Muktamar Muhammadiyah


Deretan bendera hijau Muhammadiyah dan berbagai spanduk menghiasi jalan-jalan di Jogja. Tinggal 2 hari Muktamar Satu Abad Muhammadiyah resmi dibuka oleh Presiden SBY dari Madinah Al Munawarah. Para peserta dan pengembira baik dari dalam maupun luar negeri telah mulai berdatangan. Bahkan teman-teman mahasiswa dari Al Azhar sudah standby di Jogja dengan berbagai konsep yang telah mereka diskusikan sebelumnya di Kairo.

Berbagai kegiatan show up sudah dimulai dari minggu lalu. Sepeda Gembira, Pawai Ta’aruf, dan berbagai parade yang diikuti oleh puluhan ribu kader dan simpatisan Muhammadiyah telah dan akan terus dilaksanakan sampai Muktamar berakhir dengan semangat, “Mari Macetkan Jogja“. Sebuah ekspektasi euforia kegembiraan untuk menunjukkan kepada orang, “Inilah Muhammadiyah. Organisasi Islam terbesar di Dunia.”

Sebagai organisasi massa, Muhammadiyah memang selalu mendenggungkan dirinya sebagai kekuatan yang tidak bisa dipandang remeh oleh Negara. Jika negara ini baru akan berumur 65 tahun, maka Muhammadiyah sudah akan melewati 100 tahun (perhitungan kalender Hijriah). Artinya, Muhammadiyah sudah berkiprah jauh melampaui kehadiran Republik ini. Jadi kalaupun berbagai pengamat mengatakan Muhammadiyah diacuhkan SBY dengan ketidakhadirannya di pembukaan Muktamar secara langsung di Jogja, itu bukanlah masalah besar bagi warga Muhammadiyah. Bahkan bagi kalangan ulama di Muhammadiyah, pembukaan Muktamar dari Madinah adalah sebuah teguran Allah, agar Muhammadiyah kembali ke khittah perjuangannya. Menyadarkan warga Muhammadiyah untuk mengenang kembali perjuangan Nabi menegakkan Islam di Madinah, hingga menjadi peradaban yang disegani oleh dunia. SBY sesungguhnya telah membuka mata para pendombleng Muhammadiyah agar tahu diri, bahwa Muhammadiyah adalah gerakan dakwah bukan kendaraan politik yang hanya dijadikan sebagai alat meraih jabatan semata.

Jika kita merujuk kepada uraian Ibnu Khaldun dalam Muqodimah, maka Muhammadiyah saat ini sedang memasuki fase ketiga Peradaban. Ibnu Khaldun membagi generasi sebuah peradaban menjadi tiga. Generasi Pertama adalah para pendiri yang memiliki semangat dan visi perjuangan yang jelas. Generasi Kedua adalah orang-orang yang menikmati hasil jerih payah generasi pertama, sehingga mulai terpengaruh oleh dunia dan terjadi rivalitas perebutan aset-aset/kekuasaan yang telah dimiliki. Generasi Ketiga adalah generasi tanpa visi yang sibuk dengan pertarungan sengit memperebutkan pundi-pundi dunia, yang apabila tetap dibiarkan, akan berujung pada wafatnya/runtuhnya sebuah peradaban. Berlandaskan pada ayat-ayat Al Qur’an, dan umur Nabi diangkat menjadi Rasul, Ibnu Khaldun berpendapat bahwa umur satu generasi adalah 40 tahun.

Waktu yang dibutuhkan Muhammadiyah untuk menyelesaikan berbagai masalah yang melanda tubuh persyarikatan hanya tinggal 20 tahun lagi. Masa yang singkat untuk merubah karakter dan menuntaskan gurita persoalan. Kalau tidak segera dimulai, maka Muhammadiyah akan bergerak menuju kehancuran. Meskipun memiliki berbagai aset baik di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, maupun politik, jika ruh organisasi sebagaimana yang diusung pertama kali oleh KH. Dahlan ditinggalkan begitu saja, maka Muhammadiyah akan bermetamorfosis tak lebih seperti YAYASAN.

