18.55, Senin 28 Juni 2010. Aku sedang duduk menunggu jadwal keberangkatan ke Jogja. Di Stasiun Senen Jakarta  yang terus bergemuruh dengan raungan kereta. Tampak wajah-wajah  letih para penumpang. Beberapa pengemis berkeliaran. Pedagang jalanan hilir mudik menjajakan barang. Anak-anak kecilpun berlalu-lalang menawarkan koran yang sudah offdate untuk dibaca.

Koran… Koran… Koran… Seribu… Seribu… Suara kecil itu sejenak membuyarkan lamunanku. Begitu kontras dengan pemandangan di mall-mall yang kusabangi selama 3 hari di Jakarta. Blok M, Pasar Raya, Plaza Semanggi, yang sempat kumasukin, dan mall-mall sepanjang jalan saat aku menaiki bis ataupun taksi, yang dengan pongah menampakkan kekayaan orang-orang yang ada di dalamnya. Sementara di atas bis, pengamen dengan berbagai atraksi mencoba “menghibur” penumpang yang kelelahan dan gerah di tengah kemacetan, demi mengharap beberapa keping uang recehan. Ya, beginilah wajah kota yang begitu dielu-elukan di negeri ini.

Para SPG berpenampilan seksi, bermake-up menor menebarkan senyum kepada setiap orang lewat di depan toko mereka. Sambil menyahut ramah, berharap mereka sejenak berhenti berbelanja. Cantik-cantik, menarik hati setiap orang yang sempat berpapasan dengannya. Mengumbar kelebihan fisik untuk pekerjaan yang gajinya tak seberapa. Tapi lebih baik daripada menjadi pelacur, meskipun harus juga mengumbar aurat. Bertahan hidup di tengah kerasnya Jakarta. Syukur-syukur bisa mengirimkan uang  untuk orang tua dan adik-adik yang serba kekurangan di kampung.

Ceramah dari ustadz-ustadz selama di Jogja, bahwa wanita sebaiknya di rumah, terbang dibawa angin. “Ini bukan masalah agama, Ustadz! gumamku dalam hati. Tapi masalah survive agar bisa tetap bisa makan. Tak bisa menjudge mereka sebagai perempuan murahan, yang rela mengumbar aurat demi sesuap nasi. Toh, meskipun mereka sibuk mencari uang, tetap saja sholat mereka tunaikan di mushalla mall yang pengap karena letaknya di basement. Mereka masih ingat Tuhan, meski harus kembali berbuat “dosa”. Tapi apakah mereka berdosa Ustadz? Bukankah mereka juga tidak ingin miskin? Tapi takdirlah yang menggiring mereka memilih pekerjaan itu. Toh, sebagian kita juga tak mau peduli dengan masa depan mereka. Malahan terkadang menikmati setiap lekuk tubuh mereka dengan tatapan penuh nafsu.

Suara adzan Isya mengalun dari Masjid Stasiun. Aku masih termanggu duduk di kursi. Terus sibuk dengan oret-oretanku di kertas CV lamaran kerja, yang terpaksa kutulisi karena tak ada kertas lain.

Dua tes kerja yang kuikuti selama 3 hari di Jakarta, tinggalkan kesan mendalam. Tak sekedar sadar betapa masih kampungannya aku, tapi sadar betapa sulitnya mencari kerja selepas wisuda. Ijazah UGM tidak jadi jaminan. IPK selangit tak membuat staf HRD terpukau. Ada skill yang mesti dikuasai, ada wajah dan penampilan yang diamati.

Aku gagal di tahap kedua tes Bank Syariah Mandiri. Terbentur karena jenis psikotes unik, menjumlah 2 angka ke bawah secepat mungkin di atas lembaran seukuran kertas koran, yang nama kerennya, Pauli and Kreaplin. Maklumlah, sudah 8 tahun aku tidak belajar matematika. Saat kuliahpun sangat jarang sekali aku bertemu dengan angka, apalagi dituntut untuk mengerjakan penjumlahan dengan super cepat.

Tapi aku masih punya harapan untuk lamaran di Republika, setelah melewati wawancara di hadapan 5 wartawan senior Republika. Meskipun jawabanku asal-asalan, aku berharap ada panggilan untuk tahap selanjutnya. Kalau nasib belum berpihak, Indonesia Mengajar menjadi alternatif selanjutnya buat masa depanku.

Lewat tulisan ini, aku hendak mengucapkan banyak  terima kepada sahabatku Muhammad Irfan yang rela wira-wiri, bangun pagi-pagi, berjalan sekitar 30 menit untuk menjemputku ke Stasiun Senen saat kedatangan Sabtu (26 Juni 2010) pagi di Jakarta, dan bersabar mencariku ketika tersesat di Pasar Tanah Abang. Terima kasih juga buat sahabatku Wanda Kurniawan, yang di tengah kesibukkannya sebagai pegawai Tripatra masih sempat membawaku berkeliling Jakarta, traktir makan di tempat elite dengan harga makanan yang tak pernah kucuba selama di Jogja, dan memberikan tumpangan nyaman selama 3 hari aku di Jakarta. Terima kasih sabahat. Sungguh aku baru sadar siapa sebenarnya Sahabat yang mau membantu di saat kita benar-benar kesulitan dan butuh pertolongan. Siapa yang benar-benar peduli yang masalah dan penderitaan yang sedang kita hadapi. Aku menemukan sahabat yang tak berubah meskipun juga ditimpa kepayahan, dan menemukan sahabat yang tak berubah meskipun telah menggapai kesuksesan. Terima Pak Irfan dan Pak Wanda, yang telah mengajarkan aku betapa indahnya persahabatan itu… Terima kasih buat semuanya…