Salah satu hal terbesar yang mendapat perhatian dari seorang pria adalah keberadaan seorang wanita. Betapa banyak syair-syair, betapa banyak roman yang dituliskan, betapa banyak lukisan-lukisan, yang pada sebenarnya hanya sebuah karya biasa, namun berubah menjadi karya-karya menyejarah karena berisikan tema wanita di dalamnya.

Wanita tercipta dengan keunikkan. Dengan keunikkan bentuk tubuh, dengan keunikkan psikologis dan juga keunikkan pesonanya. Tak ada seorang laki-lakipun yang tak bereaksi ketika berhadapan dengan wanita. Dari yang disebut sholeh/alim sampai pada pria bejat sekalipun.  Termasuk juga dengan banci dan para sufi yang menyendiri dari hiruk pikuk dunia, meskipun dalam wilayah yang berbeda. Pilihan menjadi banci karena kecintaan untuk menjadi wanita. Sementara, pilihan menjadi sufi karena didorong “ketakutan” akan fitnah wanita.

Apalagi kalau kita cuba memasuki tema yang lebih spesifik, yakni “seks dan wanita. Maka akan didapati fakta-fakta yang fenomenal. Beberapa penelitian menyebutkan,

“Survei yang dilakukan Kinsey Institute (sebuah institusi di Universitas Indiana, Amerika Serikat) menyimpulkan bahwa 37 persen pria di dunia ini memikirkan seks setiap 30 menit. Bahkan sebuah penelitian yang dimuat majalah Glamour mengatakan bahwa pria memikirkan seks setiap 7 detik. Jadi, jika diasumsikan bahwa pria memiliki waktu 16 jam terjaga dalam sehari, dan memikirkan seks setiap 7 detik, berarti ia memikirkan tentang seks sebanyak 57.000 kali sehari. Jumlah ini kurang lebih sebanyak jumlah seorang manusia bernapas kala ia terjaga (tidak sedang tidur).”

Maka tak salah kiranya, beberapa pemuda-pemuda yang alim dan merasa godaan seksualitas wanita begitu besar memutuskan untuk menikah muda untuk menjaga kemaluannya.  Sebagaimana sebuah proposal nikah yang dibuat oleh seorang pemuda sholeh ini,

“Bunda dan Ayahanda tersayang… Bercerita tentang pergaulan anak muda yang cenderung bebas pada umumnya, rasanya tidak cukup tinta ini untuk saya torehkan. Setiap saya menulis peristiwa anak muda di majalah Islam, pada saat yang sama terjadi pula peristiwa baru yang menuntut perhatian kita..Astaghfirullah.. Ibunda dan Ayahanda.. Inilah antara lain yang melatarbelakangi saya ingin menyegerakan menikah.”

Seorang teman yang aktif dalam lembaga kesehatan reproduksi dan cukup profesional dalam hubungan seksual (before married) dengan prestasi melakukan hubungan seksual berkali-kali dan beberapa tahun tanpa membuat sang wanit hamil, mengatakan,

“Sensualitas wanita itu tergantung otak pria. Kalau otaknya ngeres, melihat cewek tertutup rapi dan bercadar sekalipun tetap saja terangsang. Tapi kalau ia pandai memandang wanita sebagai keindahan Tuhan, maka melihat wanita telanjangpun, hal yang biasa baginya.”

Tapi apakah benar pernyataan itu sepenuhnya? Aku  masih percaya bahwa gejala otak sangat dipengaruhi oleh stimulans yang ia dapatkan. Tidak mungkin, ketika melihat cewek berjilbab longgar, langsung pikiran tentang seks yang muncul. Kalaupun menyerempet pada imajinasi hubungan badan, maka itu adalah rentetan selanjutnya setelah ia melakukan “semedi” menerawang kira-kira apa yang ada di balik baju sang cewek yang tentunya juga dipengaruhi oleh memori-memori melihat wanita tanpa busana. Berbeda halnya dengan reaksi yang ditimbulkan ketika melihat wanita berpakaian ketat, memperlihatkan tonjolan dan lekukan tubuhnya, berpakaian minim atau tidak berpakaian sama sekali. Maka respon alamiah pertama muncul adalah semakin cepatnya detakan jantung akibat bekerja respons birahi.

Pengalaman penulis bergaul, menatap perempuan, dan berinteraksi dengan perempuan menghadirkan fenomena yang beragam. Ada yang menghadirkan rangsangan birahi, ada yang menghadirkan ketenangan jiwa, bahkan ada yang menghadirkan kekaguman dan kebencian.

Bertemu dengan wanita yang punya pesona seksual yang kuat memang membuat pikiran sulit untuk berkonsentrasi. Banyak hal yang harus dikendalikan. Meskipun awalnya tidak berpikiran ngeres, tapi tetap saja godaan itu terus menganggu.

Namun, ada pula wanita dengan pesona permata. Yang menghadirkan kesejukkan dan ketentraman hati ketika memandangnya. Tak terbesit pikiran ngawur, apalagi birahi yang tak terkendali. Bahkan, memandangnya menghadirkan sebuah kesadaran betapa hinanya jika memperturutkan nafsu durjana.

Mungkin kategori yang kedua ini adalah wanita surga. Wanita yang pandai menjaga kesuciaan diri dan juga hatinya. Hingga aura yang ia pancarkan adalah aura kedamaian dan kesejukkan. Bagaikan air yang menyentuh wajah.

Ah, jika aku bisa memilih, tentu aku ingin bertemu dengan wanita tipe kedua ini saja. Sosok wanita bak permata, yang  mulia karena anugerah yang dimilikinya. Yang ketika menjaganya,  syurga menjadi rewardnya.