Muhammadiyah saat ini adalah organisasi yang gemuk. Hampir setiap kota punya sekolah Muhamamadiyah. Setiap kecamatan memiliki Pimpinan Ranting Muhammadiyah. Tapi, peran Muhammadiyah seringkali tak tampak. Para petinggi yang saat ini duduk di jajaran petinggi Muhammadiyah tidak lahir dari institusi pendidikan Muhammadiyah. Politik kelas tinggi yang selama ini diagung-agungkan hanyalah mitos yang tak terbukti secara realita. Hasil sidang Tanwir dan berbagai rekomendasi yang diadakan di gedung-gedung mewah oleh orang-orang hebat Muhammadiyah tak lagi menjadi acuan para pembuat kebijakan di negeri ini. Ditambah lagi representasi kader Muhammadiyah di pemerintahan saat ini, Hatta Radjasa, diragukan bisa membawa kepentingan Muhammadiyah di tingkat politik nasional.

Belum lagi berbagai fatwa yang dikeluarkan Majelis Tarjih yang hanya jadi suara sunyi di tengah semakin pintarnya umat. Tak hanya diacuhkan oleh orang non Muhammadiyah, tapi oleh warga Muhammadiyah sendiri. Contoh yang paling nyata adalah seberapa sih kader Muhammadiyah yang memutuskan berhenti merokok setelah keluarnya fatwa haram rokok? Beranikah kader-kader Muhammadiyah memutuskan hubungan 100% dengan perusahaan rokok baik berupa iklan maupun beasiswa?

Professor Azyumardi Azra menyampaikan keresahan akan potensi radikalisme di kalangan Muhammadiyah lewat tulisannya hari ini di Resonansi Republika. Tetapi saya tidak melihat persoalan itu terlalu penting. Orang Muhamamadiyah bukanlah orang yang cepat berputus asa karena ketidakberhasilan dakwah. Ustadz-ustadz Muhamamadiyah bukanlah ustadz-ustadz provokatif yang menyerukan cara-cara kekerasan untuk menegakkan “kebenaran”. Saya ngak tahu, kenapa tokok sekaliber Prof. Azyumardi begitu paranoid dengan potensi Wahabisme dalam tubuh Muhammadiyah? Perkenalan saya dengan tokoh-tokoh yang dicap sebagai kalangan Konservatif Muhammadiyah, tidak menemukan usaha provokasi terhadap kami, anak-anak muda Muhammadiyah, untuk mengambil jalan-jalan ekstrem dan jihad mengangkat pedang.

Ketika visi KH. Dahlan dipahami secara berbeda oleh para petinggi Muhammadiyah dan terus berjalan dalam 20 tahun ke depan, maka masa depan yang suram akan menghinggapi Muhammadiyah. Sebagaimana yang pernah disinyalir Nabi, “Saat itu kamu banyak, tapi kamu tak lebih dari sekedar buih di lautan”. Perdebatan panjang apakah yang diperlukan itu  “pembaharuan” atau “pemurnian”, akan menjadi duri perpecahan yang ujungnya membuat binggung kalangan muda penerus kepemimpinan Muhammadiyah.

Sebagaimana yang disampaikan Ibnu Khaldun, sesungguhnya yang menentukan maju dan runtuhnya sebuah peradaban adalah agama/dien. Kalau norma-norma dasar agama sudah mulai dikeroposi dengan retorika pembaharuan, maka semakin dekat ajal sebuah peradaban. Apabila Muhammadiyah sebagai organisasi dakwah tidak lagi melakukan fungsi amar ma’ruf nahi mungkar, maka kehancuran Muhammadiyah tinggal menunggu waktu. Apalagi semangat Pragmatisme dan persahabatan dengan Kapitalisme tetap dilangsungkan, maka Muhammadiyah tak lebih dari sekedar LSM yang terus-menerus mengirimkan proposal kepada funding-funding luar negeri khususnya dari AS, Australia, dan Eropa, kemudian menjadi perpanjangan tangan dan pelaksana project-project lembaga-lembaga pemberi dana itu.

