Dingin menyerang tubuh kurusku. Entah dingin karena apa, padahal seharian ini Jogja begitu cerah sampai malam ini. Aku tak paham lagi dengan tubuhku sendiri. Aku binggung…

Apakah ini karena memendam rindu kepadamu dek? Berkali-kali aku menyukai wanita, tapi tiada yang seperti ini. Aku hanya bisa memandang foto-fotomu. Sebentar aku bisa merasakan kesejukkan itu. Tapi setelah beberapa hari ini tiada sms darimu, aku kalah. Tak mampu lagi mempertahankan fisik-ku yang selama ini begitu kubanggakan.

Setelah kukatakan bahwa aku demam, baru engkau mau membalas sms-ku. Dengan rangkaian kalimat yang engkau kutip dari ayat Al Qur’an.

“Apa kamu mengira akan masuk syurga, sedangkan Allah belum memberikan atasmu cobaan, untuk mengetahui hamba-hambaNya yang bersabar.”

Hanya kucuba mengobati sakit ini dengan membuka Al Qur’an. Menahan tangisku dengan ¬†melantunkan kalam Ilahi itu. Sedikit aku bisa mengendalikan diri.

Aku pikir, aku akan kuat melewati “derita ini”. Seperti yang telah kujalani beberapa kali. Aku berhasil mengalahkan tangis karena perihnya cinta.

Namun, ketika denganmu, aku tak kuasa. Aku runtuh. Hanya sebuah do’a yang bisa kupanjatkan selepas sholat-sholatku.

Aku tak akan memaksakan kehendakku kepada Allah. Karena aku sadar diri siapa aku ini. Akupun tak sedang mencari simpatimu Dek. Tapi, rasa ini tak bisa kubohongi. Bahwa, engkau sudah masuk ke relung-relung hatiku…