Pergaulan dengan banyak orang mengantarkan kita mengenali berbagai karakter. Ada yang menyenangkan, ada pula yang menjengkelkan. Perjumpaan dengan orang baru membuat pikiran menebak-nebak kira-kira seperti apa sih kepribadiannya. Kadang kita terjebak dengan praduga-praduga yang hanya didasarkan kesan pertama saja.

Minggu yang lalu, ketika masuk hari pertama kelas Advance di kelas JED, aku terpukau dengan cewek cantik yang selama 3 bulan kursus, tiada pernah kutemui. Sebelum kelas dimulai, aku duduk santai di teras depan. Tiba-tiba datang seorang cewek manis yang kutaksir lebih tua dariku. Biasanya sih kalau member baru, agak canggung. Tapi dia begitu santai dan mengambil tempat duduk persis di depanku. Hanya senyum dan lirikan saja yang menghiasi pertemuanku dengannya.

Bel-pun berbunyi. Bersama teman-teman yang sama-sama masuk JED sejak bulan Maret yang lalu, akupun segera masuk ke kelas. Selang beberapa menit, mbak yang kutemui di beranda tadi ikutan masuk. Hatiku berbisik, waw ternyata aku satu kelas sama dia. Mungkin dia member lama yang dulu pernah cuti.

Kelaspun bubar tepat jam 18.00. Aku segera meluncur ke kamar mandi, ngambil wudhu buat sholat Magrib. Persis di pintu masuk musholla, ku lihat mbak itu lagi. Wajah dan rambutnya tampak basah. Sementara tangannya mengenggam bungkusan kain mukena. Ya Tuhan… Aku kaget sekaligus malu dengan sangkaan yang berkelibat sepanjang instruktur menerangkan pelajaran grammar bahwa mbak itu bukan muslimah, karena face-nya mirip orang Chinese yang kutahu kebanyakan non muslim.

Bahkan, satu minggu pertama kursus bersamanya, selalu kami sholat Magrib jama’ah bersama. Dia ngak memakai jilbab. Mungkin juga akhwat berpakaian lebar akan mencibir dirinya yang memakai pakaian sedikit ketat. Tapi sholatnya begitu terjaga.

***********************

Siang kemarin, selepas sholat Jum’at di Masjid Kampus UGM, kuajak seorang adik junior di IMM makan siang di sebuah rumah makan nasi pecel yang cukup terkenal di seberang selokan Mataram Fakultas Peternakan UGM. Saat memulai makan, adik juniorku itu “mencak-mencak” karena barusan disangka pelayan oleh seorang cewek muda. Ngak hanya itu, kata-kata merendahkan keluar dari lisan cewek yang biasa-biasa itu, tapi sok berlagak orang kaya. Kucuba alihkan pandanganku menatapnya, uhhh ngak ada yang istimewa. Mungkin lagi kena penyakit orang kaya baru, “Belum kaya tapi sudah belagu“.

Hanya karena orang berpakaian biasa, terus seenaknya saja menganggap sebagai pelayan? Kalau salah sangka ngak masalah sih, cuma kalau udah pake kata-kata ketus dan merendahkan, kayaknya keterlaluan. Ah, mungkin dia bukan orang Jogja, dan kuyakin bukan anak UGM. Orang Jogja tak melihat orang jadi gaya berpakaian. Kalau saja dia pernah main ke rektorat UGM, bisa-bisa ditangkap satpam kalau persepsi melihat orang dari penampilan masih tertanam di benaknya. Karena begitu banyak para professor dan doktor UGM yang bersiliweran di rektorat UGM berpakaian sederhana yang seringkali kalah dengan pegawai-pegawai biasa.

Kesan pertama memang menjadi pintu perkenalan kita dengan orang-orang baru. Berkaca dari dua pengalaman di atas, aku semakin sadar bahwa kesan pertama bukanlah segalanya. Membawa paradigma melihat orang dari penampilan akan menjebak kita dalam praduga-praduga yang tak seharusnya. Jika pengalaman pertama begitu menggoda, maka anggaplah itu sekedar ekstase sesaat saja. Karena mengenal sosok seseorang secara utuh membutuhkan waktu. Membuat kesimpulan sekejap, bisa-bisa menimbulkan kesan tak baik, bahkan juga terjadinya konflik.

Jangan percaya sama kesan pertama. Apalagi jatuh cinta karena pandangan pertama.

Iklan