Sedikit demi sedikit kupupus semua kekecewaanku. Sakit karena penolakan dari seseorang yang kuanggap akan menjadi bidadari hatiku. Mungkin aku terlalu berharap kepadanya. Mungkin juga terlalu cepat aku menyampaikan rasa suka. Tapi rasa takut kehilangan karena kedahuluan dilamar orang, membuatku terlalu agresif mengejarnya.

Ketika ekspektasi begitu besar, sementara yang diincar tak sedikitpun memberikan harapan, tinggallah kekecewaan teramat menyakitkan yang kuterima. Sejak hari Jum’at kemarin tiada yang kulakukan, termasuk main sepakbola yang selalu kulakukan tiap sore kala libur kursus. Sampai kemarin, sisa-sisa luka itu masih tersisa. Aku menjadi gila, tanpa tahu apa yang harus kuperbuat. Hanya terpaku di depan komputer sambil beralih dari situs yang satu ke situs yang lain.

Meskipun penolakkan darinya menyisakan sakit mendalam, tapi aku ngak mau mati dalam keputusasaan. Memang berat untuk menerima semua dengan ikhlas, namun itulah takdir yang tak dapat kusangkal. Aku bisa mengendalikan pikiranku, tapi aku tak bisa memaksa orang untuk mencintaiku.

Aku harus berdamai dengan keadaan, agar bisa melewati situasi pelik ini. Kalau tetap saja larut dalam sedih, alamat keterpurukan lebih parah menimpa diriku. Aku tak mau mati sebelum Allah mengambil nyawaku. Bunuh diri adalah tindakan bodoh yang tak pernah terbesit dalam hatiku. Selama masih ada mentari nan bersinar di kala pagi, ketika itu harapan masih memancar.

Dengan sisa-sisa asa yang ada dan semangat ingin membuktikan bahwa aku bukanlah pecundang, ku gebut sepeda motorku tadi sore. Cukup kemarin saja aku ngak masuk kursus gara-gara patah hati. Aku tak mau hanyut dengan perasaan kalah ini. Sampailah aku di JED dengan suasana hati yang masih tak karuan. Masuk ke kelas dengan memaksakan muka tersenyum memandangi instructor yang berdiri di depan kelas.

Teman-teman satu kelas mulai berdatangan. Endar, Mbak Raras, Ismi, Mas Aji dan terakhir Desi. Duduk di samping Endar membuatku sedikit canggung. Maklumlah, ngak biasa dekat-dekat dengan cewek. Tapi, karena harus baca materi berdua, akhirnya ku tepis rasa gugup itu.

Kelas grammar berakhir. Segera ke kamar mandi, ambil air wudhu untuk sholat Magrib. Berjama’ah bersama Mas Aji dan Mbak Raras di musholla JED yang super sempit. Tapi ada rasa damai.

Kelas conversation-nya Mr. Ahwy kulalui dengan lumayan bagus. Tak seperti saat kelas intermediate yang lalu, dimana lidahku selalu kelu mengucapkan kata-kata. Aku kembali menemukan semangatku lagi.

Terima kasih buat teman-teman kelas advance yang telah membuatku “hidup” lagi. Terima kasih buat Mr. Ahwy yang begitu kocak, hingga aku senang menimpali setiap kali dia berbicara. Terima kasih buat Mr. Erwin yang telah meringankan beban di kepalaku bahwa grammar itu MUDAH.

Selamat tinggal masa lalu. Aku akan melangkah meraih cita dan impianku. Sekali-kali engkau tak dapat merenggut semangat yang berkobar di jiwa ini. Nasibku berada di tanganku sendiri. Silahkan pergi, karena aku tak akan mengingatmu lagi. Aku manusia bebas, yang tak akan kalah dengan penolakanmu…

Iklan