Cinta memang tak ada habisnya untuk dibicarakan. Sebuah tema Perennial yang tak akan berakhir hatta kiamat datang. Sebuah pembicaraan kekal yang akan dibawa sampai ke Surga.

Tulisanku kali ini hendak membawa pembaca pada salah satu sekuel ataupun bagian kisah percintaan yang akrab di kalangan muslim dan muslimah sholeh/ah. Yang akan kuceritakan ini hanyalah kisah kasuistis sehingga tak bermaksud menggeneralisir ataupun memojokkan teman-teman yang sudah berkomitmen dengan akhlak Islami dengan penuh sadar dan kesungguhan hati.

Sudah familiar di kalangan aktivis dakwah Islam bahwa “pacaran itu haram“. Jangankan pacaran, bersentuhan ataupun saling bertemu mata saja, sedapat mungkin dihindari. Kalau rigid kayak gini, gimana dunk kalau dah kebelet pingin nikah atau virus cinta tiba-tiba menjerat hati?

Biasanya teman-teman aktivis dakwah akan memilih jalan “ta’aruf” (perkenalan) apabila merasa sudah saatnya bagi mereka untuk menikah. Maka lewat teman, ustadz/ah ataupun keluarga, dimediasilah “upaya” pencarian sang kekasih hati. Kadang tak jarang, upaya dilakukan sendiri dengan berbagai trik dan intrik demi memenuhi hasrat memiliki pendamping.

Kalau sang kandidat sudah didapat, dan memberi ruang untuk perkenalan lebih lanjut, maka dimulailah ajang penjajakan. Pencarian informasi lebih lanjut dan mencoba mengetahui karakter-kepribadian. Beberapa orang yang memilih menjalani proses ta’aruf ini secara “mandiri” akan lebih sering melakukan kontak. Baik itu byphone ataupun ketemuan di suatu lokasi yang kira-kira aman dari pantauan teman-teman satu pengajian.

Awalnya memang masih malu-malu. Masih bercerita tentang tema-tema agama dan nasehat untuk saling memperbaiki diri. Masih bisa menjaga adab dan sikap sehingga terlihat tak lebih dari obrolan biasa.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, semakin lama rasa sayang bersandar di hati dua sejoli itu. Kadang rindu yang tertahan demi mempertahankan kehormatan diri dari etika yang tidak Islami masih bisa ditahan.

Namun tak jarang yang tak mampu mengontrol gemuruh di dada. Mulailah mengirim sms menanya kabarnya. Beberapa hari sms-an kok rindu itu semakin mengebu, mulailah ditelpon. Hingga pada suatu titik,  telpon-telponan berlangsung berjam-jam.

Ta’aruf sudah berjalan beberapa bulan. Intensitas hubungan sudah semakin dekat. Akhirnya, sang laki-laki memutuskan untuk mengkhitbah (melamar) sang wanita. Lamaran diterima, namun harus menunggu sampai lulus kuliah dan mendapat pekerjaan. Masa yang cukup lama, bukan hitungan bulan tapi hitungan tahun.

Apa yang terjadi pada masa menunggu ini? Hati yang lemah dari godaan, jiwa yang rapuh digerogoti cinta, melanda keduanya. Merasa masa-masa khitbah (pertunangan) 99% akan berakhir dengan pernikahan, merekapun semakin intim. Sering jalan bareng mengumbar romantisme. Sering makan bareng.

Aksi-aksi berduaan semakin intens. Saat hanya ada “aku” dan “kamu”, syetanpun masuk membisiki. Akhirnya, terjadilah persentuhan. Terjadilah ciuman penuh hasrat dan saling meraba di tengah tubuh yang telah panas oleh nafsu. Tak ada lagi batas-batas agama yang mengontrol keliaran jiwa. Ya  diinginkan hanyalah kepuasan dan kenikmatan yang selama ini dipendam dan terbelenggu oleh norma.

Menurutku, cobaan yang paling berat yang dihadapi oleh aktivis dakwah adalah mengendalikan cinta. Tak sedikit dari mereka akhirnya terjerembab dalam lubang yang dulu sangat mereka benci. Mencemooh orang yang berpacaran dengan celaan setengah mati. Begitu alergi dengan persentuhan dan ciuman.

Ketika khitbah menjadi momen kritis untuk mempertahankan kehormatan tubuh, maka banyak Ustadz yang merekomendasi untuk memperpendek jeda antara khitbah dan resepsi pernikahan. Paling tidak cukup dalam hitungan bulan, 2-3-4,5 atau cukup 6 bulan saja. Kalau sampai bertahun-tahun, resikonya sangat besar. Bahkan perilaku orang yang sudah mengikat diri dalam pertunangan lebih liar daripada orang yang hanya sekedar pacaran.

Orang biasa yang berpacaran masih bisa dimaklumi oleh masyarakat apabila melakukan adegan romantis. Tapi tidak bagi orang-orang yang sudah dicap sebagai “orang sholeh atau orang alim”. Jangankan berciuman, berpegangan tangan atau berboncengan saja sudah dilihat sebagai tindakan memalukan.

Mau tak mau itulah konsekuensi ketika agama sudah melekat dalam diri. Penghakiman masyarakat kepada para aktivis kadang lebih kejam daripada orang biasa. Padahal perilaku yang diperbuat hampir sama.

Agar agama tak ternoda, agar aktivis dakwah tidak dicibir oleh orang-orang biasa, kepada para aktivis dakwah janganlah bumbui cintamu dengan romantisme anak muda yang dimabuk cinta. Bersabarlah sampai ijab menghalalkan semua. Kalau tidak, lepas saja simbol-simbol agama yang melekat ditubuhmu. Agar dakwah tak tercemar oleh aksi cintamu…