Dingin masih menyerang tubuhku. Meskipun sudah dibalut 2 jaket tebal, tetap saja tak mengusirnya. Kucuba mengetikkan kembali sebuah tulisan, karena aku tak ingin kalah dengan sakit yang telah kudera hampir 4 hari ini. 2 Minggu yang lalu, aku bolak-balik Jogja-Jakarta. Memenuhi panggilan tes kerja Bank Mandiri Syariah dan salah satu harian terkenal ibukota.

2 kereta yang sudah familiar, Senja Utama dan Fajar Utama, setia mengantarku. Tanpa ada masalah, meskipun kadang telat beberapa jam di tempat tujuan. Ya, kereta sebenarnya adalah transportasi yang menyenangkan dan cukup terjangkau buat kaum ekonomi menengah ke bawah. Tetapi jangan harap bisa istirahat enak, karena setiap menit para pedagang dan pengemis lalu lalang melintas di sepanjang lorong gerbong kereta.

Di luar kereta, tampak deretan sawah sejauh mata memandang. Hanya terhenti oleh kehijauan Gunung yang pagi itu diselimuti awan hitam. Para buruh tani sudah berluncah dengan lumpur, padahal mentari baru saja menampakkan diri. Mengalahkan pekerja kantoran yang baru memulai aktivitas jam 8 pagi.

Dari pedagang mie, minuman, makanan-makanan ringan, nasi rames, nasi goreng sampai alat tulis, senter dan alat pijat ada dijual. Dari waria, penyanyi dangdut, pemuda bergitar hingga anak-peyapu dan pemberi parfum bisa ditemui.

Tak hanya sekali dua kali mereka berputar dari ujung ke ujung gerbong penumpang, bahkan sempat kutemui beberapa ibu-ibu yang duduk ketiduran karena capek menjajakan pop mie dan minuman hangat dari Jogja sampai cirebon. Hatiku miris, entah berapa penghasilan para penjual di atas kereta itu?

Sejenak kereta berhenti di Stasiun Senen, para pemulungpun bergeriliya mencari botol mineral, koran, ataupun karton yang tertinggal. Sementara anak-anak kecil usia SD tak bosan-bosannya menawarkan koran sore kepada para penumpang yang sedang menunggu keberangkatan.

Sempat juga kuperhatikan ibu-ibu penjual nasi rames, yang mengangkat barang dagangan di atas kepala. Hampir-hampir bertabrakan dengan atap gerbong di tengah laju kereja yang tak beraturan. Tak lelah menawarkan nasi kepada para penumpang yang sudah tampak kegerahan.

Tapi tak ada marah. Penumpang-pun seolah sudah biasa dengan semua itu. Kadang merekapun membeli, untuk melepas sedikit dahaga ataupun lapar yang mendera.

Itulah potret bangsa yang saat ini dipimpin oleh seseorang yang gagah lagi berwibawa. Menghabiskan 64 miliar untuk menjaga image dan pesona. Setiap kali beliau berbicara, seolah-olah semua persoalan bisa diatasi. Sementara sang pembantunya yang duduk di Menteri Koordinator Ekonomi, sibuk mengamati bursa. Kata-kata yang wajib yang mesti dikatakan pada publik adalah PERTUMBUHAN EKONOMI KITA NAIK SEKIAN PERSEN.

Sementara rakyat tetap miskin. Berjuang mencari sesuap nasi yang sering tak sebanding dengan usaha yang telah mereka lakukan. Tapi mereka tak mengeluh. Tetap saja berpindah dari kereta satu ke kereta yang lain. Seraya berharap Tuhan berbaik hati memberikan rizki lebih untuk dinikmati keluarga.

Mereka bukanlah orang-orang pemalas yang selama ini dituding oleh pemerintah sebagai penyebab terbesar meningkatkannya angka kemiskinan di Indonesia. Bahkan jam kerja mereka melebihi jam kerja orang kantoran di gedung-gedung mewah Jakarta.

Pak Presiden dan segenap Menteri yang saya hormati. Cobalah sesekali naik kereta dari Jakarta ke Jogja. Atau kalau mau dari Ujung Banten sampai Surabaya. Tak usah naik kelas ekonomi yang tak manusiawi lagi sebagai alat transportasi. Cukuplah naik kelas bisnis, tanpa pengawal dan ajudan, tanpa sekat dan berbaur dengan penumpang biasa. Biar mata Bapak tak lagi buta melihat kondisi rakyat negeri ini. Biar nurani Bapak sedikit tersentuh mengalahkan kesenangan dunia yang telah Bapak nikmati selama ini.