Selain menjadi PNS, bekerja di BUMN alias Badan Usaha Milik Negara merupakan impian banyak sarjana di Indonesia. Dengan gaji dan fasilitas memadai sekaligus suasana kerja yang lebih kondusif, BUMN jadi pilihan bagi anak-anak muda yang energik dan idealis untuk berbakti membangun negeri. Daripada harus jadi kuli perusahaan multinasional atau perusahaan milik kapitalis domestik. Meskipun digaji lebih tinggi tapi tenaga kita dikuras untuk memperkaya para expatriat yang kemudian menempatkan dirinya dalam jejeran orang terkaya di dunia.

Ketika BUMN diberikan keleluasaan untuk mengelola sumber daya alam dan jasa, bahkan beberapa menjadi pemain tunggal, namun masih saja kita mendengar laporan keuangan minus dari beberapa BUMN. Yang paling santer disebut oleh media adalah PLN dan PDAM. Dua pemain tanpa saingan di bidang kelistrikan dan air minum.

Meski sudah diusahakan dikelola dengan profesional, tapi tetap saja masih membebani negara. Ketika banyak BUMN yang melaporkan neraca keuangan minus tiap tahunnya, pemerintah keteteran menyusun anggaran. Karena laba BUMN sangat diharapkan tak kunjung masuk ke kas negara. Tentu kita akan bertanya-tanya, sudah diberi regulasi istemewa tapi kok ngak bisa bekerja maksimal?

Mungkin jawaban lebih ilmiah bisa diberikan oleh para pakar ekonomi dan para praktisi BUMN. Bergerak jauh dari analisa ekonomi, penulis mencoba melihat fenomena ini dari “pendekatan simbol”, yang dulu sedikit pernah penulis pelajari saat kuliah di Fakultas Filsafat UGM.

Simbol atau logo perusahaan sangat terkait psikologi pasar. Logo memberikan image dan menghadirkan kesan kepada konsumen. Maka ketika Pertamina dan Telkom ingin punya maskot baru, mereka bela-belain menghabiskan uang miliaran rupiah.

Meski logo atau simbol sangat dipengaruhi oleh faktor psiko-ekonomis, agar market pasar lebih luas, namun semua itu tidak bisa dilepaskan dari faktor ideologis. Tiada satupun simbol tanpa makna. Semua memuat arti. Sementara arti lahir dari sebuah ideologi.

Marilah kita perhatikan logo-logo BUMN yang saat ini berjumlah 141 perusahaan. Jika kita lebih jeli memperhatikan maskot perusahaan-perusahaan negara yang sudah go public itu, ada fenomena menarik yang bisa ditangkap. Ternyata sebagian logo BUMN didominasi oleh warna biru.

Cubalah lihat logo Jasa Marga, PT. Telkom Indonesia, PT. Timah,  Asuransi Jasindo, KBN, RRI, Semen Gresik, Kimiafarma, Sucofindo, Bank Rakyak Indonesia, Bukit Asam.  Tampak jelas nuansa biru dalam logo perusahaan-perusahaan itu.

Kemudian, sejenak kita bayangkan jika warna bendera kita Sang Merah-Putih digandingkan dengan warna biru? Bukankah mirip dengan bendera Belanda??? Mungkin hanya sebuah kebetulan… Mungkin… Namun, melihat sepakterjang BUMN yang terus merugi walaupun sudah memonopoli, boleh-boleh saja kan kita mencoba membandingkan kinerja VOC yang kolaps gara-gara massifnya praktek korupsi dengan BUMN???

Pemerintah ngos-ngosan mencari jalan keluar bagaimana meminimalisir kerugian perusahaan plat merah itu. Rilis dari Menteri BUMN bulan januari yang lalu, menyatakan tahun 2008 ada 28 BUMN yang merugi. Tahun 2009 berjumlah 20 dan tahun ini ditargetkan hanya 10 saja yang merugi. Jumlah cuba diminimalisir lewat mekanisme akuisisi dan likuidasi.  Entah berapa BUMN yang merugi sebelum tahun 2008, tahun 1990-an, tiada penulis ketahui.

Ruginya sebuah perusahaan yang telah diberikan keistimewaan dan kemudahan dalam menjalankan usahanya, tentu menjadi bahan pertanyaan. Indikasi manajerial yang tidak beres juga bisa menjadi indikator kegagalan.

Kondisi ini semakin runyam, ketika kinerja BUMN belum maksimal menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Bahkan masih banyak rakyat yang tak merasakan nilai positif dari kehadiran BUMN. Beberapa kali juga timbul perlawanan terhadap beberapa program BUMN karena telah menganggu aktivitas sosial-ekonomi mereka.

Lagi-lagi, analogi VOC yang bangkrut meski sudah memonopoli perdagangan rempah-rempah di Nusantara menjadi klop dengan kondisi BUMN kita saat ini.

Pertanyaan besar yang mengelayuti kita sebagai anak negeri yang mungkin mau sedikit peduli dengan bangsa ini adalah APAKAH BUMN ITU COMPANY yang dikelola dengan baik atau KOMPENI yang hadir untuk “menguras” kekayaan negeri kemudian hanya berujung rugi??? Entahlah…

Mudah-mudahan lewat tulisan ringan ini, sudah bisa menjadi setitik kepedulian sebagaimana yang dikatakan oleh Buya Syafi’i Ma’arif, “Anda berteriak kritispun, itu sudah menjadi nafas buat negeri ini untuk bertahan.”

Kritik karena cinta lebih konstruktif dari pidato-pidato manis fatamorgana. Kita ingin negeri ini terus bertahan, seperti kata Buya, “Sampai satu detik menjelang kiamatpun, kita seharusnya berjuang untuk keutuhan negeri ini.”

AKU CINTA PADAMU INDONESIA… MERDEKA…

NB: Tulisan ini terinspirasi dari obrolan bersama seorang teman SMA, Muhammad Imran, alumni Magister Manajemen Universitas Indonesia, yang barusan pulang dari China setelah kursus bahasa Mandarin di sana selama satu tahun. Obrolan di sela-sela tes kerja yang kujalani di Jakarta untuk sebuah BUMN, PT. Pelabuhan Indonesia II. Obrolan menjelang keberangkatannya kembali ke China, karena diterima di Perusahaan Adidas Regional China.