Hebah Ahmed melihat cuaca sebelum mengeluarkan minivannya. “Ini Windy,” dia berkata dengan lirih, sambil menyelipkan rambutnya yang sedikit keluar ke dalam syalnya. Adik perempuannya, Sarah melihat keluar jendela dimana debu berterbangan di tempat parkir. “Oh hebat,” katanya, “Aku akan terlihat seperti biarawati terbang.”

Hebah, 32 tahun, dan Saran, 28 tahun, menggenakan pakaian religius, sejenis pakaian islami, sebuah pakaian luar yang disebut jilbab; khimar, sebuah penutup kepala yang menjulur sampai ke ujung jari; dan sebuah niqab, sebuah syal yang menutupi hampir seluruh wajah. Sebelum berbelanja, mereka berembuk lewat telpon untuk memastikan tidak memakai warna yang sama. Jika tidak, kami mulai terlihat seperti sebuah kultus,” jelas Sarah.

Ketika Hebah menarik pintu van, angin menerpa pakaian longgarnya seperti layar. Khadijah Leseman, kakaknya yang lebih tua 6 tahun, tertawa. Hebah disindir Khadijah dan Saulih, anaknya yang berumur 2 tahun, sedang berusaha menjaga khimar dan niqabnya tetap di tempat.

Angin meniup jilbab biru Sarah seperti kain di jemuran saat dia mendorong keranjang belanja. Eesa Soliman, anaknya yang berumur 3 tahun, tetap diam di sampingnya, hilang dalam lembungan kain.

Orang-orang yang berada di tempat parkir tak berhenti menatap. Jika kakak-adik itu menyadari bahwa semua mata tertuju pada mereka,, mereka tidak memberi tanda-tanda. Di supermarket, mereka mengabaikan tatapan aneh di bagian produksi, pasangan yang terkejut seperti memegang barang-barang panggangan dan seseorang yang cemberut dekat sereal. Mereka berjalan di sepanjang gang, berhenti untuk membandingkannya dengan harga saus spaghetti.

2 anak Hispanic terkejut dan berlari ke belakang ibunya. “Mengapa mereka berpakaiaan seperti itu?” Yang perempuan bertanya kepada ibunya dalam bahasa Spanyol. “Islam,” kata sang Ibu, sembari mengatakan kepada putrinya bahwa perempuan itu berasal dari Saudi Arabia.

Hebah yang berasal dari Tennessee, tersenyum kepada gadis kecil itu, tapi yang terlihat dari wajahnya hanyalah garis-garis di sekitar mata seperti seringaian. Setelah hampir satu dekade memakai kerudung, dia dan saudarinya baru menyadari bahwa mereka sumber keheranan – dan berbagai macam reaksi lainnya – mengitari mereka.

Hebah mengatakan dia pernah ditendang di pesawat oleh pramugari yang gugup dan diteriaki di sebuah Wal-Mart oleh para pembeli yang mengatakan dia sesorang teroris. Adiknya pernah diancam oleh orang asing di area piknik yang konon pernah membunuh seorang perempuan di Afganistan yang berpakaian seperti Sarah. Ketika dia bergabung dengan Curves gym yang berada dekat rumahnya di Edgewood, N.M., beberapa anggota gym mengancam akan berhenti. “Mereka mengatakan Islam mengambil alih,” Kata Ms. Ahmed.

Pilihannya yang terlalu menampakkan identitas Muslim juga membinggungkan kedua orangnya, imigran dari Mesir. “Aku lebih terkejut dari apapun”, kata Ayahnya, Mohamed Ahmed, yang tinggal di Houston dengan ibunya, Mervat Ahmed. Dia berkata, dia membesarkan putrinya dengan rasa bangga yang mendalam tentang latar belakang mereka muslim, namun tidak mengharapkan mereka untuk mengenakan jilbab, penutup kepala, apalagi niqab.

Dibesarkan dalam apa yang ia gambarkan sebagai sebuah rumah tangga “agama minimal” oleh orang tua yang mengenakan pakaian khas Amerika, Hebah dulu berpikir bahwa wanita yang memaki niqab itu gila.

“Sepertinya mereka tercekik,” ujarnya. “Aku pikir, ‘Tidak ada cara Tuhan yang berarti bagi kami untuk berjalan mengelilingi bumi dengan cara itu, jadi mengapa ada orang yang melakukan hal itu untuk diri mereka sendiri?’ “ Sekarang banyak orang menanyakan hal yang sama kepadanya.

HEBAH AHMED (nama depan didepannya diucapkan dengan HIB-ah) lahir di Chattanooga, besar di Nashville dan Houston, dan berbicara dengan sedikit aksen. Dia bermain basket untuk SMA Chatolic-nya, meraih gelar master dalam rekayasa mekanik dan pernah bekerja di ladang minyak Teluk Meksiko.

Dia bukanlah seorang Muslim Everywoman; itu bukan sebuah peran yang bisa dia klaim untuk dirinya sendiri. Kisahnya adalah miliknya sendiri. Tapi ia bersedia menghabiskan beberapa hari bersama wartawan untuk memberikan gambaran tentang bagaimana kehidupan di Amerika tampak seperti dari balik cadar, pakaian yang telah menjadi simbol kuat dari benturan budaya.

Semua itu terlihat dari Ms Ahmed ketika berusaha memasuki mixed company adalah mata coklatnya, beberapa bintik-bintik samar dimana matahari menyentuh bagian atas hidungnya, dan tangannya. Dia dulu meninggalkan rumah dengan jeans dan T-shirt (dia tetap bisa, dengan jilbabnya), tapi itu semua berubah setelah serangan 9/11. Peristiwa itu benar-benar menguncang dirinya, bahwa orang-orang yang telah melakukan tindakan mengerikan itu mengidentifikasi diri mereka sebagai Muslim.

“Aku terus berpikir ‘Mengapa mereka melakukannya atas nama Islam?’ “ ujarnya. “Apakah agama saya benar-benar mengatakan untuk melakukan hal-hal yang mengerikan itu?”

NB: Tulisan ini aku terjemahin dari Behind the Veil karangan Lorraine Ali, 11 Juni 2010 yang dipublikasi oleh New York Times