Sejak kepulangan dari Bedah Buku “Nicotine War” karya Wanda Hamilton di Auditorium Fakultas Ilmu Budaya UGM (Sabtu, 12 Juni 2010), aku dilanda kebinggungan yang tak menentu. Common sense-ku runtuh oleh uraian para pembicara yang mengatakan,

“Kampanye anti tembakau yang saat ini semarak dilakukan oleh berbagai kalangan tak lebih sebagai propaganda perusahaan farmasi yang hendak mendapatkan emas nicotin dari sisi lain, lewat penjualan berbagai produk berhenti merokok. Ancaman-ancaman kesehatan bahwa merokok menyebabkan kanker, jantung, impoten, gangguan kehamilan dan berbagai penyakit ganas lainnya hanyalah propaganda yang tak benar sepenuhnya.”

Sehabis acara belum ada kesimpulan yang kudapat. Kecuali sebuah warning emosional dari seorang Kepala Desa dari Daerah Temanggung, “Tembakau atau Mati. Jika ada yang mau mengusik mata pencaharian kami, maka bersiap-siaplah menghadapi tragedi yang lebih dasyat dari Koja Jakarta.”

Maklumlah bagi rakyat di desanya, tembakau merupakan sandaran perekonomian. Bukan tak mau beralih dengan tanaman lain. Pernah beberapa kali mereka mencoba menanam tanaman lain. Hasilnya, mati sebelum panen, harga jatuh, yang semuanya berujung kerugiaan. Hingga mereka berkeyakinan, “Tanah Temanggung tercipta untuk tembakau.”

Kebinggunganku tidak akan runyam seperti ini, jika tak ada fatwa haram dari Muhammadiyah. Aku bisa menerima bahwa alasan penyakit-penyakit mengerikan yang tertera di bungkus dan papan iklan rokok hanyalah kampanye berlebihan. Bapakku seorang perokok berat, namun masih sehat-sehat saja. Banyak teman-temanku menghabiskan sekian batang rokok perhari, namun tetap saja lebih kuat dariku ketika bermain sepakbola di lapangan. Malahan, kalau kita baca sejarah kemunculan rokok, pada mulanya kehadiran tembakau dan cengkeh yang kemudian dimodifikasi menjadi rokoh adalah sebagai obat yang manjur menyembuhkan beberapa penyakit.

Namun, ketika wilayah agama sudah masuk dalam masalah ini, konsekuensinya teramat besar. Ada punisment and reward, dosa dan pahala dan surga dan neraka. Apalagi ketika kukonfirmasi lagi kepada Prof. Yunahar Ilyas, Ketua PP. Muhammadiyah, beliau mengatakan,

” Yang pro rokok, sadar atau tidak telah mendukung kapitalisme industri rokok (Philip Morris,  BAT dan Cina Indonesia). Muhammadiyah  bukan organisasi kemaren sore yang gampang terjebak, kita mengeluarkan fatwa secara murni, hanya dengan kepentingan menyelamatkan umat dari bahaya rokok.” (SMS langsung dari Prof. Yuhanar di hp-ku tertanggal 12 Juni 2010 jam 11.28).

Aku sebenarnya enjoy-enjoy aja dengan rokok. Aku sendiri bukanlah perokok. Pernah waktu SMP nyoba-nyoba. Tapi setiap kali main bola nafasku terengah-engah. Hingga aku memutuskan untuk tak menyentuh barang yang telah membuat pemilik Grup Djarum Robert Budi dan Michael Hartono bertengger di puncak daftar orang-orang terkaya di Indonesia dengan nilai kekayaan US$7 miliar itu.

Kalau dikembalikan kepada free choice, aku tentu akan memilih tidak merokok. Karena bagiku merokok tidak ada manfaatnya. Namun, bagi beberapa orang, rokok adalah sumber inspirasi. Pikiran buntu kalau tidak menghisap rokok. Beberapa filsuf dan tokoh-tokoh terkenal yang pernah kubaca biografinya adalah perokok berat. Salah satunya, Grand Old Man Agus Salim yang terkenal dengan kisah cerutu saat sidang PBB.

Di London pada sebuah perjamuan diplomatik lebih dari 50 tahun lalu, seorang lelaki bertubuh pendek dan kurus untuk ukuran orang Eropa memantik rokok dan mengepulkan asap dari mulutnya. Dia mengenakan fez hitam, juga songkok di atas rambut putihnya. Aroma asap kretek merebak ke seisi ruangan itu. Seorang diplomat bule menghampirinya, ”Apakah gerangan rokok yang sedang Tuan isap itu?” tanyanya. ”Inilah Yang Mulia,” tutur lelaki itu, ”yang menjadi alasan mengapa Barat menjajah dunia.”

