Suara riuh terdengar dari luar. Maklumlah, ada 50 teman-teman dari Jurusan Administrasi Negara Universitas Negeri Padang menginap di asramaku. Entah kenapa juga, anak-anak sudah pada bangun dan sudah memasang senyum manis? Padahal biasanya ngak kayak gini.

Aku masih tetap tak mau peduli dengan tamu yang datang sejak siang kemarin itu. Bukan karena cuek, tapi hanya tak ingin terlalu over acting di antara para mahasiswi yang lumayan membuat menarik hati anak-anak asrama. Tapi tidak buatku, karena ngak ada yang masuk kriteriaku satupun. Meski sudah kacau kayak gini, aku masih berharap istriku adalah gadis berjilbab besar, bukan sekedar jilbab untuk penampilan.

Saat ini aku sedang melawan pola pikir orang-orang kalah. Terlalu cepat emosi, kemudian mencari pelampiasan kesalahan pada orang lain. Terus menjadi parasit dalam komunitas yang seharusnya sudah aku tinggalkan. Aku ingin segera meninggalkan zona aman yang melenakan ini. Segera pergi dari asrama agar tak lagi menjadi pecundang dengan statusku sebagai pengangguran.

Aku ngak ingin menjadi “Raja” baru di asrama. Menjadi orang tua yang menghabiskan waktunya terus di asrama. Karena aku paham betul, bagaimana tidak sehatnya sebuah komunitas jika para senior karatan tetap berada di tengah anak-anak muda yang masih penuh semangat dengan kuliahnya. Menjadi sok berkuasa hanya karena telah sekian tahun tinggal di asrama. Apalagi menjadi orang yang merasa paling berpengaruh kemudian melakukan sekehendak hati, melakukan intervensi, dan melakukan tekanan-tekanan psikologis yang berujung pada pembunuhan karakter bagi anak-anak baru. Tidak, aku tak akan berlaku seperti itu.

Tetap bersembunyi dengan terus bertahan di asrama yang memang memberikan berbagai kesenangan ini, akan membuatku mati perlahan. Menghabiskan umurku tanpa sadar akan kehidupan normal.

Aku berharap bisa segera mendapatkan kerja. Pergi jauh dari asrama karena memang seharusnya aku angkat kaki. Menerjang hidup baru dan pengalaman baru. Rasanya, 8 tahun di Jogja sudah cukup bagiku. Terus bertahan, sama saja meneruskan rentetan kisah-kisah “orang-orang tua kalah” yang kemudian memilih bersembunyi di tengah “ignorence” mahasiswa-mahasiswa baru lewat kesan punya andil yang besar buat satu komunitas.

Perubahan berawal dari diri sendiri. Tetap bermental pecundang, tak akan merubah keadaan… So, rubahlah mindsetmu menjadi mental pemenang Gun. Karena hanya dengan kepribadian “the winner” lah dirimu bisa meraih kesuksesan. Cayo… Semangat…