Suara pekikan Allahuakbar… Allahuakbar… membahana di Masjid Kampus UGM selepas sholat Jum’at kemarin. Sekitar seribu-an jama’ah yang didominasi oleh para mahasiswa memadati “Tabligh Akbar dan Galang Dana Palestina”. Satu per satu pembicara mulai tampil. Membakar semangat massa dengan jihad dan kutukan terhadap Yahudi. Ayat-ayat Al Qur’an-pun melengkapi orasi penuh emosi. Tiap beberapa menit kembali teriak Allahuakbar… Allahuakbar menggema membakar suasana. “Hari ini kita terenyuh melihat penderitaan rakyat Palestina. Tapi semua itu hanya simpati sementara saja. Nokia masih dalam gengaman kita, Coca Cola dan Aqua masih menjadi minuman favorit kita.” Begitu kata Muhammad Fauzil Adhim, yang dengan suara khas hendak menyadarkan kembali ingatan kaummuslimin untuk memboikot produk-produk yang dikatakan sebagai penyumbang Israel untuk membeli mesin-mesin perang yang membunuh rakyat Palestina.

Pembicara dari Mer-C, dr. Sayuti, yang tampil setelah Fauzil Adhim, memaparkan rencana tindak lanjut misi kemanusiaan membuka blokade Gaza. Konon, relawan Mer-C akan bergabung dengan misi kemanusiaan lanjutan yang akan dikawal oleh kapal perang Iran.

Seorang bapak tua berpeci hitam dan berambut putih mendapat giliran untuk menyampaikan pidato. Suaranya lembut dan datar. Tak seperti pembicara-pembicara sebelumnya. “Sebagai intelektual kita harus kritis melihat kasus Israel-Palestina. Kalaupun mau melakukan melakukan boikot harus konsisten. Jangan sampai demo mengutuk Israel, tapi minumannya Aqua… Kalau mau perang dengan Israel mau pake senjata apa??? Apakah kita punya senjata canggih untuk melawan???” Beliau adalah Prof. Ahmad Mursyidi, guru besar farmasi UGM yang masih menjabat sebagai Ketua Umat Islam DIY dan salah satu pengagas berdirinya Center Religous and Cultural Studies – Indonesian Consortium for Religious Studies, program pasca sarjana yang dikelola oleh UGM dengan semangat toleransi sekaligus reduksisasi konflik lewat pengkajian agama-agama.

Akupun mulai tak konsen ketika Ustadz Jazir ASP mendapat giliran berbicara. Pikiranku berkecamuk. Kebinggungan yang bertambah-tambah ketika Hardjito Warno, seorang relawan Indonesia yang turut berada Misi Kemanusiaan yang dipimpin oleh IHH di Kapal Mavi Marmara mulai menceritakan aksi heroik saat melawan sergapan Israel. Apalagi ketika moderator mengungkit-ungkit pemecatan seorang wartawan senior Gedung Putih, Helen Thomas, yang memberikan pernyataan tajam atas Israel,

“Suruh mereka keluar dari Palestina. Ingat orang-orang ini (rakyat Palestina) dijajah dan itu tanah mereka, bukan Jerman, bukan pula Polandia… Mereka bisa pulang, ke Polandia, Jerman, dan Amerika dan tempat-tempat lain…. Israel harus hengkang dari Palestina, sebab negeri itu bukan hak orang-orang Israel.”

Pertanyaan besar yang beputar-putar di kepalaku adalah APAKAH KONFLIK ISRAEL – PALESTINA  ADALAH PERANG AGAMA ATAU PERANG IDEOLOGI ATAUKAH PERANG KEMANUSIAAN?

Kalau perang agama antara Islam versus Yahudi, maka logika jihad yang dipakai oleh para pembicara itu (kecuali Prof. Mursyidi) bisa dibenarkan. Paradigma yang hendak dipakai memang logika Perang Armageddon. Dimana permusuhan antara Islam dan Yahudi adalah permusuhan abadi yang tak akan selesai di meja perundingan.

Dalam memakai logika “jihad” ini, menurut hemat penulis, misi-misi kemanusiaan yang melibatkan  banyak pihak dari berbagai latar belakang agama tidak akan efektif. Apalagi kalau kita baca dalam literatur Perang Akhir Zaman versi Islam, orang-orang non Islam masuk dalam garda barisan tentara Yahudi. Kalau mau konsisten, paradigma “Jihad Palestina” ini mengambil usulan yang pernah disampaikan oleh petinggi Hizbut Tahrir Indonesia, Ismail Yusanto, yaitu pengerahan pasukan bersenjata. Jika Ustadz Ismail mengusulkan pasukan perdamaian, kolaborasi antara angkatan bersenjata seluruh negara-negara Islam, maka seharusnya pengusung “Jihad Perang” melawan Israel membangun pendidikan-pendidikan militer bagi pemuda muslim yang telah berhasil mereka bakar semangatnya. Karena konsekuensi menertawakan perundingan damai dan membakar amarah pemuda-pemuda Islam adalah pelatihan militer yang sistematis agar terbentuk pasukan-pasukan Islam yang tangguh, bukan sekedar bermodal semangat jihad saja.

Paradigma kedua yang berkembang di kalangan muslim Indonesia adalah konflik Palestina-Israel merupakan perang melawan ideologi Zionis. Salah satu pelopor pandangan ini adalah Prof. Syafi’i Ma’arif. Apa itu Zionis?

