenuhi Gedung Senayan dan jalan-jalan protokol Jakarta. Apalagi banyak isu yang bisa diangkat, banyak masalah yang bisa diteriakan. Tapi semua tampak diam. Alih-alih berkesimpulan bahwa ini merupakan keberhasilan pemerintah mengelola konflik yang ada lewat “pidato-pidato manis menyejukkan”, Prof. Azyumardi melihat gejala ini sebagai bentuk apatisme politik, karena teriakan, suara kritis, dan demonstrasi dianggap angin lalu saja oleh para pemimpin negeri ini.

Kebuntuan mengingatkan pemerintah lewat aksi jalanan secara kasat mata memang memperlihatkan situasi kondusif. Aparat bisa santai-santai di kantor tanpa harus bentrok dengan demonstran. Para pengguna jalan Jakarta tak lagi harus terlambat kerja gara-gara macet akibat titik-titik perkumpulan massa.

Rakyat yang sebenarnya sudah menderita dengan berbagai kebijakan pemerintah tak lagi ingin repot-repot omongin masalah politik dan hiruk-pikuk kekuasaan yang cuma menjadi permainan para elite. Sejak pagi mereka sudah bergelut demi sesuap nasi. Terkadang harus bekerja sampai larut malam. Tak salah jika tontonan yang lebih mereka sukai adalah sinetron atau komedi-komedi humor seperti Opera van Java, karena badan sudah capek bekerja seharian. Bisa sakit kepala kalau nonton berita atau nonton diskusi-diskusi malam yang tak lebih dari “spech contest” dari orang-orang yang punya talenta beretorika tanpa aksi nyata.

Para sarjana harus berjibun mengantre tes kerja. Saling sikut memperebutkan satu kursi dengan ratusan ribu pelamar lainnya. Ijazah Universitas tak memberikan jaminan apa-apa karena perusahaan punya seleksi khusus dalam mencari karyawan dengan berbagai macam ragam seleksi dengan bantuan Lembaga-Lembaga Konsultan.

Sementara itu, para pedagang dadakan menjual perlengkapan tes kerja dengan harga tak masuk akal. Memanfaatkan sifat pelupa jobseeker yang serba terburu-buru. Aji mumpung yang melahirkan sumpah serapah, “Pantas saja hidup melarat. Orang lagi susah, eh malah  dimanfaatin.”

Di stasiun kereta api, anak-anak kecil pedagang asongan masih berkeliaran hingga tengah malam. Seharusnya mereka sudah tidur, agar besok bisa bangun pagi untuk sekolah. Ah, sekolah… Kata yang aneh untuk mereka. Lebih baik nyari uang daripada sekolah yang cuma menghabiskan uang saja.

Kita tentu bertanya-tanya, kenapa Buya Syafi’i yang sudah “uzur” masih berteriak ke sana ke mari dengan semangat membara meskipun tampak jelas raut nada “keputusasaan” melihat pemimpin bangsa yang seolah tak peduli dengan nasib negeri ini??? Mengapa Prof. Azyumardi geram dengan kemunafikan politik, dengan mengatakan, “Kepemimpinan yang dapat mencegah apatisme dan frustrasi politik adalah kepemimpinan yang bertumpu pada integritas; kepemimpinan yang menyatu antara perkataan dan perbuatan, tidak sekadar berbasa-basi untuk menyenangkan semua orang.”???

Sebagai pakar sejarah yang tentunya belajar tentang “History of Civilization”, bagaimana suatu bangsa hancur tak berbekas, kegelisahan beliau berdua tentu sangat beralasan. Kesenjangan sosial yang semakin curam, mental bobrok yang sudah mendominasi, kemunafikan yang telah menjadi pakaian sehari-hari sudah cukup menjadi bukti bahwa negeri ini sedang berada di pinggir jurang kehancuran.

Bertele-tele sambil membujuk masyarakat dengan pidato-pidato manis sama sekali tidak merubah keadaan, bahkan semakin mempercepat bom waktu kemarahan rakyat.  Menimpali kasus satu dengan kasus yang lain tanpa penyelesaian yang jelas, sama saja menggali lobang kematian untuk diri sendiri.

Saat ini rakyat diam karena sudah bosan dengan janji-janji. Untung saja rakyat sudah terbiasa sabar dengan penderitaan. Masih berusaha mencari sesuap nasi tanpa harus dibantu para pemimpin korup yang cuma memikirkan dinasti-nya sendiri.

Tapi sampai kapan? Sampai kapan rakyat menyaksian sandiwara politik memuakkan plus bikin muntah yang disiarkan ke seluruh negeri lewat televisi yang pemiliknya saling baku hantam? Sampai kapan rakyat dikenyangkan dengan retorika-retorika para ahli, tanpa aksi nyata yang membumi?

Entahlah… Buya Syafi’i di tengah kegelisahan hanya menyarankan kepada kita, “Teruslah berteriak menyampaikan kebenaran. Dan lakukan sekecil apapun perubahan demi perbaikan.” Sebagaimana Nabi Nuh yang terus berdakwah sampai ajal datang dengan rentang waktu lebih dari 900 tahun. Manusia tetap bisa bertahan sejauh ia memiliki harapan. Tentu kita berharap akan ada perbaikan di negeri ini selama masih ada orang-orang baik yang memikirkan dan mengabdi dengan ikhlas. Seperti optimisme yang disampaikan oleh Pak Anies Baswedan beberapa hari lalu di sebuah tulisan saya di Kompasiana,

“Saya percaya di negeri ini banyak orang baik, yang dengan caranya sendiri, ingin mewujudkan Indonesia yang lebih baik untuk semua.”

Semoga kita termasuk dalam barisan Soekarno dan Hatta, berada di garda Syahrir dan Tan Malaka, yang telah berjuang untuk kemerdekaan negeri ini dengan jiwa raga mereka…. Kita berlindung kepada Tuhan, dari golongan-golongan pengkhianat bangsa, orang-orang munafik yang menjual negeri sendiri kepada Kompeni, yang bisa hidup senang lewat kelicikkan, tapi tak bisa hidup tenang karena akan disumpahi generasi mendatang…