Malam minggu ini kembali sunyi. Sama seperti malam-malam minggu yang lalu. Kucuba hilangkan sepi lewat tembang manis “Color of My Love” yang dibawakan oleh Kak Siti Nurhaliza. Sambil merasakan dinginnya angin Jogja. Begitu sejuk, perlahan masuk ke seluruh tubuhku. Sangat berbeda dengan hembusan angin Jakarta yang kurasakan satu minggu ini.

Baru jam 8 tadi pagi aku sampai di Stasiun Tugu. Kereta Senja Utama Solo yang kutumpangi, terlambat 3 jam karena ada kecelakaan kecil di stasiun Manggarai. Capek karena kamis malam baru tidur jam 3, keasyikan ngobrol sama Mas Jimmy dan Mas Frans di kos-an teman SMA, tempat aku menginap di Jakarta, cuba kuredam dengan menggelar koran di lantai stasiun Senen. Tubuhku kembali dingin karena sakit muntah-muntahku kambuh lagi. Polusi Jakarta terlalu kuat menyerang tubuhku. Berselimutkan jaket kesayangan, kucuba usir dingin nan mendera. Tapi tak jua hilang. Kukirimkan sebuah sms pada “dia”. Tanpa berharap ada balasan, karena sudah lewat jam 10 malam. Selang 5 menit, “dia”-pun mengirimkan sms. Sontak semangatku hadir kembali. Ada rasa yang tak biasa, ada kekuatan baru, yang membuatku kuat kembali.

Sesampai di asrama, setelah dijemput teman asrama di stasiun Tugu, segera aku mandi. Tes kerja Harian Jogja telah menanti. Kupikir tes baru mulai jam 9.30. Eh ternyata sudah dimulai jam 08.30. Setengah hati kudatangi kantor Harian Jogja di bilangan MT. Haryono Jokteng Kulon. Sesampai di sana, para peserta lain sudah sibuk dengan lembaran soal. Aku segera ambil posisi dan diserahi lembar jawaban beserta lembar pertanyaan tes. Baru 5 menit mengerjakan, pegawai sana sudah mengambil lembar pertanyaanku. Timbul rasa kesal di hati. Hanya sampai tes ketiga, kuputuskan pulang saja. Tubuhku yang belum stabil dan perut yang mulai berontak tak bisa lagi kutahan. Daripada harus terkapar karena menahan lapar dan sakit, aku memutuskan untuk mengundurkan diri.

Dalam perjalanan menuju asrama, aku berpikir, mungkin aku memang ngak cocok jadi wartawan. Terhenti di psikotes koran Republika, yang hanya menyisakan 3 orang untuk mengikuti seleksi berikutnya, membuatku berpikir mungkin jadi wartawan bukan jalan hidup. Beberapa kali menjadi headline di kompasiana dan mendapat apresiasi dari beberapa tokoh nasional seperti Pak Yusril Ihza Mahendra serta Pak Anies Baswedan yang sempat memberikan komentar atas tulisan-tulisanku, bukan jaminan untuk jadi wartawan. Tulisanku lebih banyak refleksi sebagaimana yang dikatakan Pak Anies. Pengaruh filsafat memang terlalu kuat, membuat tulisan-tulisanku cendrung kontemplatif. Agak berbeda dengan gaya wartawan yang lebih informatif faktual. Bagiku menulis hanyalah sekedar hobi. Tempat mencurahkan isi hati. Tempatku menangis, berontak dan meluahkan semua apa yang ada di pikiran atas kejadian-kejadian yang menghampiriku.

Malam semakin dingin. Tubuhku semakin lelah, setelah tadi sore menyempatkan diri main sepakbola di lapangan Karangwaru yang penuh debu. Umpanku masih akurat, meski stamina menurun setelah satu minggu tak berolahraga.

Lagu Kak Siti semakin dalam merasuki jiwaku. Angan jauh terbang ke sana, ke kota Jakarta. Mengingat seseorang spesial yang dua malam kutemui. Pertemuan istimewa setelah bertahun-tahun tiada berjumpa. Kusampaikan salam lewat angin malam kepadamu “Cinta”. Engkau telah hadirkan semangat baru bagiku. Inspirasi yang membuatku kembali optimis memandang hari esok. I Love You, Honey…