“Ada getar tak biasa… Ada mimpi nan ingin menjadi nyata… Ada senyum ketika teringat dirinya… Semua berkelindan jadi satu… Dalam penantian berbalut besarnya harapan… Rasa suka nan telah bermula semenjak masih remaja, hari ini bersemi menjadi cinta… Kuungkapkan rasa ini dengan jujur, disaksikan langit dan hembusan sejuknya angin Jakarta… Sebagaimana cinta yang lembut lahir dari nurani, ku ingin ungkapan terdalam dari sanubari ini tak membuatnya bersusah hati…”

Sudah 7 hari aku tak menulis di blog ini. Tangan masih terasa kaku untuk memulai mengetik lagi. Tapi gejolak darah sebagai “Blogger” tak mampu kebendung. Kupaksakan untuk sekedar membuat tulisan yang entah kemana arahnya… he2..he2..

Aku masih di Jakarta. Setelah berangkat dari Jogja hari Jum’at yang lalu. Inilah adalah kedatanganku yang ketiga ke Jakarta untuk memenuhi panggilan kerja. Pertama, dari Bank Mandiri Syariah yang terhenti di psikotest. Kedua di Republika yang juga berhenti di psikotest. Terakhir ini dari PT. Pelabuhan Indonesia II.

Perjalanan kali ini terasa dimudahkan oleh Allah. Setelah pengumuman Selasa tanggal 21 Juli jam 1 dinihari, aku masih dibinggungkan akan memenuhi panggilan PT. Pelabuhan Indonesia II. Maklumlah, aku belum punya sertifikat toefl. Paginya, aku langsung ke JED Melati, menanyakan hasil test Toefl yang kuikuti hari Sabtu. Ternyata score-ku jelek banget. Tak sampai batas minimal yang dipersyaratkan oleh PT. Pelabuhan Indonesia. Seketika putus asa menyelimutiku. Rasanya tak jadi ke Jakarta. Tapi ketika mendengar sekilas profil PT. Pelabuhan Indonesia dari seorang staf JED, semangatku kembali bangkit. Tak mau berlarut-larut dengan penyesalan, dan kehilangan waktu, akhirnya kucari tempat kursus lain yang menyediakan layanan tes toefl. Setelah survey ke beberapa tempat, kuputuskan ambil di ILP Jogja Kota Baru. Setelah registrasi Selasa Sore sehabis Ashar, kubaca buku toefl seadanya. Karena tak mungkin menguasai seluruh bahan dalam satu malam. Rabu pagi, 22 Juli, dengan semangat seadanya kudatangi ILP. Start jam 9.30, lewati 3 section test toefl. Kuserahkan lembar jawaban. Segera Mas pegawai ILP, masuk ke ruang scan. Sekitar 10 menit, Mas itu kembali menemuiku. Mas, score toeflnya ——. Alhamdulillah, sambil menyapukan tangan ke muka, berulang aku mengucapkan tahmid. Toeflku cukup untuk ke Jakarta. Bersemangat ke asrama untuk mengprint syarat-syarat yang dibutuhkan. Sorenya melaju ke Stasiun Tugu, beli tiket kereta api bisnis Fajar Utama untuk hari Jum’at.

Setelah menelpon Imran, teman satu SMA yang barusan pulang dari China, akupun segera mencari bis kota menuju daerah TB. Simatupang. Melewati 3 hari test yang melelahkan, mulai hari Sabtu di LPBB LIA Jln. Pramuka Jakarta Timur, Ahad di STIA LAN Pejompongan Jakarta Pusat, dan Senin di LPT UI Salemba. Pengumuman hasil tes baru akan dipublish tanggal 7 Agustus 2010 besok. Besar harapan, aku bisa lulus dan bisa bekerja di BUMN dengan asset `1,4 triliyun itu.

Tak sampai disitu saja, ketika mengerjakan tes paling mengerikan di sesi psikotest, akhirnya aku berhasil menaklukan si “Pauline” yang selama ini jadi momok. Tanpa kuduga, aku menyelesaikan 2 halaman plus kertas kedua. Sesuatu di luar dugaanku. Karena 2 tes Pauline sebelumnya aku hanya baru bisa menyelesaikan kurang dari 1 lembar.

Cerita menarik di Jakarta kali ini, ternyata tak melulu soal tes kerja. Masih ada pengalamanku naik Busway yang lumayan nyaman pertama kali, sampai mati kutu atas “dakwaan” di mall Margo City Depok sama teman-teman SMA. Aku menemukan lagi semangatku. Aku kembali menemukan cintaku dan keyakinan untuk melupakan sepenuhnya “the special girl in my last time”.

Jika selama ini aku berhasil membuang jauh pemikiranku untuk menunda masa menikah sampai umur 30 tahun, namun beberapa hari ini, setelah ngobrol dengan kawan-kawan alumni satu SMA di Jakarta, keinginan menikah itu terbit kembali. Lantunan motivasi yang berasal dari hadist Nabi, “Barang siapa yang menikah untuk menjaga diri dan agamanya, maka Allah akan menjadi penolong dan melapangkan rizkinya”, begitu kuat memenuhi hatiku. Hingga dalam sepi aku bernazar, “Ya Allah, jika Engkau memberikan aku pekerjaan, maka aku segera memenuhi sunnah RasulMu.”

Aku masih bertahan di Jakarta. Sebenarnya tak ada tes kerja lagi minggu ini, sehingga aku bisa saja segera pulang ke Jogja. Tapi ada “tangan misterius” yang mengurunkan niatku cepat-cepat ke Jogja. Aku tak tahu apakah makna di balik ini semua. Namun, skenario tak terduga ini semakin yakin kuikuti sampai tahu ujungnya.

Besok mungkin aku akan bertemu dia. Dalam acara pelepasan seorang teman SMA yang beberapa hari lagi akan pindah dari Jakarta ke Pekanbaru. Deg-degan menunggu esok, seakan membunuhku perlahan. Kembali getaran masa kecil dulu bangkit kembali. Rasa malu, takut, dan berharap bercampur menjadi satu. Sambil terus bertanya, “Apakah aku pantas untuknya?”

Aku ingin memulai hidup baru. Melepas masa laluku yang suram dengan kehadirannya. Ada sebuah keyakinan yang begitu kuat, bahwa “Dialah yang kucari selama ini.” Ya Tuhan, apakah dia bidadari hatiku???…

Barusan handhone-ku berdering. Ada panggilan tes kerja hari Sabtu besok. Berarti hari Jum’at aku harus balik lagi ke Jogja. Ya, perjuangan selanjutnya sudah menantiku. Setiap kesempatan tak boleh kulepaskan. Dimanapun aku akan berlabuh, biarkanlah Allah yang memilihkan. Karena pilihan Allah-lah yang terbaik.

Lewat blog ini, aku ingin mengucapakn terima kasih setulusnya kepada Imran, yang bentar lagi mau ke China, yang telah berbaik hati mengizinkan aku menginap di kos-annya dan mengenalkan daerah Jakarta yang masih aneh bagiku. Buat Gitra, teman SMUNSA yang sekarang kerja di PT. ANTAM, yang bela-belaan nelpon malam-malam demi “misi” perjuangan cintaku. Buat Doni, teman SMUNSA, yang sudah menaktirku di Grand Indonesia mall. Buat Cahaya, teman SMUNSA yang kerja di HSBC Bank. Buat Irma, teman SMUNSA yang kerja di Bank Mandiri Syariah, yang besok ngajak kumpul-kumpul di Plaza Semanggi.

Ah Jakarta… Aku mulai menyukaimu…