Mempertahankan tahta lebih sulit daripada merebutnya. Pameo kuno yang sudah akrab di telinga kita, benar-benar dipahami oleh nahkroda baru Partai Demokrat, Anas Urbaningrum. Setelah kemenangan fenomenal mengalahkan senioritas Marzuki Ali dan finansial Andi Mallarangeng, Anas bergerak cepat merangkul beberapa publik figur yang dikenal sebagai aktivis/pakar di bidangnya masing-masing. Ada Todung Mulyana Lubis , Andi Nurpati, Usman Hamid, Ulil Absar Abdalla, Kastorius Sinaga, Rahlan Nasidik, dan Fery Julianto.

Usman Hamid, aktivis HAM yang memimpin LSM “warisan” Munir, Kontras, sudah menyatakan ketidaksediaannya, setelah menerima message dari seorang bapak tua yang anaknya menjadi korban penculikan tradegi 1998. Todung masih pikir-pikir. Mungkin masih menunggu pertimbangan dari orang-orang dekat. Tapi yang jelas, koleganya di Team Seleksi Pimpinan KPK, Buya Syafi’i Ma’arif, tak habis pikir apabila Todung menerima tawaran Demokrat. Sementara nama-nama lainnya mengamini permintaan Anas.

Kemenangan Demokrat pada Pemilu 2009 lebih banyak dipengaruhi kemampuan pencitraan dan rekruitmen tokoh-tokoh daerah sebagai calon legislatif. Mereka tidak punya basis massa yang jelas, kecuali pesona para pemimpinnya. Tidak seperti PKS yang memiliki mesin politik yang bergerak begitu lugas sampai di tingkatan Sekolah Menengah Atas melalui organisasi undergroudnya, KAMMI. Tidak seperti PDIP yang memiliki basis massa loyal pengagum Soekarno.

Di sisi lain, boleh dikatakan Demokrat adalah partai yang miskin tokoh. Masih amat tergantung dengan popularitas SBY. Sementara jenjang kaderisasi yang sistematis belum tampak dalam program kerja partai. Mungkin saja Anas bisa memainkan pengaruhnya sebagai Pimpinan Presidium KAHMI untuk mengubah mindset “HMI – Golkar” menjadi “HMI – Demokrat” dalam supporting SDM.

Cara “instan” membesarkan partai lewat pinangan kepada para aktivis dan intelektual yang sudah dikenal masyarakat, tidaklah “haram” dalam politik. Namun, ketidakcerdasan memilih tokoh tentu akan berakibat fatal. Andi Nurpati mungkin dianggap punya kecakapan untuk menarik suara kaum perempuan yang selama ini belum tereksplorasi. Akan tetapi, sikap pragmatis Andi akan menjadi tanda besar bagi pemilih-pemilih yang mulai cerdas lewat meluasnya akses informasi. Ulil mungkin diharapkan bisa merangkul anak-anak muda NU yang selama ini sering kecewa dengan PKB dan pastisan liberalisme agama di Indonesia. Tetapi, Ulil adalah musuh kelompok beberapa kelompok Islam dan juga mahasiswa/eksekutif muda yang mulai dekat dengan agama, karena pemikirannya yang keluar dari mainstream.

Kita tentu tidak akan mempermasalahan bagaimana cara suatu partai merebut hati rakyat, asalkan dilakukan dengan demokratis. Namun, pertanyaan besar yang selalu berkelindan di pikiran kita adalah sejauhmana efek positif rekruitmen “orang-orang hebat” itu berkorelasi dengan perubahan bangsa menuju perbaikan. Kalau hanya berorientasi pada pembesaran partai, kemenangan Pemilu, dan finalnya hanya pelanggengan kekuasaan, maka sungguh amat malang rakyat negeri yang kaya ini.

