Barusan pulang dari Masjid sebelah asrama. Tak seperti biasa, habis sholat langsung kabur, malam ini hatiku tergerak berlama-lama di masjid. Sekedar dzikir dan sholat sunnah ba’diyyah Isya. Ada lapang terasa di dada. Apalagi bisa bersalaman dengan bapak-bapak jama’ah masjid yang lain. Sambil bersenda gurau dengan Pak Yono, sang imam Masjid, Pak Irham, Ketua Takmir, dan Pak Darsono, Bendahara Masjid. Kehangatan yang tlah lama tak kurasakan.

Sudah lama gersang hati ini dari cahaya Ilahi. Ceramah rutin di sela-sela Magrib-Isya yang disampaikan oleh Ustadz Abu Abdurrahman ku simak dari kamar, telah membuat batinku tersentak.

“Betapa banyak orang yang sholat asal-asalan. Dzikir sekedarnya tanpa menyertakan Allah dalam hatinya. Sungguh itulah sifat orang munafik yang enggan mengerjakan sholat dan sedikit sekali mengingat Allah.”

Hidupku beberapa tahun ini hampa, karena aku meninggalkan sesuatu yang berharga. Meninggalkan ketaatan, berkubang dengan kemaksiatan. Menjauhi masjid, larut hiruk pikuk dunia. Aku perlahan berubah menjadi orang fasiq, sebagaimana yang beberapa kali disampaikan oleh seorang adik asramaku. “Da Gun kini alah barubah.”

Sejak SMA, Masjid menjadi tempat paling nyaman ketika aku mengalami masalah. Ketika di kampung dulu, aku tak pernah absen sholat Magrib dan Isya berjama’ah di musholla dekat rumah. Lewat Masjidlah aku disayang dan diperhatiin sama bapak-bapak dan ibu-ibu di kampungku.

Awal kedatanganku ke Jogja, Masjid jugalah awal perkenalanku. Persis selepas jama’ah sholat Shubuh, aku sampai di Jogja, dan langsung sholat sendirian di Masjid. Hingga akhirnya dipercaya sebagai Qori setiap ada pengajian.

Malam ini aku sadar, Masjidlah tempat aku tumbuh. Tempat aku belajar banyak hal dan menjalin silaturahim. Ketika aku menjauh darinya saat itupula aku menjadi gersang dan dihimpit gelisah.

Sekarang aku kembali. Kembali meraih ketenangan di rumah Allah yang selama ini kutinggalkan. I must come back to Masjid now…