Apabila thesis yang disampaikan oleh Wanda Hamilton, sang penulis “Nicotine War” benar adanya, maka larangan merokok atas asumsi kesehatan bisa dimentahkan. Mungkin dari serangan bahwa rokok telah membuat ekonomi keluarga beberapa orang terganggu karena belanja rokok menempati peringkat teratas dalam beberapa rumah tangga, bisa menjadi pegangan kedua untuk menguatkan larangan peredaran rokok. Namun dilihat dari sumbangsih yang diberikan oleh  rokok baik yang didapatkan oleh para petani tembakau-cengkeh dan orang-orang yang bekerja di industri rokok yang konon berjumlah 6 jutaan orang, sumbangan sekian triliyun untuk devisa negara, belum lagi beasiswa-beasiswa yang amat membantu para siswa dan mahasiswa untuk meneruskan pendidikan, serta sponsor-sponsor dan iklan-iklan yang dinikmati hasilnya oleh berbagai lapisan masyarakat, maka sisi mudharat dan manfaat yang selalu menjadi acuan para ulama untuk membuat fatwa menjadi lebur begitu saja.

Terlepas dari perdebatan perang industri rokok dan industri farmasi, tentu penjelasan para dokter sangat dibutuhkan dalam ini. Tentu penjelasan yang kita butuhkan adalah penjelasan ilmiah bukan didasarkan pada kepentingan tertentu dan subjektivitas. Kalau misalnya, ketakutan-ketakutan kesehatan akan bahaya rokok benar-benar terbukti salah sebagaimana yang disampaikan oleh Wanda Hamilton dan beberapa koleganya, maka telah terjadi sebuah pembohongan publik yang akan membuat kredibilitas dokter dipertanyakan. Semakin mengukuhkan akan keberadaan Mafia dokter dan dunia farmasi yang mulai dibuka lewat beberapa publikasi belakangan ini.

Di sisi lain, kalaupun Muhammadiyah tetap dengan keyakinannya bahwa rokok itu haram, maka yang dikejar bukan para perokok saja. Tidak cukup membuat Muktamar Satu Abad Muhammadiyah sebagai muktamar bebas asap rokok, tapi juga harus memikirkan nasib 6 juta manusia yang mengantungkan hidupnya dari industri rokok, harus memikirkan sumber pemasukan baru bagi kas negara jika kehilangan dana akibat pelarangan rokok, harus memikirkan nasib siswa dan mahasiswa yang mengantungkan biaya pendidikannya dari beasiswa industri rokok.

Selain itu, Muhamamdiyah juga harus memberikan penjelasan yang memadai terkait program-program kesehatannya yang dibiayai oleh funding-funding yang ditenggarai sebagai team ilmiah dan propaganda dari industri farmasi. Ditambah lagi, komitmen fatwa haram harus dibarengi sebuah upaya nyata perang terhadap hal-hal menguntungkan yang diberikan oleh industri rokok. Sangat miris, kalau seandainya Universitas-Universitas Muhammadiyah masih menerima dengan senang hati dana-dana dari industri rokok.

Terlepas dari tudingan-tudingan miring terhadap Muhammadiyah, sebenarnya pembicaraan yang diangkat Bedah Buku yang diadakan oleh Spasi Media itu juga dipenuhi dengan kejanggalan-kejanggalan. Rangkaian diskusi  pada tanggal 8 hingga 17 Juni 2010 yang secara marathon diselenggarakan di 5 Universitas Negeri (UI, UNPAD, UGM, UNDIP, dan UNAIR) di 5 kota besar ini tidak satupun menghadirkan pembicara dari kalangan kesehatan. Apakah apatisme mereka terhadap dunia kedokteran Indonesia melatarbelakangi hal itu? Ataukah ini hanya bagian promosi, agar bedah buku berlangsung dengan sukses tanpa ada perlawanan berarti? Kalau sikap apatis ini yang mendominasi, maka kita tentu juga berharap, para pengusung kampanye ini untuk tidak memakai jasa dokter ketika sakit. Karena sangat aneh ketika para dokter bersepakat merokok merusak kesehatan, jika ada penemuan berseberangan dengan penelitian yang sudah ada. Artinya, ketika kebenaran umum yang berkembang di masyarakat, merokok merusak kesehatan, maka kita tentu mempertanyakan sejauhmana validitas penelitian yang dilakukan oleh Wanda Hamilton yang menjadi buku pegangan para pengusung pro rokok ini. Apalagi setelah penulis coba telusuri di berbagai media internasional, sangat sulit untuk mendapatkan informasi detail tentang siapa sebenarnya Wanda Hamilton. Ditambah juga, ketika penulis mencoba mencari edisi inggris buku “Nicotine War” di beberapa situs penjualan buku, tidak penulis temukan buku tersebut.