Mereka akan menjadi korban dari kebijakan-kebijakan penguasa yang hanya berpikir untuk diri, keluarga dan kelompoknya sendiri. Mereka hanya penonton dari sebuah drama apik, tapi tetap menjerit dijepit berbagai kesulitan hidup.

Satu hal menarik yang perlu penulis tambahkan di sini, terkait informasi penting dari Prof. Ahmad Syafi’i Ma’arif. Belakangan ini beliau beberapa kali diundang dalam forum para jendral purnawirawan TNI. Wacana yang berkembang pada pertemuan itu adalah kegelisahan mereka akan ketidakjelasan kemana nasib bangsa ini akan dibawa oleh Dewan Pembina Demokrat. Banyaknya kebijakan-kebijakan aneh dan kehilangan spirit ideology kemerdekaan yang telah dipatrikan oleh pendiri bangsa ini, membuat para jenderal tua itu geram. Sebenarnya berbagai masukan telah mereka sampaikan. Tapi hanya kebisuan yang mereka terima dari juniornya yang bernama Bambang itu. Sempat terlontar ungkapan, “Kalau dia masih dengan kepura-puraannya sekarang, maka kita akan sikat dia.”

Sinyal akan pergerakan para purnawirawan TNI ini tampaknya telah ditangkap oleh SBY sejak Pemilu 2009 yang lalu. Dimana ketiga kandidat pasangan Capres dibackupi oleh para mantan jenderal. Tentu “The President” tidak akan takut, karena di sekelilingnya juga berdiri para purnawirawan jenderal dan para perwira yang masih aktif. Balasan SBY terhadap “pembecinya” ini tidak melalui serangan frontal, tapi pendekatan strategis terhadap para perwira yang masih aktif. Sebab, kekuatan TNI sesungguhnya ada pada pejabat-pejabat yang masih aktif. Sebagaimana yang kita ketahui, meskipun dibatasi haknya dalam politik, TNI tetaplah kekuatan potensial yang bisa dijadikan penopang sebuah kekuasaan. Maka tak salah, wacana pengaktifan kembali hak pilih TNI yang santer belakangan ini disambut baik oleh Anas Urbaningrum sebagai Ketua Demokrat yang baru.

Proses lain yang patut kita catat dari Demokrat adalah partai ini sedang berkamuflase dari partai demokratis menuju otoritarian. Mungkin untuk tingkatan DPP dibiarkan berjalan sesuai dengan semangat demokrasi, tapi di tingkat Dewan Pembina, ada SBY yang mulai dimuliakan dan diagung-agungkan bak Raja. Meskipun Anas digadang-gadang sebagai patron kemenangan kaum muda, tapi menurut hemat penulis, ini bukanlah kemenangan atas otokrasi. Anas masih di bawah ketiak SBY. Apalagi beberapa sumber menyebutkan, hutang budi Anas teramat besar ketika diselamatkan SBY dari kasus korupsi Pemilu 1999 yang telah menjerat rekan-rekannya sesama pimpinan KPU kala itu.

Saat ini, sebenarnya ada proses tak kasat mata yang sedang berjalan pada Partai Demokrat. Tampaknya biasa-biasa saja. Tampak tenang tanpa riak. Tapi di bawahnya ada putaran arus yang bisa menenggelamkan kapal yang sedang berlayar di atasnya. Beberapa orang yang punya akses informasi lebih, elah melihat ada gelagat mencurigai dan “membahayakan” dari dinamika yang sedang berlangsung pada partai muda ini.

Sebagai rakyat kecil, kita hanya mencoba mengorek informasi dari orang-orang itu, seraya berharap tak terjadi tragedi memilukan pada negeri yang didirikan dengan cucuran keringat, airmata, dan darah para pejuang kemerdekaan ini. Tapi jika revolusi kedua demi merdeka 100% sebagaimana yang dicita-citakan Tan Malaka menjadi solusi terbaik, maka bersiaplah menghadapi kisruh berdarah-darah dan menjadi pejuang-pejuang revolusi baru…