Bisa apa kalau ngak bisa bahasa Inggris??? Ngak bisa apply beasiswa S2 baik di dalam negeri apalagi ngejar yang di luar negeri. Ngak bisa masuk lamar kerja di di perusahaan-perusahaan ternama atau instansi pemerintah yang bonafit. Jadi orang blo-on dengan pekerjaan seadanya atau jadi pengangguran kelas atas meskipun bisa kuliah di universitas ternama.

Itulah yang kurasakan sebagai sarjana yang ngak punya kemampuan bahasa Inggris mumpuni. Kesendat lamar kerja sana sini karena ada persyaratan toefl 500 sekian. Ngajuin beasiswa di UGM juga kesandung toefl yang juga 500-an.

Sudah kucuba ikut kursus selama 4 bulan. Namun, skor toeflku tak kunjung naik menuju angka 500. Meskipun sudah pede speaking pake bahasa Inggris, nulis and translate pake bahasa Inggris, tetap saja tak terlalu membantuku ntuk menembus kualifikasi scholarship and to get job.

Kondisi yang membuatku stress berat. Merasa tertekan dengan himpitan beban tak terkira. Rasanya dunia mau kiamat saja. Merasa mati lebih baik daripada hidup.

Kemarin malam, saat nonton acara Kick Andy, semua keputusasaanku terbang seketika. Saat mengetahui orang hebat seperti Prof. Rhenald Kasali, pakar manajemen terkemuka di Indonesia, yang berhasil meraih Master and PhD di Amerika Serikat ternyata juga bloon berbahasa Inggris saat lulus dari Fakultas Ekonomi UI. Terperangah ketika Prof. Yohannes Surya, pakar fisika yang telah berhasil mengorbitkan ratusan anak-anak cerdas Indonesia berprestasi di olympiade tingkat internasional dengan raihan 70-an medali emas,  mengaku cuma punya toefl 415 saat mengajukan beasiswa ke Amerika Serikat.

Prof. Rhenald sempat mengikuti kursus bahasa Inggris di Indonesia menjelang berangkat ke USA. Tapi tetap ngak bisa-bisa. Akhirnya memutuskan nyari kursus persiapan bahasa bahasa Inggris di USA dan menempuh program itu selama 3 bulan. Prof. Yohanes lebih parah lagi, meski sudah mengantongi rekomendasi dari seorang professor fisika yang saat itu sedang melakukan kunjungan di Indonesia, tetapi baru punya toefl 415. Hadangan semakin berat, ketika salah satu persyaratan scholarshipnya mesti menjadi asisten professor yang mengharuskan ia mengajar students di university Amerika. Tak ayal lagi, Prof. Yohanes pusing tujuh keliling. Namanya juga orang cerdik, beliaupun tak kehilangan akal. Maka dicarilah universitas yang tidak mensyaratkan toefl untuk rekruitmen mahasiswa scholarship. Ketemulah dengan College of William and Mary, Virginia, Amerika Serikat, yang program fisika-nya termasuk 5 besar di Amerika Serikat. Akhirnya Prof. Yohanes berhasil merampungkan gelar PhD dengan peringkat cumlaude.

Pengalaman Prof. Rhenald dan Prof. Yohanes kembali membuatku bersemangat. Impian kuliah di luar negeri yang belakangan ini terasa semakin jauh, kembali bersemi. Ya, aku masih punya waktu untuk memperbaiki kemampuan bahasa Inggrisku. Meskipun harus memakan waktu lebih lama, tapi tak menyurutkan untuk meraih score toefl 550. Apalagi aku lebih beruntung dari beliau berdua yang notabene penuh keterbatasan saat mencari scholarship pada masanya. Aku akan mengejar mimpi-mimpiku. Menjadikan kuliah di luar negeri bukan sekedar impian kosong, tapi hanya keberhasilan yang tertunda. Okey, saatnya bersemangat belajar bahasa Inggris… Ya………:)