Ketika saya membuat sebuah essai singkat tentang Fenomena Facebook di Indonesia pada bulan Maret 2009 yang lalu, Facebook sedang menapaki pencapaian spektakuler di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Terhitung sampai 22 Februari 2009, 1.333.649 user Indonesia telah terdaftar di Facebook. Menurut situs Nick Burcher, statistik 31 Maret 2009 menunjukkan peningkatkan luar biasa,  2.325.840 users. Data terakhir yang dilansir oleh Nick Burcher menyebutkan, saat ini Indonesia menduduki peringkat ketiga pengguna Facebook di bawah Amerika Serikat dan Inggris, dengan jumlah 20.775.320 user. Artinya, dalam satu tahun saja terjadi peningkatan sekitar 793% pengguna facebook di Indonesia.

Pada saat membuat Fenomena Facebook di Indonesia, saya melihat geliat Facebook masih bisa dihentikan lewat kehadiran situs alternatif. Namun, tak ada tanda-tanda kemunculan saingan Facebook. Bagi saya, Twitter bukanlah saingan Facebook, karena para netter biasa mengabungkan kepemilikkan pada dua situs yang berbeda ini. Hingga, perkembangan luar biasa Facebook tanpa disadari sudah mewabah di negeri ini.

Munculnya MillatFacebook.com sebagai situs reaktif atas regulasi longgar Facebook terhadap munculnya sebuah group  ’Everybody Draw Mohammed Day’ masih sekedar riak-riak kecil di tengah keperkasaan Facebook. Sebuah laporan menyebutkan hingga tanggal 1 Juni 2010, pengguna Millatfacebook baru mencapai  124.149 Member. Itupun masih didominasi oleh orang-orang Pakistan yang tak lagi bisa mengakses Facebook karena pelarangan oleh Pemerintah setempat. Di sisi lain, appearance Millatfacebook terkesan copypaste. Tak ada inovasi yang berarti kecuali penambahan fitur-fitur Islami. Jika kita bawa ke wilayah hak kekayaan intelektual, maka Millatfacebook bisa diserang dikarenakan aksi penjiplakkan nama dan bentuk contents yang dimilikinya.

Berkaca kepada situs jejaring sosial yang dulu pernah booming di Indonesia, Friendster, yang bisa berjaya sekitar 5 tahunan di hati netter Indonesia, agaknya kejumawaan Facebook sangat sulit untuk dibendung. Jika kita menghitung naiknya grade Facebook dari awal tahun 2009, maka masih ada 4 tahun lagi untuk meruntuhkan dominasi Facebook. Itupun dengan syarat, ada pesaing lain yang lebih inovatif dan Facebook bergerak melawan common sense penggunanya. Tapi sejauh ini, Facebook cukup cepat menanggapi riak-riak yang membuat orang meninggalkannya. Keluhan jaminan privasi yang banyak dikeluhkan oleh “facebookers cerdas” (Saya menyebut facebookers cerdas karena merekalah yang kritis terhadap kebijakan privasi facebook, tidak seperti facebookers awam yang asal isi data dan upload foto) direspon dengan regulasi privasi yang lumayan menyenangkan. Gerakan-gerakan kebencian terhadap satu agama atau ras seperti kasus “Everybody Draw Mohammed Day” akhirnya juga dihapus, meskipun masih menunggu geliat aksi protest di berbagai penjuru dunia. Sehingga aksi angkat kaki besar-besaran dari Facebook, masih terkendali sejauh ini.

Penulis melihat salah satu faktor yang membuat gerakan anti Facebook bisa menjadi bola liar di Indonesia adalah keberadaan sang pemilik Facebook, Mark Zuckerberg, sebagai orang YAHUDI. Konflik Palestina-Israel yang tak kunjung reda bisa menjadi migrasinya facebookers muslim di Indonesia. Faktor pemicunya adalah Mark ditenggarai sebagai donatur Israel untuk memperkuat kehadiran negara Yahudi Raya di Midle East. Tapi, dugaan ini sejauh pengetahuan penulis, belum memiliki bukti-bukti yang kuat.

Meskipun ada beberapa orang yang bisa menghindarkan diri dari hiruk-pikuk facebook, agaknya sangat sulit bagi orang yang sudah memiliki account di facebook untuk meninggalkan situs jejaring sosial paling populer di dunia ini. Penulis melihat beberapa orang yang mencoba untuk cabut dari facebook oleh karena motivasi agama, perlindungan privasi ataupun alasan yang lain, hanya bertahan sebentar, kemudian kembali mendaftarkan diri.

Kehilangan account di facebook ibarat kehilangan simcard seluler. Kehilangan banyak contact dengan berbagai relasi, baik teman kampus, teman kantor, teman lama pas SMA-SMP-SD, orang-orang populer yang bisa kita kenali lewat facebook, telah membuat orang yang selama ini “tergantung” dengan facebook tersisih dari pergaulan luas di era global. Bahkan, beberapa teman yang kita miliki di facebook belum tentu tersimpan nomor selulernya di handphone kita. Inilah penyebab utama (menurut penulis) yang membuat para member facebook sulit untuk keluar.

Facebook telah menjadi bagian tak terpisahkan bagi para netter. Gerakan anti facebook yang saat ini mulai mengeliat karena kasus Palestina, hanya luapan emosi sesaat. Seperti persaingan di rimba belantara, maka facebook saat ini adalah Raja Rimba Dunia Maya. Jika tak ada kompetitor kuat maka Sang Raja akan tetap berkuasa dan mempertahankan kekuasaan lewat kekuatan yang dimilikinya.

Untuk saat ini, hanya satu yang bisa saya sampaikan. SALAM SUKSES UNTUK FACEBOOK… He2…