Beberapa petinggi Muhammadiyah, seringkali berkilah bahwa mereka tidak idealisme Muhammadiyah ketika bekerjasama dengan lembaga asing. “Kita independen kok ketika menjalankan project lembaga-lembaga internasional.” Tapi secara tidak sadar, sesungguhnya mereka telah menjadi anak buah dari sebuah program global yang sarat dengan hegemoni. Maka tak salah jika banyak orang terutama teman-teman Kiri mengkritik keterbukaan Muhammadiyah menerima bantuan asing.

Dua hari lagi Presiden SBY akan membuka Muktamar dari Madinah. Semoga prosesi ini, menyadarkan para petinggi Muhamammadiyah tentang asal-usul organisasi yang dipimpinnya. Membawa semangat perjuangan Rasul di Madinah sebagai panduan jalan menghadapi hari baru. Bukan mengekor pada Hegemoni Barat, sekaligus memperpanjang cengkraman Kolonialisme modern di negeri ini.

Selamat menikmati Muktamar Muhammadiyah yang akan mengisi ruang baca dan ruang tv anda. Selamat menikmati pertarungan pemikiran para orang hebat Muhamamadiyah yang konon terpolarisasi menjadi Kaum Progresif dan Kaum Konservatif. Akhirnya, aku hanya ingin mengucapkan, SELAMAT BERMUKTAMAR ORANG-ORANG HEBAT MUHAMMADIYAH…

(NB: Tulisan ini terinspirasi setelah mendengarkan ceramah Ustadz Fathurrahman Kamal, Lc. M.Ag – Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus PP Muhammadiyah, tadi pagi di Kantor PP. Muhammadiyah Yogyakarta)

Iklan

4 thoughts on “Muktamar Muhammadiyah

  1. mohon maaf banget….kami sebagai warga baciro (lokasi dimana muktamar berpusat disitu)
    merasa kurangnyaman. bukan karena acara tersebut, tetapi lebih kepada efek yg ditimbulkan dari keganasan muhammadiyah itu sendiri. misalnya muhammadiyah dengan taring kekuasaanya menyingkirkan semua warung2 tempat makan kami, sejak h -5 dan kabarnya sampai h+3.
    menurut kami ini tindakan yg tidak manusiawi, karena pedagang2 tersebut g dikasih ganti rugi sama sekali, kasihan mereka yg hidupnya dr warung mereka,
    jadi, buat apa acara golongan seperti itu bila tidak mendapat restu dari umatnya,,,,,
    mohon maaf banget ini terpaksa saya sampaikan, smuanya demi kebaikan kita bersama………