Kedua, saat diskusi berlangsung penanya didominasi oleh orang-orang yang pro rokok. Ada petani rokok, ada kepala desa yang sumber pendapatan pendudukannya dari bertanam tembakau, dan perokok yang mensosialisasi sebuah penemuan baru, merokok aman. Artinya, dominasi orang-orang yang punya kepentingan terhadap keberadaan rokok begitu dominan. Apalagi tidak ada penjelasan memadai terkait dengan bagaimanakah korelasi antara petani dan industri rokok.

Pertanyaan sejauhmana posisi tawar mereka terhadap harga tembakau hanya ditimpali dengan jawaban emosional dari Ketua Asosiasi Petani Tembakau Jateng. Jangan-jangan diskusi ini hanya merupakan perpanjangan tangan dari kepentingan elit yang berkoar-koar atas nama rakyat. Tudingan ini bukan tanpa pijakan. Data-data yang didapatkan oleh Muhammadiyah menunjukkan bahwa kebanyakan buruh-buruh perkebunan tembakau masih terjerat dalam kemiskinan dan upah yang rendah.

Ketiga, para pembicara terlalu sering membahas hubungan perang anti tembakau dengan kapitalisasi. Padahal, kalau mau jujur, produk rokok yang banyak beredar di Indonesia kebanyakan adalah produk impor. Atau kalaupun perusahaannya ada di Indonesia, pemiliknya sudah berpindah tangan kepada pihak asing. Kalau memang perang anti rokok sangat terkait dengan kapitalisasi internasional, kenapa perlawanan terhadap rokok dilakukan begitu massif di negara-negara maju tempat para kapiltalis itu berada???

Anomali-anomali ini tentu sebenarnya bisa kita jawab dengan hati nurani masing-masing. Banyak orangtua yang melarang anak-anaknya untuk merokok. Bahkan tokoh sekaliber Syafi’i Ma’arif-pun membuat sebuat tulisan khusus karena kekecewaannya terhadap perilaku merokok anaknya. Rokok memang tidak bisa kita hubungkan dengan kematian. Karena kematian tidak ada hubungannya sakit. Orang yang sehat, segar bugar-pun bisa mati kalau memang ajal sudah sampai. Tapi lebih kepada perilaku hidup sehat dan pola hidup hemat menghambur-hamburkan uang untuk sekedar refreshing karena ketagihan.

Mau ada penelitian yang mengatakan rokok itu menyehatkan, namun sampai detik ini saya masih percaya rokok itu merusak. Saya menyaksikan batuk-batuk aneh dari teman-teman yang gila rokok. Ya, semua terserah kita. Setiap orang punya pilihan dan bertanggung jawab dengan pilihannya itu. Tapi jangan sampai berteriak bahwa kampanye anti rokok adalah permainan kapitalis farmasi, tapi tetap saja membeli rokok-rokok impor yang ujung-ujungnya semakin memperkaya kapitalis rokok. Sama saja boongnya.

Tentu pilihan terbaik menurut penulis adalah jangan merokok. Karena kita tidak akan terjebak dalam pertarungan dua kepentingan ini. Melihat konsistensi dan keseharian para ulama Muhammadiyah, penulis berkeyakinan bahwa fatwa haram benar-benar dilandasi semangat untuk menyelamatkan umat. Berbeda sekali dengan para pembicara saat diskusi yang hadir dengan penuh topeng-topeng kepentingan dan kepalsuan.

Saat ini kita tak butuh orang-orang pintar yang bicara berapi-api, tapi butuh sebuah tauladan. Buat apa mendengarkan orang yang berbuih-buih berceramah tentang karakter bangsa tapi melakukan kebohongan publik ketika mengatakan dirinya sebagai perwakilan dari Muhammadiyah, tapi setelah dikonfirmasi kepada pimpinan Muhammadiyah, BOHONG SAMA SEKALI, sebagaimana yang dilakukan oleh Budayawan Mohammad Sobary. Ketika kata tak sesuai dengan perbuatan, buat apa mengikuti orang-orang seperti itu…