Suasana riuh pagi ini di asrama begitu berkesan. Sangat terasa kekeluargaan asrama yang beberapa waktu belakangan seolah hilang. Duduk bareng di ruang tv sambil menyantap sarapan setelah membersihkan asrama. Diiringi suara musik yang diputar full oleh teman dari kamar sebelah. “Jauh” dari “Coklat” membuat anganku terbang jauh. Jauh melewati lintasan waktu.

Kucuba menghubungi handphonemu, tapi tiada engkau angkat. Mungkin dirimu lagi keluar. Tiada gundah, tiada resah kecuali sebuah kesabaran bahwa ini bagian dari perjuangan. Cuba kuingat lagi masa lalu, aku tersadar bahwa engkau hadir jauh sebelum Greaty. Kita bertetangga, tapi engkau jarang keluar. Aku yang suka kesana-kemari bersama anak-anak Sinapa, cukup liar untuk gadis kecil rumahan sepertimu.

Tempatku berjumpa denganmu hanyalah di musholla, atau ketika aku sengaja main ke rumah teman kecil kita, Mela dan Dinal, yang kebetulan rumahnya bersebelahan denganmu. Aku yang dulu begitu pemalu hanya bisa tersenyum, sambil menyapa “hai” saja. Kemudian pamit karena geregetan tak karuan.

Aku sudah menyukaimu jauh sebelum aku bertemu dengan Greaty. Namun, rasa itu hanya tertanam di hati, tanpa pernah kuungkapkan. SD dan SMP kita tak sama. Karena engkau bisa sekolah di tempat yang bagus di kota kita. Baru di SMA kita bertemu lagi. Dua tahun se-kelas. Pesonamu yang telah hadir sejak masa kecilku, hanya bisa kupendam. Sesekali aku minjam catatan ataupun buku pelajaran ke rumahmu. Maklumlah, aku memang bukan siswa yang begitu pintar saat SMA. Engkau masuk 10 besar teratas di kelas, sementara aku terpuruk di peringkat 10 besar terbawah. Di kelas 3 kita beda kelas. Yang kemudian berujung dengan perpisahan yang cukup jauh. Engkau kuliah di Padang, sementara aku kuliah di Jogja.

Setelah kucuba iseng-iseng nyari di internet, ternyata aku sedikit menemukan profilmu. Lulusan Terbaik Fakultas Ekonomi Universitas Bung Hatta, universitas swasta terbaik di Sumatera Barat dengan IPK 3,65. Dalam jangka waktu 3,5 tahun, engkau berhasil menyelesaikan kuliah. Aku tak dapat membayangkan bagaimana kesedihanmu ketika tak lulus SPMB 2002. Setelah kutahu engkau gagal karena sakit pas hari ujian, aku hanya bisa mengurut dada. Sayang, gadis pintar sepertimu tak bisa kuliah di pulau Jawa sebagaimana kakak-kakakmu. Meski begitu engkau telah membuktikan kehebatanmu dengan meraih predikat lulusan terbaik untuk jurusan yang sulit, Akuntansi.

Ketika kemarin datang ke Jakarta, ngobrol panjang lebar dengan teman-teman SMA kita, aku semakin terpesona denganmu. Semua memuji, semua memberikan apresiasi. Ketika kita bersua lagi di Mall Ambasador, sinar wajahmu, manisnya senyummu, masih terasa seperti dulu. Engkau lebih simpatik dan ceria dari masa SMA. Engkau lebih banyak bicara, sementara aku lebih sibuk mengendalikan getaran-getaran aneh yang berkelibat di dadaku.

Pertemuan kedua kita di Jakarta, di Plaza Semanggi, terasa semakin berkesan. Sesekali aku mencuri pandang, karena tak kuasa aku menahan rasa. Cinta masa kecil itu terbit kembali. Getaran halus itu, hadirkan ekstasi spesial di hati ini.

Aku hanya bisa berharap untuk meraih cintamu. Karena aku sadar, saat ini aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanya seorang pengangguran yang baru berhasil menyelesaikan kuliah hampir 8 tahun lamanya. Aku hanya pria biasa yang tiada punya keistimewaan. Yang kupunya hanyalah ketulusan untuk mencintaimu sepenuh hatiku.

Jika engkau masih membuka hati, aku hanya ingin memohon padamu, ntuk berikan aku waktu. Berikan aku kesempatan untuk berjuang mendapatkan pekerjaan. Agar aku pantas menjadi pendampingmu.

Tapi semua ku-ikhlasan pada Tuhan. Apapun akhir dari penantian ini, akan kuterima tanpa penyesalan. Karena aku sadar sepenuhnya, aku hanyalah hamba yang cuma bisa berusaha, sedangkan hasilnya di tangan Yang Maha Kuasa. Jika jodoh, tentu tak akan lari kemana. Jika bukan, berusaha sekuat apapun pasti tak akan bisa hidup bersama.

Di sini ku menantimu. Kuatkan hati untuk tak mencintai gadis lain. Hatiku kini hanya untukmu. Tak akan kuingkari janji yang telah kuucapkan beberapa hari lalu.

Terserah orang mau bilang apa tentang masa laluku. Terserah cibiran apa yang akan mereka ludahkan ke mukaku. Cintaku kepadamu lahir dari hati. Bukan sekedar pelarian, apalagi hanya sekedar permainan. Bersamamu, aku ingin menjalani hidup baru. Tanpa harus terbebani dengan masa laluku yang begitu menyakitkan… I Love U, Honey…