  2. Cup cup cup uuuwah Din Saymsuddin. Dimana nilai Susilo Bambang Yudhoyono sekarang ni. Mengapa oposisi dan lawan-lawan politik di Indonesia tetap banci tak mampu jatuhkan SBY. Padahal dia tak berbeza banyak dengan Suharto dan lebih buruk lagi, kerana semua untuk bahkan kepentingan peribadi, keluarga, khususnya anak-anaknya serta kroni dalam kerajaan dia. Tengoklah putarnya dipasang sebagai satu pemimpin parti Demokrat, isterinya konon nak dicalon sebagai presiden akan datang. Ini lebih dari kerajaan Orba Suharto. Kalau Suharto dulu lebih banyak berjuang untuk rakyat dan takut kepada mahasiswa, Yudhoyono tak. Yudhoyono justeru menerusi Orde Baharu saat kami Malaysia pun dah lama tinggalkan cara macam tu khususnya selepas dunia semakin dah berubah dan kami lebih banyak menggalakkan pembangunan fisikal untuk kemaslahatan dan kenyamanan publik. Tengok, negeri kami bersih dan asri. Udara segar pencemaran hawa tak ada. MRT dan rangkaian keretasemua bagus, kereta dan sepeda motor tak banyak, apa Yudhoyono mempunyai haluan dasar macam kami. Tapi perkembangan baharu menuju ambang kehancuran makin teruk. Terkini yalah rasuah atau korupsi berjemaah terang-terangan di kerajaan Yudhoyono dan DPR. Dalam pemerintahan SBY, terkini yalah jalan-jalan rombongan kerajaan Yudhoyono atas nama menghadiri G20 Kanada yang tak jelas untungnya bagi rakyat negeri jiran ni. Dengan pesawat berbadan lebar, Yudhoyono terjerat menghamburkan wang negeri. Masih belum puas lagi, Susulan jalan-jalan ke Turki. Masih belum puas lagi, tamasya ke Makkah atas nama umrah pula. Inilah rasuah terang-terangan. Sedangkan DPR sebagai membarter tak ungkit perkara skandal bank Centuri, maka bolehlah jalan-jalan ke Eropah atas nama kajian perbandingan.

    R a s u a h t e r a n g – t e r a n g a n. Rasuah berdalih tugas negara. Puas-puaskan diri dan teman-teman tanpa prihatin rakyat negeri jiran itu dicekiknya dengan harga-harga barngan dinaikkan tanpa memikirkan kemampuan beli mereka. Inilah cara dahulu Suharto memimpin Indonesia, dah ditinggalkan orang-orang Suharto kecuali Yudhoyono sendiri. Supaya tampak Yudhoyono taat berugama, supaya majoriti Muslim negeri jrian tu tertipu lagi dan lagi dengan simbol dan penampilan berugama kulit luaran bagi kuasa bertahan. Di Makkah SBY berkata di depan rombongan sesama koruptor terang-terangan berdalih “umrah”, memperdaya ummah muktamar Muhamamdiyah di Yogyakarta, memminta supaya Muhammadiyah jangan mengeras. Itu sesunguhnya bagi menyindir kemungkinan masukn Muhdi PR ke syarikat masyarakat Muslim terbesar kedua tu. Juga di bawah pemimpin Din Syamsuddin, Muhammadiyah undian tak menyokong kerajaan Yudhoyono. Tapi semua orang diamanapun paham, kami budak-budak pelajar Malaysia pun faham, itu kerana kerajaan Yudhoyono tak pro rakyat dan tak jelas arah. Membanteras rasuah tak jelas dan tebang pilih. Din Syamsuddin berkata di depan ummah besar mukmatar tu bahawa Muhammadiyah akan tetap kritis. Alamak hebatnya Syamsuddin. Cup cup cup uwah.

    Ada pula televisyen ceroboh dengan berkata bahawa “ada intel masuk” ke Muhamamdiyah dan Nahdhatul Ulema (NU). Rupanya semata tipuan kata-kata medua tolol tu. Sesungguhnya yang dipilih media tu yalah bahawa satu ataupun dua eks pegawai perisikan negeri jrian tu, nak masuk ke dua syarikat masyarakat Islam Indonesia yang terbesar tu Muhamamdiyah dan NU. Iaitu Muhdi PR yang dituduh membunuh aktivis hak asasi manusia Munir, dan tokoh lain tu yalah As’ad, juga eks pegawai perisikan. Mula ataupun dahulu semasa tengok televisyen tolol tu orang nak peroleh kesan seolah akan sengaja disusupkan perisikan ke dalam NU dan Muhamamdiyah bagi memata-matai tokoh-tokoh penting disana. Ternyata yang media tu maksud hanyalah bahawa ada dua tokoh tersebut nak bergabung di dalamnya. Itulah penyesatan kata-kata wartawan / televisyen tolol sangat, tak mampu membuat kata.

