Bakti kami mahasiswa Gadjah Mada Semua… Kuberjanji memenuhi panggilan bangsaku… Di dalam Pancasilamu Jiwa seluruh nusaku… Kujunjung kebudayaanmu Kejayaan Indonesia… Bagi kami almamater kuberjanji setia… Kupenuhi dharma bakti ‘tuk ibu pertiwi… Di dalam persatuanmu jiwa seluruh bangsaku… Kujunjung kebudayaanmu kejayaan nusantara

Alunan Hyme Gadjah Mada ini kembali mengalun di ruang seminar paling prestisius di Jogja, University Center Universitas Gadjah Mada. Bulu roma-ku kembali bergidik. Anganku terbang, teringat momen 4 bulan yang lalu, saat Rektor UGM memberikan ijazah dan menjabat tanganku. Sudah hampir 4 bulan aku menjalani status sebagai alumni UGM tanpa pekerjaan apa-apa. Kursus bahasa Inggris di Jogja English Dormitory, sedikit meringankan beban sebagai pengangguran.

Sore berbalut mendung tadi, kusempatkan datang ke kampus. Menghadiri Diskusi Publik “Peran Pemimpin Muda dalam Pendidikan”, yang menghadirkan Anies Baswedan, Ph.D, Rektor Universitas Paramadina. Kehadiran Pak Anies di almamaternya ini, hendak mensosialisasikan gerakan pendidikan baru yang beliau usung, INDONESIA MENGAJAR. Sebuah program yang merekrut anak-anak muda lulusan perguruan tinggi ternama di Indonesia untuk mengabdi sebagai guru di sekolah-sekolah dasar yang ada di pelosok Indonesia.

Satu hal yang tak dapat dipungkiri, masih kentara kesenjangan pendidikan antar pelosok wilayah Indonesia. Di satu sisi, tampak kemapanan di kota-kota besar. Namun di sisi lain, realita menyedihkan terpampang jelas dari daerah pedalaman.

Ketika perjuangan memerdekan bangsa ini, semua lapisan masyarakat mengorbankan apapun yang ia miliki. Tetapi setelah kemerdekaan tercapai, masih banyak anak negeri ini yang hidup mengenaskan. Miskin secara ekonomi dan miskin secara intelektual. Bagaimana harapan cerah bisa tergapai dengan kondisi menyedihkan seperti ini?

Janji kemerdekaan yang tertulis indah dalam pembukaan UUD kita; melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan mewujudkan perdamaian dunia, telah dinikmati oleh sebagian kaum elite negeri ini meskipun anak-anak mereka yang bersekolah di lembaga-lembaga pendidikan berstandar internasional jarang mendengarkan janji kemerdekaan ini. Namun ironis, anak-anak bangsa yang bernasib tak mujur, tinggal jauh dari pusat kekuasaan, yang setiap hari senin selalu mendengar pembacaan Pembukaan UUD 1945, sangat jauh dari janji-janji kemerdekaan itu.

Apakah kita harus menyalahkan pemerintah yang tak becus mengurus negara ini? Jika hanya melampiaskan kekecewaan dan kemarahan kepada pemerintah, hanya semakin membuat hati semakin panas, apalagi ditambah tatapan sinis dari aparat keamanan yang telah bersiaga untuk dengan tameng dan alat-alat pemukul. Pemerintah memang bertanggung jawab, tapi kelas menengah dan orang-orang kaya yang telah menikmati indahnya kemerdekaan, harus turut peduli dengan nasib anak negeri yang tak memilukan hati. Para aktivis yang senantiasa bersuara lantang di jalanan, sudah saatnya mengambil peran. Tak lagi berteriak garang, tapi saat berbaur dengan realita dan terlibat dalam rekayasa perubahan.

Lewat program INDONESIA MENGAJAR, Anies Baswedan mengajak para pemimpin muda Indonesia yang telah selesai berkiprah di kampus, untuk terjun ke pelosok-pelosok negeri ini. Menyebarkan harapan, memberikan inspirasi, dan mengantungkan mimpi bagi anak-anak negeri lewat kehadiran para lulusan terbaik universitas ternama. Anak-anak muda yang berjuang untuk bangsa, sehingga tampil percaya diri di hadapan para perwira POLRI dan TNI.

Bangsa ini adalah bangsa yang besar. Tapi tetap berjumawa dengan kekayaan alam yang dimiliki sudah tidak saatnya lagi. Tiba waktunya untuk mewujudkan impian, suatu hari nanti kita bisa berteriak kepada dunia dengan bangga, INILAH ANAK-ANAK BANGSA INDONESIA. Bukan lagi merayu para investor yang membawa kekayaan negeri ini lari keluar negeri dengan sikap pengemis, INI KEKAYAAN ALAM KAMI, SILAHKAN DIEKSPLOITASI.

Alkisah, seorang anak SD bernama Abdul Karim, seksama menyaksikan sebuah eksperimen yang dilakukan gurunya. Sang guru sedang memegang cermin untuk memantulkan cahaya mentari dan mengarahkannya pada tumpukkan. “Abdul Karim”, kata sang Guru. “If you focus on one thing, and and you are seriously studying it, YOU CAN BURN THE WORLD”. Anak kecil yang bernama Abdul Karim itu akhirnya menjadi ahli fisika dengan spesialisasi rudal, dan menjadi Presiden Muslim Pertama India yang berpenduduk mayoritas Hindu. Suatu ketika Abdul Karim berkata, “Saya menjadi seperti ini, karena kata-kata Guru saya sewaktu sekolah dasar.”

Indonesia Mengajar mengajak para pemimpin muda Indonesia untuk menjadi sosok-sosok inspiratif bagi anak-anak Indonesia di seluruh persada nusantara. Berjuang untuk negeri ini. Melahirkan ribuan anak seperti Abdul Karim. Bangsa ini bisa merdeka karena pengorbanan darah pejuang. Bangsa ini akan lepas dari keterpurukkan juga lewat perjuangan. Dan Bangsa ini akan menjadi bangsa yang besar juga lewat perjuangan. Hai anak-anak muda Indonesia, saatnya ibu pertiwi menagih baktimu….

NB: Tulisan ini terinspirasi setelah mendengarkan ceramah Pak Anies Baswedan Sore ini, Jum’at 4 Juni 2010 di UC UGM…