Tiba-tiba saja kemarin siang Bapak menelponku lewat nomor asrama. Tak biasanya Bapak menanyakan kabarku. Sebelumnya beliau tak pernah perhatian kayak gini. Eh, ternyata sebelumnya beliau dapat cerita yang sedikit menakutkan dari teman sekantor, bahwa aku lagi dalam “dangerous condition”. Berbekal bacaan beberapa postingan di blogku ini, dia telah membuat Bapak begitu khawatir.

Ah, bukannya aku tak ingin diperhatikan, bukan karena aku sombong dengan kemampuanku memecahkan masalah sendiri sebagaimana yang telah kulakukan selama ini sejak SMA malahan, bukan pula pingin individualis, tapi penangkapannya yang salah atas apa yang kutulis telah membuat masalah semakin runyam. Selama ini aku tak ingin membebani Bapak dengan masalah pribadiku kecuali masalah finansial. Aku bisa menghandle studiku dengan baik meskipun harus melalui waktu yang cukup lama, aku bisa memilah mana pemikiran yang cocok untukku di tengah berbagai tawaran ideologis yang terbentang luas di Jogja, aku bisa mengatasi problem percintaanku meskipun seringkali berakhir dengan kegagalan, jadi tak perlu perhatian darinya. Toh dia ngak tahu siapa aku? Bagaimana aku menjalani kehidupan di Jogja? Sejauh apa benturan demi benturan yang kuhadapi?

Kalau ada indikasi keputusasaan yang tersirat dalam berbagai tulisanku, itu adalah hal yang normal bagi seorang manusia. Sesuatu yang biasa sebagaimana yang telah kupelajari dari kuliah Filsafat Manusia yang diajarkan oleh Bu Septiana. Aku tak akan memilih BUNUH DIRI atas semua kegagalan dan kekecewaan yang kuhadapi. Sekali-kali tidak pernah aku berpikir tentang hal itu. Di darahku mengalir semangat berbalut harapan sebagaimana yang diajarkan oleh Erich Fromm kepadaku. Sekuat apapun deraan yang menimpa manusia, sekuat itu pula ia berharap untuk lepas dari penderitaan. Semangat Yahudi begitu kuat mengalir dalam hidupku lewat pergulatanku selama beberapa bulan ketika membuat skripsi tentang “Messianik Yahudi”.

Jika masalah terberat yang dianggap orang bisa membuat orang bunuh diri adalah patah hati, ah terlalu cepat ia berkesimpulan jika aku putus asa karena cinta. Aku kenal dengan Friederich Nietchze, filsafat penggerak kemajuan untuk abad 20, aku pernah baca biografi Tan Malaka yang pernah kalah dalam meraih cinta, ataupun pujangga besar Kahlil Gibran yang bisa menelurkan karya-karya mendunia. Tahukah anda, meskipun tak beruntung menggapai cintanya, mereka menjadi tokoh-tokoh hebat yang namanya akan tetap kekal diingat orang.

Jadi, ku mohon jangan buat cerita-cerita yang tidak-tidak tentangku kepada Bapak. Cukup sudah aku membebani Bapak dengan kekisruhan masa laluku, tapi sekarang aku tak mau ganggu pikiran Bapak lagi. Aku sudah berusaha tidak menyampaikan masalah-masalahku pada Bapak, karena aku bisa menghandle masalahku sendiri. Akupun sebenarnya ingin lepas juga dari beban finansial Bapak, tapi aku belum dapat kerja. Jadi cukuplah Bapak memikirkan uang belanjaku, dan jangan kabarkan kepada Bapak hal-hal manipulatif jika anda sesungguhnya tak tahu siapa sebenarnya aku.

Perhatian mematikan anda tidak akan membuat aku berhenti menulis kisah hidupku. Sepahit apapun pengalaman yang kualami, aku akan tetap menuliskan apa adanya di blog ini. Karena aku yakin, setiap orang punya sejarah hidup yang akan kekal ketika ia menuliskannya. Sejarah hidup tidak harus ditulis dengan hal-hal yang manis saja. Kadang sakit, penderitaan, dan kekalahan bisa menjadi pelajaran yang amat berharga. Jika anda membaca sejarah tokoh-tokoh besar dunia, maka anda akan menemukan anomali-anomali yang sudah sewajarnya dialami oleh manusia. Aku tidak akan membungkus diriku dengan topeng kebaikan, topeng kesholehan, topeng kesucian, ataupun topeng kewibawaan. Aku menulis di sini berbekal bisikan nuraniku. Bukan hendak membuat suatu pencitraan diri agar dikenal banyak orang. Bukan pula hendak dikatakan orang hebat, orang baik, atau segala macam pujian.

Menulis kesalahan dan kebodohan memang sulit buat beberapa orang, tapi tidak bagiku. Aku hanya ingin kebodohan dan kesalahan yang kulakukan selama ini bisa diambil pelajarannya oleh orang lain. Anak-anak muda yang juga merasa kehilangan arah sebagaimana yang pernah kualami. Aku ingin lewat tulisan-tulisan di blog ini mereka bisa mengambil sisi lain, bahwa hidup itu penuh masalah. Tak selamanya kita tegar, kadang jatuh tersungkur, menangis tersedu-sedu, dan putus asa selama beberapa waktu. Tapi yakinlah ada Tuhan yang selalu memperhatikan diri kita dari atas sana. Dia juga punya hati yang tak akan membiarkan hambaNya terus terlantar. Mungkin Dia butuh waktu untuk melihat keseriusan kita. Mungkin Dia tahu, jika terlalu cepat ditolong, maka kita berpotensi menjadi sombong atau durhaka kepadaNya. Sungguh pertolonganNya amat dekat, tapi kapankah akan datang, tetap saja misteri. Tapi tetaplah berharap.

Aku akan terus menulis dan menulis. Meskipun orang mengatakan aku manusia yang kalah dalam hidup. Walaupun orang mengatakan aku terlalu cenggeng, terlalu melankolis. Inilah diriku, aku akan terus berjalan dengan takdirku sendiri… So, please… Don’t disturb my parents with u’r manipulative story. U don’t know me…

Iklan