    I n d o n e s I a p a s t i berjalan mundur dengan p r e s I d en macam t u. Macam mana penilaian orang? Jelas sangat tentu tak ada masalah kalau pegawai perisikan dah pencen masuk ke dalam syarikat masyarakat macam tu. Kedua-duanya pasti sekadar berkhidmat untuk bangsa, rakyat dan ugama, kerana kedua-duanya mempunyai pengetahuan jauh lebih baik berbanding dengan Yudhoyono, hanya sahaja rakyat dah terbawa terindoktrinasi bahawa orang perisikan bagaimanapun pasti jahat. Tak lah dan bergantung. Pun kedua-dua eks pegawai perisikan tu masuk ke UN dan ataupun Muhamamdiyah, kerana itu kemungkinan dan jalan satu-satunya boleh jadi calon pemimpin negara, dalam era demokrasi ni. Kalau misalnya dibuat coup d ‘etat risiko agak berat. Maka siapapun nak boleh pilih menyertai dalam syarikat masyarakat besar yang membolehkan menjadi pemimpin nasionalis sejati bukan boneka kapitalis liar hutan belantara dalam era Yudhoyono macam ni. [Yudhoyono membuat kekeliruan besar sangat, kerana tanggung memberantasi rasuah, cuci tangan kepada sistem kehakiman, membiri rakyat di seluruh Indonesia semakin melarat; 4 anak ditinggal ibu cari suami lain, sang suami di penjara; balang-balang gas menjadoi bom di rumah tangga, anak -anak dibunuh diambil orderdil badan untuk dijual, Yudhoyono diam sahaja].

    Muhdi PR ataupun As’ad ataupun yang lain selain Yudhoyono jelas lebih cemerlang untuk Indonesia. Seorang tutua Muhammadiyah macam Amien Rais dan khususnya Ma’arif senang tokoh tokoh terbaik macam Muhdi PR dan As’ad, iaitu nasionalis nasionalis sejati macam Wiranto/Prahabowo pula berada dalam Muhammadiyah kalau menyedari betapa presiden sekarang semakin memusnahi rakyat, memiskini rakyat, pelanggar Perlembagaan 1945 . Hanya dengan orang-orang berani macam mereka bukan macan Yudhoyono yang tak jelas, kerana mereka pasti dah insaf takkan lagi mahu membunuh rakyat, maka Nusantara boleh mensejahteri rakyat negeri jiran tu secara merata berkeadilan tanpa jurang, ekonomi makin lebar macam sekarang ni.

    U s m a n H a m i d b e r k a c a m a t a k u d a. Usman Hamid – bukan ayah saya Hamid bin Hasan – dari NGO Kontras berkenaan kemungkinan menyertai Muhdi PR dan As’ad kepada syarikat masyarakat Muslim yang kedua terbesar dan pertama tu, tak setuju dengan tu. Jelaskah kerana Hamid membawa misi Barat. NGO Kontras sebagagian wangnya berasal dari Barat. Macam negeri negeri Sarawak jelas tak nak ingin NU dan Muhamamdiyah ada Muhdi PR, As’ad, Suripto, apalagi macam Wiranto ataupun Prabowo, nasionalis-nasionalis pengabdi rakyat dan walaupun mereka berjanji dah berubah dan tak lagi membunuh rakyat, di saat kerajaan Yudhyoono justeru rajin membunuh rakyat sendiri atas nama dan main tuduh korban-korban selama ni dikatakans ebagai pengganas-pengganas. Pabila macam ni, mana yang lebih jelas dan menegakkan hak asasi dan menghormati nyawa manusia, paksi Muhdi PR atau paksi kerajaan Yudhoyono dengan kapolnas a la Hitler. Hamid tak pandai tengok bahawa sesungguhnya yang membunuh Munir kemungkinan besar justeru agen-agen Belanda ataupun CIA. Tengok pula kes penenggelaman corvette Cheonan Korea Selatan baharu baharu ini. Amerika Syarikat dan Korsel main tuduh itu kerjaan Korut, yang jelas dah sering sering berkata: “Itu yalah rekaan Amerika Syarikat.” Barat khususnya Amerika Syarikat sanang membuat rekaan di mana-mana, supaya negara macam Nusantara pun tak maju-maju. Inat dan tengok macam tu.

