Tak ingin terbawa perasaan sendiri, akupun membuka ym-ku. Ya, ada Ade, teman baik yang sejak beberapa bulan yang lalu menjadi sahabatku.  Saat kaku, tak tahu harus memulai menulis skripsi pasca ujian proposal yang penuh dengan revisi, kuhampiri dirinya. Setelah curhat dari hati ke hati, akupun akhirnya bisa menyelesaikan skripsiku dalam waktu 2 bulan-an. Termasuk waktu pengerjaan yang cepat di fakultasku, apalagi dengan reward nilai A dari semua dosen penguji.

Kemarin, ketika gadis yang begitu kuharapkan bisa mengisi kesepianku, menjadi sandaran di tengah kekalutan yang mendera jiwa ini, memutuskan MENOLAKKU, kembali kuhampiri Ade. Meski lewat chat di YM, tangiskupun tak jadi buncah. Ade membuatku kuat menghadapi semua.

“Bukan berdoa yang mas butuhkan… tapi memperbaiki diri… itu lebih penting… agar dimata ALLAH mas pantas menikah… gak usah niat cari istri… ALLAH akan memberi jika saatnya… Sekarang mau lari kaya apa juga kalo belum waktunya yah belum nikah lah… santai aja…kecewa itu gak mutu… CEMEN… gak penting lah nangis untuk perempuan, yang belum tentu nangisin mas…”

Kata-kata Ade begitu menyentakkanku. Menyadarkan bahwa hidup belum berakhir. Aku tak boleh kalah hanya sebuah penolakkan wanita. Perjalanan hidupku masih panjang. Masih banyak yang bisa kulakukan. Masih banyak potensi diri yang bermanfaatkan bagi orang lain, jika terus kukembangkan.

Makasi ya De. Kata-kata hikmahmu telah menguatkanku menjalani semua ini…