Hal yang benar-benar kentara terkait ekonomi Eropa, termasuk Inggris, adalah jika mereka memutuskan untuk menghentikan pinjaman, mengurangi pengeluaran dan menaikan pajak, dan melakukannya pada saat yang sama, pertumbuhan akan menurun dari yang pernah terjadi sebelumnya. Itu berarti semakin sedikit orang bekerja dari sebelumnya, dan, karena pendapatan pajak akan tertekan dan pembayaran tunjangan pengangguran meningkat, peningkatan defisit anggaran akan jauh berkurang dari yang diharapkan. Itu sebuah paradoks Keynesian; apa yang baik untuk satu negara dapat menjadi bencana untuk semua. Ekonomi Eropa beresiko masuk ke dalam resesi “double-dip”. Meskipun tampak penting, itu tidak terlalu memberi gambaran besar: ekonomi yang stagnan berhenti di tepi deflasi.

Di Amerika Serikat, kekuatan Konservatisme juga bekerja, meskipun ada lebih banyak suara, berbagai masukan, argumen untuk melanjutkan investasi publik di bidang ekonomi. Larry Summers, penasehat ekonomi presiden, dan Tim Geithner, Sekretaris Departemen Keuangan, juga tertarik pada mempertahankan dukungan untuk pemulihan. Ada sebuah kerja terbatas pembuatan rancangan undang-undang melalui Kongres. Tapi konservatif fiskal sepertinya akan mendapatkan tempat, yang menambah risiko pelemahan global semua negara industri maju.

Dari penemuan saya, hal yang sangat berbahaya di Eropa sekarang adalah pemotongan upah pekerja sektor publik. Ini disebut “internal devaluation” didasarkan pada gagasan bahwa harga dan upah dapat bergerak turun secara bersamaan. Apakah hal itu terjadi atau tidak, yang tidak akan turun adalah nilai utang yang dikeluarkan oleh rumah tangga di negara-negara seperti Irlandia dan Spanyol. Jadi, dengan gaji yang lebih rendah dan gadai serta hutang konsumen yang sama, banyak keluarga akan ketakutan, tidak bisa melunasi utang mereka. Di negara-negara yang sudah memiliki hutang sangat besar, hal itu bisa menambahkan tekanan lebih pada sistem perbankan, dan membuat bank lebih berhati-hati dan tidak bersedia untuk memberikan kredit, yang akan menambah lilitan lain pada spiral penurunan .

Hal itu membawa saya pada kelemahan lain di Eropa dan Amerikan Serikat – kerapuhan berkelanjutan pada sistem perbankan. Ada sejumlah penahanan untuk praktek akuntansi yang dipertanyakan ketika datang ke bank, dan mereka hanya lebih dipengaruhi – mereka berhutang banyak – dan memiliki modal kurang dari yang mereka klaim. Rekapitalisasi bank-bank yang kita lihat di tahun 2008 dan 2009 belum berhasil seperti yang kita harapkan dalam hal pertumbuhan kredit, terutama pinjaman bank untuk usaha kecil dan menengah. Sebuah pengulangan dari kegentingan ekstrem kredit yang melanda dunia ketika kebangkrutan Lehman Brothers kurang bisa dibandingkan dengan kelanjutan atau bahkan eksaserbasi dalam arus pembatasan pinjaman. Jika ekonomi masuk ke dalam sebuah resesi baru atau mengalami kemandekkan seperti hasil dari pemotongan anggaran secara simultan, maka hal itu akan menambah lagi masalah perbankan melalui kredit macet. Ada juga bahaya “menular”, dimana krisis hutang di Eropa menjadi merambat kepada ekonomi riil melalui sistem finansial.

Apa perberdaannya dengan krisis 2008 – dan lebih mengkhawatirkan – adalah sebagaimana yang kita ketahui, pemerintah kurang mampu menyelamatkan perbankan dengan kehadiran mereka, karena posisi fiskal yang lemah dan kebijakan bailout bank telah amat merugikan. Jadi tidak akan ada tempat bersembunyi bagi sebuah bank yangmengalami kesulitan serius; pemerintah mungkin tidak mampu atau tidak mau menyelamatkan mereka. Persepsi resiko ini bahkan sangat memperkuat kemungkinan terjadinya peristiwa berbeda.

Menurut pandangan saya Inggris seharusnya meningkatkan diri sebagaimana pertumbuhan ekonomi Eropa. Perbandingan hutang dengan GDB dibawah 75%, dimana itu akan terus meningkat, dapat dicapai. Dalam konteks itu, kasus pemotongan melemah. Memenuhi tuntutan pasar sama seperti mencoba berdebat dengan orang gila; setelah Spanyol mengumumkan pemotongan, Badan rating menurunkan hutangnya karena prospek pertumbuhan yang lebih rendah sebagai akibat kebijakan pemotongan itu! Anda tidak bisa menang dengan pasar. Lebih baik mengikuti kebijakan yang tepat: mendukung pertumbuhan melalui pengeluaran lebih tinggi pada investasi publik dan infrastruktur, yang akan membantu ekonomi tumbuh lebih cepat dalam jangka panjang.

NB: Diterjemahkan dari artikel “Joseph Stiglitz: Fiscal conservatism may be good for one nation, but threatens collective disaster” (Professor bidang Keuangan dan Ekonomi Columbia University. Dia mendapat perhargaan Nobel bidang Ekonomi tahun 2001) di The Indenpendent terbitan Selasa 15 Juni 2010