    Menyertai Muhdi PR, As’ad dan tokoh-tokoh ansionaliss ejati bukan boneka Barat ke dalam NU dan Muhamamdiyah dan kalau perlu pun pula ke syarikat masyarakat majmuk baharu Nasional Demokrat, yalah penting sangat, supaya pemimpin palsu macam Yudhoyono, iaitu boneka kapitalis liar hutan belantara, dan pemiskin majoriti rakyat tu, boleh akan tergantikan. Harusnya dominasi Barat di Indonesia dah selesai sejak mula reformasi 1998, tapi kenapa sehingga kini tak kunjung selesai, dan bahkan sekarang ni dilanjutkan oleh Yudhoyono. Harga-harga mula naik tinggi lagi, orang-orang rakyat diberantasi, bukan kemiskinan yang diberantasi. Mafia keadilan mahupun koruptor profesor pun dalam dalam sahaja dalam ketiak kerajaan Yudhoyono, bermakna sebuah cuci tangan nyata atas nama, sebuah blunder, tak turut campur urusan kehakiman oleh Yudhoyono, sehingga membiari pemimpin-pemimpin korup di dalam kejaksaan agung dan polis Nusantara. Oleh Yudhoyono yang meniru Suharto, agama pun diperalatkan sempurna bagi menipu lagi lagi kepada rakyat.

    Tengok perkataan Yudhoyono dalam sambutan pidato, masih belum puas hamburi wang rakyat bahkan selesai dating ke G20 bahkan jalan-jalan ke Turki dan bahkan pergi atas nama umroh, saat dia berkata untuk kongres Muhamamdiyah. Bukti nyata sangat bahawa walaupun negeri jiran tu telah tinggalkan era Suharto tapi pengganti Suharto, iaitu Susilo Bambang Yudhoyono, terbukti autoritarian pula dengan agenda-agenda kepentingan peribadi dan kumpulan sendiri. Bukti lebih nyata sangat lagi yalah walaupun 10 tahun lebih reformasi demokrasi diupayai, eks tentera tu bermain dengan cara sendiri agak lebih halus tapis ama bahayanya macam Suharto, yang mana hampir semua bidang tetap dikuasa dengan cara-cara lama dari politik sehingga bisnez. Padahal dalam tahun 2004, Yudhoyono dah berkata bahawa semua bisnez dan politik dikuasa mereka harus diakhiri dalam limatahun; masa itu telah lewat dan tak ada tanda itu berakhir. Pabila macam ni ada dua kemungkinan: 1) Yudhoyono Pemain sandiwara murahan, bermakna dia tetap bahagian kekuasaan lama, atau 2) Yudhoyono mencuba berbeza tapi dia lemah sehingga bagaimanapun diam-diam membuat krompomi tak tampak oleh rakyat dan penganalisis bahawa dia telah dalam kejahatan tu. Islam dan ummah Muslim dan non Muslim Indonesia, macam kami Malaysia pula, pasti suka dengan kebersihan, bersih dari rasuah/korupsi, bersih dari pemerintahan yang tak jujur. [Ada opini lebih betul sila majukan kepada saya: saudahahmadbintiusman@msckl.my].

  3. Terima kasih atas ulasannya. Bermanfaat bagi saya yang diamanahi jadi salah satu dari sekian banyak panitia muktamar. Semoga bisa menjadi perbaikan kami.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s