Penulis Sunyi


Aku duduk terpaku di kamar yang telah ku tempati hampir 8 tahun yang lalu. Dalam suasana pagi yang mirip dengan dulu. Sinar mentari nan cerah dan sedikit kebisingan dari ruang tv yang persis berada di depan kamar ini.

Aku barusan terbangun setelah mengulang tidur sehabis sholat Shubuh tadi. Sholat yang telat karena baru kukerjakan jam 6 lewat . Samar-samar suara adzan terdengar. Namun, entah kenapa suara Mu’adzin memekakan telinga, tak lagi merdu seperti dulu. Seperti suara penuh kesombongan bukan sebuah panggilan. Bukan suara mendayu-dayu, tapi keriyaan. Bukan hendak mengklaim, karena itulah yang kutangkap ketika beberapa kali kesempatan berbicara dengan Sang Muadzin yang merasa suaranya bagus itu.

Aku kecewa dengan hidupku. Lulus kuliah 7,5 tahun, harus ditambah lagi dengan masa menganggur yang sudah melewati masa 4 bulan. Percuma saja IPK 3,61 yang telah membuatku bisa bersalaman dengan Rektor saat wisuda. Percuma saja kuliah di UGM yang katanya kampus hebat di Indonesia.

Kadang pernah terbesit dalam benakku, kenapa tak kuliah di Padang saja. Ambil jurusan mentereng seperti Hukum atau Ekonomi yang alumni-alumninya banyak dibutuhkan dunia kerja.  Tentu aku akan bisa kuliah 3,5 tahun. Sebagaimana teman-temanku satu SMA. Dan sekarang tentunya sudah bisa menikmati gaji sendiri tanpa harus membebani orang tua.

Aku benci dengan orang-orang yang telah meracuni pikiranku yang mengatakan, “Belajar Hukum di Indonesia sama saja belajar Hukum Thagut. Hukum Kafir yang membuat dirimu akan masuk NERAKA….. Belajar bahasa Inggris itu ngak perlu. Karena buat apa capek-capek belajar bahasa orang Kafir. Toh di surga, bahasa yang dipakai adalah bahasa Arab…”

Anak SMA yang lugu, penuh emosional, mau saja djejali dengan hasutan yang tak benar itu. Jadilah ia terpengaruh dengan racun-racun pikiran. Memang tak terlalu kentara selepas tamat SMA dulu. Tapi sekaranglah akibat dari pola pikir yang salah itu kurasakan.

Sebagai alumni Filsafat yang tak dibutuhkan perusahaan, percuma saja aku berkoar-koar IPK-ku 3,6. Ditambah lagi kemampuan bahasa Inggris yang payah, alamat akan dieliminasi oleh institusi penerima kerja. Mau mengambil perhatian karena lulusan UGM? Ah, sekarang bukan zamannya lagi membanggakan almamater. Lulusan PTS bahkan lebih banyak yang hebat dari alumni PTN.

Kemarin siang, salah seorang seniorku di asrama menelpon. Menceritakan keasyikkan bekerja yang telah ia jalani selama 4 bulanan. Bekerja di Sinar Mas divisi Perkebunan dengan gaji 5 juta, padahal IPKnya tak sampai 2,75. Meskipun lulus lama seperti diriku, tapi ia cepat lepas dari masa-masa pengangguran. Selepas pendadaran, langsung pulang kampung, masukin lamaran, dan langsung diterima di perusahaan yang sesuai dengan jurusannya, Budidaya Hutan.

Kembali aku bertanya, apakah khutbah-khutbah Sosialis untuk tidak bekerja di perusahaan yang berpaham neoliberalis, perusahaan-perusahaan yang tak menghiraukan ancaman global warming masih bisa dipegang sebagai paham ideologis? Toh, teman-temanku yang cerdas lagi religius, akhirnya memilih bekerja perusahaan-perusahaan itu. Apa gunanya aku terbakar emosi setiap kali menghadiri seminar-seminar anti Kapitalis???

Ah, mungkin aku hanya penulis sunyi. Yang hanya termanggu di kamar sepi ini. Larut dengan angan-angan dan pikiran sendiri. Bukan pusing dengan realita, tapi binggung merekonstruksi kelindan pikiran yang membebani kepalaku. Hanya menulis dan menulis sesuatu yang tak bermutu. Meski kadang mendapat apresiasi dengan kunjungan-kunjungan dari para netter, tapi tetap saja aku penulis sunyi. Penulis malang yang semakin jauh dari Tuhan. Penulis gila karena selalu ditinggalkan oleh gadis yang dicintainya. Penulis bodoh dengan kualitas pas-pasan lagi penuh emosional. Penulis pengangguran yang sekian banyak lamarannya hanya dilempar ke tong sampah oleh HRD perusahaan…

Ah, beginilah nasibmu Gun. Jangan salahkan Tuhan, karena engkau memang tak lagi menaati perintahnya. Jangan salahkan masa lalumu, karena percuma saja memaki-maki masa yang sudah berlalu. Rasakan saja apa yang engkau terima saat ini. Karena ini adalah akibat dari dosa-dosamu….

Iklan

6 thoughts on “Penulis Sunyi

  1. Pertamaxxxx…..

    ah speechlesss saya klo udah gini…

    tetap semangat mas, tak ada gunanya meneyesali apa yang sudah berlalu, saya yakin Allah punya rencana yang lebih baik untuk mas, yang lebih indah…

  2. Alloh menciptakan hambaNya dengan sudah ditakdirkan beberapa hal…umurnya…rezekinya…jodohnya…dan ajalnya…sekarang q juga lagi mengalami hal yang sama dengan mu…dah hampir 1 tahun menganggur belum mendapat kerja…tapi aq berusaha untuk yakin selama aq juga berusaha untuk menemukan kerja yang tepat…selama hampir 1 tahun ini Alloh sudah Memberikan banyak hal yang tidak aq dapatkan jika aq sekarang sudah bekerja…semua ada hikmaknya sobat…yah pasti jika qta juga mau berusaha…optimis dan berdo’a…ayo semangat!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s