Assalamu’alaikum. Walimatul ‘Ursyi. Insya Allah  akan menikah Indria Efrilina dengan Rahmat Hidayat ST. Tanggal 24 Juli 2010. Mohon kehadiran dan do’anya. Syukron Jaza…

Tiba-tiba saja handphone-ku berbunyi, saat ku pacu Grand kesayangangku menuju masjid kampus UGM. Sejenak ku menepi seraya membuka pesan baru itu. Rangkaian kalimat seperti yang kutulis di ataslah yang tertera. Sontak saja, bayanganku terbang jauh ke belakang. Melintasi waktu menuju masa-masa SMA.

Indria Efrilina, 2 tahun aku sekelas dengannya. Gadis riang yang dekat dengan banyak cowok di kelas. Terutama sekali di hari Senin selepas upacara bendera. Ia termasuk siswi yang ikut ribut-ribut bareng para cowok-cowok yang tadi malam baru saja nonton Seri A Italia. Maklumlah Indria atau Iin sebagaimana teman-teman satu kelas memanggilnya, adalah Juventini yang tergila-gila sama Del Piero dan Inzaghi. Tas-nya pun penuh dengan pin-pin Juventus yang sering dipegang-pegang sama AF dan Mul, dua mafia bola di kelasku. Ha2…Ha2..

Aku yang waktu itu masih culun, hanya bisa memperhatikannya dari jauh. Maklumlah, aku masih takut sama cewek kala itu. Kedekatanku dengannya semakin intens, saat kami terpilih menjadi anggota team Randai (kesenian teater tradisional Minang) SMA saat kelas 2. Hampir tiap hari latihan selepas pulang sekolah. Tapi aku tetap saja belagu, ngak berani dekat sama cewek. Hanya kuperhatikan dia teramat dekat dengan teman satu kelas kami, yang sekarang sudah kerja di sebuah perusahaan kertas, RAPP. Seringkali di sela-sela latihan ia mendendangkan lagu-lagu dari Westlife yang saat itu memang lagi booming.

Dulu, kami masih pake Cawu, alias catur wulan. Satu tahun ada 3 catur wulan, yang berarti ada 3 kali pemberiaan rapor. Catur wulan ketiga di kelas 2, selepas Idul Fitri, aku dikejutkan dengan penampilan baru Iin. Tak ada lagi rok selutut, yang jadi incaran anak-anak cowok untuk lihat “sebeng”. Tak terlihat lagi rambut ikal sebahu-nya. Yang tampak, jilbab putih, baju lengan panjang, dan rok menjuntai ke bawah. Ya, Iin telah berubah. Memutuskan untuk berjilbab. Konon, hidayah itu ia dapatkan dari kakaknya yang saat itu kuliah di Padang. Namun, keceriaannya masih tampak. Meski Westlife dan obrolan tentang Juventus tak lagi terdengar dari lisannya.

Kelas 3 SMA, aku beda kelas dengan Iin. Ia kelas IPA, aku kelas IPS. Tak terlalu banyak kuketahui perkembangan tentangnya, kecuali gosip-gosip dari teman-teman IPA yang dulu satu kelas di kelas 2. SPMB 2002, Iin ngak lulus. Tapi ia masih bisa menembus Universitas Andalas, universitas nomor satu di provinsiku, lewat jalur D3. Ia akhirnya kuliah di Diploma Akuntansi, sementara aku terbang jauh ke Jogjakarta. Plek, putus sudah hubungan kala itu, apalagi handphone belum dikenal.

Aku bertemu dengan Iin lagi di tahun 2006. Kepulangan terakhirku ke ranah Minang sampai hari ini. Perubahan dalam dirinya semakin kentara. Berjilbab besar ala akhwat yang juga banyak kutemui di UGM. Keistiqomahan luar biasa, tak seperti teman-teman SMA yang lain, yang tak mampu mempertahankan hidayah berjilbab dengan pakaian muslimah. Saat itu, aku bersama teman-teman satu SMA, sempat berkunjung ke rumahnya dengan celana cingkrang dan jenggot panjang. Maklumlah, kala itu aku masih intens dengan kajian Salafy.

Perlahan aku meninggalkan Salafy. Sementara Iin tetap istiqomah di jalur Tarbiyah. Sempat juga ia menduduki posisi penting sebagai Kabid Kemuslimahan Forum Kajian Islam Fakultas Ekonomi Unand.  Jadi “Anak Forum” di Universitas Andalas merupakan suatu posisi prestise, apalagi bisa jadi Ketua Bidang. Ia semakin kuat dengan Tarbiyah dan PKS. Memutuskan jadi Guru SDIT, di tengah semakin kuatnya geliat PKS di Sumatera Barat. Padahal ia bisa kerja di Bank yang lebih menjanjikan secara materi, lewat background kuliahnya di Akuntansi.

Pagi ini, kuterima sms darinya. Sms yang berisi undangan pernikahan. Ahhh… Perlahan aku tersentak, dan baru bisa membalas sms itu selepas kajian Ustadz Abu Abdirrahmah yang mengantikan Ustadz Ridwan Hamidi, Lc.

Berpapasan dengan deretan akhwat yang juga mau pulang selepas kajian,  aku hanya bisa senyum-senyum sendiri. Menyadari betapa beruntungnya Iin yang sebentar lagi merampungkan separuh dien ini. Mengayuh bahtera rumah tangga dengan cinta suci. Yang dulunya haram, sekarang menjadi halal. Kesendirian tak lagi menghampiri, karena ada suami tempat bersandar dan berlindung. Ah, betapa indahnya pernikahan.