Zionism is the national revival movement of the Jews. It holds that the Jews are a people and therefore have the right to self-determination in their own national home. It aims to secure and support a legally recognized national home for the Jews in their historical homeland, and to initiate and stimulate a revival of Jewish national life, culture and language.”

Zionisme hanyalah paham yang diikuti oleh sebagian orang-orang Yahudi. Bahkan beberapa tokoh intelektual Yahudi menolak paham-paham Zionis sebagai manipulasi agama untuk kepentingan politik. Di antaranya adalah para pemeluk Yahudi yang bergabung di dalam Naturei Karta. Dalam posisinya terhadap negara Zionis Israel mereka mengatakan:

“ACCORDING TO THE JEWISH FAITH AND TORAH LAW THE JEWISH PEOPLE ARE FORBIDDEN TO HAVE THEIR OWN STATE WHILE AWAITING THE MESSIANIC ERA!”

Paradigma ketiga adalah Perang Kemanusiaan. Paradigma ini tidak melihat latar belakang suku, agama, ras ataupun perbedaan-perbedaan lainnya. Bagi mereka, ketika satu orang atau satu kelompok melakukan penindasan dan pembunuhan terhadap orang atau kelompok lain, maka itu harus diperangi.

Dalam konteks teologis mereka berpandangan, kedamaian dunia hanya bisa dicapai lewat perdamaian agama-agama. Sebagaimana yang disampaikan oleh Hans Kung, seorang tokoh Global Ethic:

“Tidak ada kehidupan bersama manusia tanpa sebuah etika dunia bagi bangsa-bangsa. Tidak ada perdamaian di antara bangsa-bangsa tanpa perdamaian antar agama-agama. Tidak ada perdamaian antar agama-agama tanpa dialog antar agama-agama.”

Mendengar cerita dari Hardjito yang pernah mendapatkan pelatihan khusus dari Ulama Palestina, agaknya klaim Israel bahwa Misi Mavi Marmara diboncengi oleh mereka-mereka yang dimotivasi kebencian terhadap bangsa Yahudi, anti semit, benar adanya. Sebagai bangsa yang telah memiliki alam bawah sadar traumatis yang sangat akut, sedikit apapun ancaman sebisa mungkin mereka antisipasi. Termasuk dalam kasus Mavi Marmara, meskipun membawa bantuan kemanusiaan dan ditumpangi oleh aktivis-aktivis kemanusiaan dari berbagai negara, tetap saja alarm kewaspadaan Israel menyala.

Penulis hanya berusaha menguraikan bahwa kepeduliaan Muslim Indonesia di Indonesia terpecah dalam berbagai macam pemikiran. Semua mengecam, tapi itu dilatarbelakangi oleh asumsi epistemologis yang berbeda. Belum lagi anomali yang begitu terang pada negara-negara Muslim Arab. Sebagaimana yang ditulis oleh teman penulis, Wanda Kurniawan, alumni Teknik Kimia UGM,

“Memang banyak yang anomali dalam masalah Palestina ini pak Anggun. Mesir ikut memblokade gaza, tapi mesir jarang sekali dikecam. Dan kenapa mesir juga ikut memblokade gaza. Arab saudi terus menjual minyak ke Amerika, sementara amerika terus menerus mendukung israel. Media massa milik yahudi terus menerus mendiskreditkan islam, tapi umat islam yang terus menerus mengutuk israel / yahudi tak mau beralih dari media yahudi ini. Yang keras membela palestina justru iran , negara syiah dan turki yang sekuler…”

Secara teologis, meletakkan konflik Israel-Palestina sebagai Perang Agama, akan membawa kita pada perang tiada berujung sampai kiamat. Karena muara semua ini adalah Perang Akhir Zaman/Perang Armageddon. Dunia akan senantiasa panas dengan justifikasi yang sama, membela Tuhan.

Jika kita sepakat dengan meletakkan konflik ini sebagai masalah kemanusiaan, maka akan banyak cara untuk menuju perdamaian. Menghuni bumi yang kecil ini dengan  konflik hanya menambah permasalahan kemanusiaan. Secara alamiah manusia menghendaki perdamaian. Dan perdamaian itu hanya bisa dicapai jika kebencian, permusuhan, harus dibasmi meskipun baru dalam batas-batas pemikiran.

Namun, dunia ini sudah terlanjur menuliskan tinta-tinta darah dalam sejarahnya. Yang dilakukan Israel hari ini hanya sebuah balas dendam kecil, apabila dirunut dari kekejaman yang telah mereka derita semenjak berkuasanya Para Fir’aun ribuan tahun sebelum masehi. Penderitaan yang tiada berhenti, henti tradegi holocoust menjadi senjata ampuh bagi mereka untuk mengugah simpati dunia.

Semakin rumit, jika semangat balas dendam itu berkelindan dengan legitimasi teologis akan kehadiran Messianic Age yang menurut mereka berpusat di Bukit Sion, tanah yang saat ini dikuasai oleh kaummuslimin Palestina.

Jika Tuhan memang menginginkan Perang Armageddon, maka Israel sudah mendahului persiapan umat Islam. Namun, jika manusia punya kuasa untuk menentukan masa depan dunia, maka seruan aktivis-aktivis kemanusiaan seperti Hans Kung harus mendapat perhatian serius bagi setiap orang yang menghuni planet kecil penuh masalah yang bernama BUMI ini….