Panas bercampur awan hitam nan berarak di langit Jogja temani siangku kali ini. Siang persiapan menjelang keberangkatan esok pagi ke Jakarta setelah kemarin mendapat kepastian dari Mbak Ana, staf SDM Republika, bahwa aku termasuk 40% pelamar yang lulus tes interview Republika Senin kemarin. Tiket sudah didapatkan lewat kesabaran menunggu lebih dari satu jam.

Tadi pagi setelah menyelesaikan bagian membersihkan koridor asrama, segera kupacu motor menuju Masjid Kampus UGM. Menghadiri pengajian Ahad Pagi yang diisi oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc. MA. Meskipun harus melawan kantuk, kuikuti setiap uraian yang disampaikan ustadz. Karena aku tak tahu sampai kapan bisa mengikuti pengajian beliau.

Greaty, selepas sholat Dzuhur tadi tiba-tiba bayanganmu terlintas lagi di pikiranku. Tlah lama aku tidak menyapamu. Diam dalam bisu, karena tak tahu lagi bagaimana cara menghubungimu. Ada rindu yang tak bisa kujelaskan lewat kata. Ada rasa yang tak bisa kuungkapkan lewat lisan. Sentuhan halus yang telah menerbitkan kembali airmata di pipiku.

Ingin kulepas saja tangis yang tertahan ini. Tapi, aku harus kuat. Waktu kemudian berbalik ke belakang, persis 8-10 tahun yang lalu. Semakin membuatku semakin lemah dan lemah…

Rindu yang sudah tak pantas lagi kuperjuangkan. Karena ku tahu, aku tak pantas untukmu. Tidak saja karena perbedaan fisik kita yang terlalu jauh, tapi kenyataan hidup yang kita hadapi juga teramat berbeda.

Aku masih bergelut dengan pengangguran. Tak ada yang bisa kupersembahkan untukmu ataupun hal yang bisa membuatmu bangga. Aku sudah ikhlas melepasmu. Karena engkau pantas mendapatkan sosok yang lebih baik dariku…

Jakarta akan kembali kejejakki untuk kedua kalinya. Mengadu nasib lewat kesempatan yang Republika berikan kepadaku. Hanya berharap keberuntungan bisa segera bekerja. Menjalani rangkaian tes kedua dan sekaligus berharap bisa bertahan hingga tes terakhir. Dengan sebuah do’a, jika memang ini adalah jalan yang terbaik untuk masa depanku, mudah-mudahan Allah memberikan kemudahan.

8 tahun bertahan di Jogja, telah membuatku begitu mencintai kota ini. Aku tak tahu kemana takdir akan membawa langkahku. Hanya pasrah dan pasrah. Biarkanlah Allah mengatur semua. Aku tak akan menyesali apapun keputusanNya. Tidak akan mengugat takdirNya.

Jogja, hari ini aku menikmati damai yang telah engkau berikan. Membiarkan tubuhku diterpa hembusan angin tenangmu. Engkau telah berikan aku berbagai pelajaran berharga. Pelajaran hidup yang tak akan pernah kulupa. Esok aku akan pergi sejenak meninggalkanmu. Demi masa depanku. Demi sebuah perjuangan biar esok lebih baik dari ini… Bersama do’amu ku pergi ke Jakarta, melambungkan mimpi-mimpiku…